iklan zonasultra

In Memoriam Ibu Budianti Kadidaa: Jasad Boleh Mati, Tapi Pikiran Harus Tetap Hidup (Bagian 1)

Andi Syahrir
Andi Syahrir

Hari ini adalah hari ke-40 Ibu Budianti Kadidaa, mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) meninggal dunia. Hari ini –sebagaimana kelaziman masyarakat di Sultra– keluarga besar menyelenggarakan takziah. Mendoakan keselamatan dan kesejahteraan beliau di alam sana.

Ibu Budi, demikian beliau akrab disapa, hanya seumur jagung menjabat sebagai kadistanak. Boleh dikata, kiprahnya di dinas itu baru sebatas menyemai pikiran-pikirannya.

Secara personal saya dan beliau dekat. Bukan karena kami bersaudara ipar, tapi karena minat dan dunia kami sama. Kami satu frekuensi ketika berbincang. Sama-sama sarjana pertanian. Sama-sama bergelut di dunia birokrasi yang menangani persoalan pertanian.

Di awal-awal beliau mengikuti lelang jabatan, diskusi kami tentang konsep dan strategi pembangunan pertanian –terutama sektor tanaman pangan dan peternakan– begitu intens. Hasil diskusi itulah yang kemudian mengejawantah dalam produk karya ilmiahnya, yang dipaparkan di hadapan tim penguji.

Ketika menjabat sebagai kadistanak, gagasan itu mulai disemai. Tapi Tuhan punya rencana lain. Beliau kini tiada. Sebagai keluarga, sebagai mitra diskusi, saya punya tanggungjawab moril untuk terus menghidupkan pikiran-pikirannya.

Tentang gagasannya membangun pertanian. Terutama di sektor yang menjadi kewenangan distanak. Institusi yang selama beberapa tahun juga menjadi rumah besar pengabdian saya.

Ada tiga konsep besar pembangunan pertanian yang kemudian beliau ramu menjadi sebuah gerakan. Kami bersepakat menyebutnya Gerakan 3R. Apa itu? Regeneration of Farmers (Regenerasi Petani), Raising of Production (Peningkatan Produksi), dan Reinforcement of Extension (Penguatan Penyuluhan).

Agar tidak kepanjangan dan cenderung membosankan, tulisan ini tidak akan tuntas sekaligus. Kita hanya akan membahas yang pertama dulu. Regeneration of Farmers. Regenerasi Petani.

Pemikiran ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki bonus demografi berupa angkatan kerja yang terus bertambah. Namun ironisnya, tenaga kerja di sektor pertanian jumlahnya justru terus mengalami penurunan.

Salah satu alasan utama dari penurunan jumlah petani adalah stigma bahwa bertani merupakan pekerjaan yang dikenal dengan istilah 3D (dirty, difficult, dangerous). Kotor, sulit, dan berbahaya. Apesnya lagi, sudah kotor, sulit, dan berbahaya, pendapatan yang diperoleh juga rendah.

Akibatnya, masyarakat cenderung beralih profesi ke sektor informal lainnya seperti menjadi buruh atau bekerja di sektor non pertanian. Ketidakberuntungan itu tak berhenti di situ. Para petani ini tidak memiliki pendidikan formal yang memadai.

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional Tahun 2016 saja menunjukkan bahwa pekerja di sektor pertanian diisi oleh pekerja dari lulusan SD dan tidak tamat SD sebesar 69,4 persen. Hampir 70 persen.

Apa dampaknya? Kendati meninggalkan dunia pertanian dan bekerja di sektor lain, mereka juga tidak memperoleh pendapatan yang lebih baik. Bukan sekadar bahwa pendidikan mereka rendah, tapi efek ikutannya bahwa literasi mereka atas pekerjaaan lain yang rendah.

Realitas lain –dari kenyataan bahwa mayoritas petani kita berpendidikan rendah– adalah profesi petani bukanlah dambaan. Mereka menjadi petani karena tidak ada pilihan lain. Dengan kata lain, mereka menjadi petani karena keterpaksaan. Petani bukanlah pekerjaan yang membanggakan.

Anak-anak yang mereka lahirkan didorong dan terdorong untuk tak lagi menggeluti dunia pertanian. Akibatnya, petani aktif kita rata-rata berusia lanjut. Bisa kita lihat data Sensus Pertanian 2013. Proporsi petani dengan umur lebih 40−54 tahun adalah yang terbesar, yaitu 41 persen.

Proporsi terbesar kedua adalah kelompok usia lebih dari 55 tahun yang dapat digolongkan sebagai petani tua, yaitu 27 persen, sedangkan kelompok generasi muda dengan usia kurang 35 tahun hanya 11 persen.

Baik, kita coba simpulkan realitas tadi dengan lebih ringkas. Bahwa petani kita semakin sedikit dari waktu ke waktu. Yang sedikit itu pun mayoritas berpendidikan rendah. Dan yang berpendidikan rendah itu pun sudah pada tua-tua. Mereka yang tua-tua ini pun tidak bangga dengan pekerjaannya sebagai petani.

Lalu, mereka inilah yang kita harapkan untuk bisa meningkatkan produktifitas. Ini seperti menegakkan benang basah. Karenanya, harus ada gerakan yang lebih substansial sebelum berbicara tentang peningkatan produksi.

Inilah yang kemudian mengilhami lahirnya gerakan yang pertama. Regeneration of Farmers. Regenerasi petani. Persepsi pertanian harus diubah dari kotor, sulit, dan berbahaya menjadi bersih, mudah, dan aman.

Revolusi Industri 4.0 –dan saat ini kita berancang-ancang menuju 5.0– telah membuka pintu masuk kesana yang menghadirkan aritificial intelligence. Stigma bahwa pertanian itu hanya on farm (budidaya) semata harus diubah. Sentuhan-sentuhan kreatif di sektor off farm dan hilir perlu lebih diekplorasi.

Eko wisata, industri pengolahan, pemasaran terintegrasi dengan memanfaatkan teknologi informasi adalah ruang-ruang yang masih terbentang luas.

Aneka insentif, apresiasi, dan pemberdayan bagi petani muda. Pengenalan dunia pertanian sejak usia dini dengan mengemas berbagai aktifitas kreatif terkait dunia pertanian. Kurikulum sekolah yang mengakomodir masuknya konten-konten pertanian, terutama muatan lokal.

Ruang ini yang kurang atau bahkan sangat minim disentuh. Selama ini, kita hanya terus merecoki petani kita untuk meningkatkan produksi dan produktifitas. Namun kita tak pernah mau tahu bahwa mereka sudah tua. Jumlah mereka kian sedikit. Tidak memiliki pendidikan yang memadai untuk mengimbangi gerak dunia yang kian laju. Pun mereka tidak bangga lagi dengan pekerjaannya.

Karenanya, regenerasi petani adalah hal mutlak untuk dilakukan. Kabar baiknya, kementerian pertanian sudah memulainya. Daerah yang harus melokalkannya. Dengan keberpihakan kebijakan –dan tentu anggaran.***

BERSAMBUNG ….

Selanjutnya : In Memoriam Ibu Budianti Kadidaa: Jasad Boleh Mati, Tapi Pikiran Harus Tetap Hidup (Bagian 2)


Penulis: Andi Syahrir
(Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik – Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sulawesi Tenggara)

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib