iklan zonasultra

Ingin Punya Anak Berkualitas, Ini Tips dari Kepala BKKBN

Ingin Punya Anak Berkualitas, Ini Tips dari Kepala BKKBN
BKKBN - Kepala BKKBN Hasto Wardoyo bersama Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM).

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan tips kepada pasangan muda yang baru menikah untuk melakukan perencanaan atau program punya anak sebelum proses kehamilan.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, saat ini banyak pasangan muda sebelum menikah rela menghabiskan uang besar-besaran untuk prewedding dan pesta. Namun, untuk melakukan perencanaan program anak, kebanyakan dari pasangan muda enggan melakukannya.

Padahal menurut Hasto, perencanaan sebelum kehamilan perlu dilakukan agar kualitas sperma suami dan sel telur istri berkualitas, sehingga menghasilkan embrio sehat dan melahirkan anak yang berkualitas.

Baca Juga : Naik Status Tipe A, BKKBN Sultra Sebut DPPKB Konut Layak Jadi Percontohan

“Pesta bisa habi-habisan, tapi untuk perencanaan kehamilan bukan menjadi hal yang diperhatikan. Artinya untuk urusan punya anak tidak rela keluarkan biaya,” ungkap Hasto dalam acara Sinkronisasi Program BKKBN di Hotel Claro Kendari, Senin (23/12/2019).

Pakar infertilitas dan bayi tabung itu menjelaskan beberapa hal penting yang harus dilakukan pasangan suami istri sebelum melakukan hubungan suami istri. Pertama, untuk mendapatkan kualitas sperma yang baik suami harus rutin mengkonsumsi zinc dan vitamin C sebelum 75 hari melakukan hubungan intim.

Kedua, istri untuk mendapatkan sel telur dan menghindari kelahiran anak cacat harus mengkonsumsi asam folat dan vitamin. Dua hal tersebut menurutnya harus menjadi perhatian pasangan muda sebelum berencana memiliki anak.

Berdasarkan data pada 2018 hingga 2019, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, yakni 305 per 1.000 kelahiran hidup. Selama tahun 2016 misalnya, sebanyak 74 kasus ditemukan ibu mati melahirkan. sedangkan kematian ibu melahirkan tahun 2015 hanya 57 kasus.

Faktor penyebab kematian ibu dan bayi salah satunya akibat pengetahuan ibu hamil kurang, sehingga pada saat persalinan banyak terjadi pendarahan menyebabkan kematian. Belum lagi banyak dari mereka malas untuk melakukan pengecekkan kehamilan ke dokter.

Baca Juga : BKKBN Sultra Gelar Pengembangan dan Pendampingan Pelaksanaan Pokja di Wakatobi

Untuk menekan angka kematian tersebut, BKKBN pun mendorong program 4 terlalu (4T). 4T yakni melahirkan terlalu muda, terlalu banyak (anak), terlalu rapat (jarak kelahiran), dan terlalu tua.

“Selain kurangnya perencanaan, ini juga dikarenakan angka kehamilan di luar nikah juga cukup tinggi, sehingga sangat berisiko saat melahirkan,” ujarnya. (a)

 


Reporter: Ilham Surahmin
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib