Tampilan Desktop



Jadi Film Termahal, The Battleship Island Sukses Kisahkan Perjuangan Orang Korea Bebas dari Penjajahan Jepang
126 Dibaca

The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie) The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Adegan dibuka dengan para pekerja berdesak-desakan di dalam lift yang membawa mereka turun ke lokasi penambangan batu bara di Pulau Hashima, Jepang. Mereka adalah orang-orang Korea yang dipaksa bekerja di tambang milik Jepang.

Seorang pekerja yang masih belia masuk ke lokasi penambangan. Tiba-tiba terjadi guncangan. Bebatuan di atasnya berjatuhan. Ia bergegas keluar dan meminta pertolongan. Bukan mendapat pertolongan, pukulan disertai bentakan justru bertubi-tubi mendera tubuhnya. Ia dipaksa masuk kembali. Ia menangis ketakutan. Bebatuan di atasnya benar-benar ambruk dan menindih tubuh kecilnya. Ia pun tewas seketika.

Suasana makin mencekam ketika tiga pekerja yang juga masih anak-anak berupaya melarikan diri dari Pulau Hashima di tengah hujan dan badai. Namun usahanya sia-sia. Ketiganya meregang nyawa dengan tragis.

Itulah adegan awal The Battleship Island karya sutradara Ryo Seung-won. Film ini mengambil setting pada masa perang dunia kedua tahun 1945. Sekitar 400 orang Korea, yang dipaksa ke Pulau Hashima untuk menambang batu bara, berusaha melarikan diri dan kembali ke negaranya.

The Battleship Island memang menyajikan kisah pilu penjajahan Jepang atas Korea. Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Pulau Hashima. Pulau ini juga dikenal dengan sebutan Gunkanjima (Pulau Kapal Perang) dan Battleship karena bentuknya yang seperti kapal perang.

Pulau Neraka. Begitulah orang-orang Korea menyebut Pulau Hashima. Hidup di pulau ini memang seperti berada di neraka.

Setelah tenaga mereka dikuras, para pekerja hanya diberi makan ala kadarnya. Berebut makanan menjadi hal yang biasa. Makanan yang disajikan juga jauh dari kata layak. Tikus dan kecoak berkeliaran di sekitar makanan sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Para pekerja juga tinggal di asrama yang sempit dan kumuh. Pakaian mereka jauh dari kata bersih. Seperti tak cukup, upah mereka selama bekerja di tambang juga dipotong setiap bulannya.

Ratusan warga Korea diambil secara paksa dari negaranya untuk bekerja di Pulau Hashima. Mereka diangkut dengan kapal laut dari Korea menuju Hashima tanpa bisa menolak.

Ketika tiba di Hashima, mereka ditelanjangi, baik laki-laki maupun perempuan. Barang-barang mereka dirampas.

Laki-laki, baik dewasa maupun anak-anak dipekerjakan di lokasi tambang. Sedangkan perempuan dibawa ke pos hiburan untuk dijadikan wanita penghibur yang akan melayani nafsu para kroni Jepang. Tak jarang, hidup mereka berakhir tragis jika tidak mau melayani para lelaki hidung belang itu.

Sekeras apapun usaha orang-orang Korea melarikan diri dari Pulau Neraka, tak ada satu pun yang bisa lolos. Jepang tak akan membiarkan satu orang saksi lolos dan menceritakan kepada dunia luar apa yang terjadi di Hashima.

 

Film Termahal

Film ini sukses mengantarkan penonton merasakan suasana kerja paksa di Pulau Hashima. Penonton seolah berada di sana menyaksikan sendiri kebengisan penjajahan Jepang selama perang dunia II berlangsung.

The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie)

The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie)

Lee Mo-gae yang diserahkan urusan sinematografi juga sukses membawa penonton terkesima dengan lekak lekuk Pulau Hashima yang seolah nyata. Ini tak lain karena biaya produksi yang terbilang wah yakni 23 miliar won atau sekitar Rp 276 miliar.

The Battleship Island jadi salah satu film Korea Selatan termahal. Kabarnya ini lima kali lebih besar dibanding biaya yang dihabiskan rata-rata untuk pembuatan sebuah film di Korea Selatan. Ini sebagian besar digunakan untuk membuat set syuting.

Untuk totalitas, sutradara Ryo memang ngotot untuk membuat set buatan menyerupai Pulau Hashima pada tahun 1940-an. Perlu waktu tiga bulan untuk merancang set dan enam bulan untuk membangun set di Chuncheon. 66.000 meter persegi dari 132.000 meter persegi area digunakan untuk membangun berbagai fasilitas mulai dari tambang, apartemen, hingga rumah hiburan.

Di negara asalnya, film ini sukses besar. Jumlah penontonnya langsung menyentuh angka 1 juta penonton saat pertama kali dirilis pada Rabu 26 Juli 2017.

CJ Entertainment, kemudian menyatakan film ini laris terjual di 155 negara termasuk Indonesia. Setelah lima hari rilis film ini dikabarkan sudah meraup Rp 372 miliar dari penjualan tiket. Padahal, film itu dibuat dengan modal 23 miliar won atau sekitar Rp 276 miliar.

Di Tanah Air Battleship Island sudah bisa disaksikan sejak 16 Agustus 2017. Di Kendari, film ini pun sudah bisa disaksikan di Cinemax Lippo Plaza Kendari.

Meski memiliki jumlah penonton yang tinggi, film ini juga diwarnai kontroversi. Orang Korea banyak menyebut film ini tak sesuai dengan fakta sejarah karena lebih banyak menonjolkan permasalahan antar orang Korea sendiri yang saling berkhianat satu dengan lainnya.

Perjuangan Sampai Akhir

Lee Kang-ok (Hwang Jung-Min) adalah musisi yang memiliki band dan sering tampil di Kyungsung (nama lama Seoul) Hotel bersama anaknya So-hee (Kim So-ahn). Suatu hari Kang-ok berniat pergi ke Jepang dengan harapan nasibnya akan menjadi baik. Ia pun mengajak putrinya. Namun, keduanya malah berakhir di Battleship. Kang-ok menjadi pekerja tambang, dan anaknya menjadi pembantu di kediaman Daisuke Shimazaki (Kim In-wo), pemimpin Jepang di Pulau Hashima.

Choi Chil-Sung (So Ji-sub) merupakan mafia di Kyungsung (Seoul). Dia dikirim ke Battleship untuk menjadi pekerja tambang tanpa bisa menolak. Meski terkenal temperamen namun Chil-sung sebenarnya memiliki hati yang baik. Dia tidak tega melihat ketidakadilan di depannya.

The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie)

The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie)

Adapula Mal-nyeon (Lee Jung-hyun) perempuan Korea yang dikirim ke Pulau Hashima untuk dijadikan wanita penghibur. Ketiganya bertemu di atas kapal yang membawa mereka ke Pulau Hashima. Belakangan ketiganya bekerjasama untuk membebaskan para pekerja dan memulangkan mereka kembali ke Korea.

Di tambang Hashima ada seorang warga Korea bernama Yoon Hak-chul (Lee Kyoung-young). Lelaki ini sangat dihormati dan ucapannya didengarkan oleh seluruh orang Korea yang ada di tambang.

Hingga suatu saat diutuslah Park Moo-young (Song Joong-ki) seorang anggota pergerakan kemerdekaan Korea yang mendapatkan pendidikan Amerika OSS ke tambang Hashima. Tujuannya untuk membawa pergi Yoon.

Namun, Moo-young menemukan kenyataan bahwa Yoon sebenarnya adalah penghianat. Yoon lah alasan kenapa tidak ada satupun pekerja yang bisa lolos dari Pulau Hashima. Saat akan kabur, mereka meminta izin pada Yoon. Yoon kemudian memberitahu para pegawai Jepang sehingga mereka dihabisi tanpa ampun. Yoon juga bekerjasama dengan Daisuke Shimazaki untuk memotong upah para pekerja tiap bulannya.

Sebuah kecelakaan kerja kemudian terjadi di lokasi tambang. Tambang meledak dan menewaskan banyak pekerja. Juga banyak yang terluka. Pada saat yang bersamaan, pesawat tempur Amerika menyerang Jepang. Dalam waktu singkat, Pulau Hashima porak poranda.

Dalam kejadian ini Daisuke Shimazaki tewas. Tampuk kepemimpinannya kemudian diambil oleh Yamada, anak buah Daisuke. Bersama Yoon, Yamada merencanakan untuk memasukkan semua warga Korea ke dalam lokasi tambang, baik laki-laki maupun perempuan. Dewasa maupun anak-anak. Setelah itu mereka akan meledakkan lokasi tambang tersebut.

Namun rencana ini digagalkan oleh Moo-young. Tak mudah bagi Moo-young meyakinkan para pekerja Korea bahwa Yoon adalah penghianat. Setelah membeberkan semua bukti penghianatan Yoon, Moo-young membunuh Yoon tepat di hadapan para pekerja.

Setelah kematian Yoon, terjadi pertentangan diantara para pekerja. Ada yang ingin ikut Moo-young kembali pulang ke Korea, namun ada juga yang bersikukuh tinggal di Pulau Hashima dan memilih melaporkan perbuatan Moo-young ke tentara Jepang. Namun karena jumlah mereka sedikit, dengan mudah bisa dilumpuhkan. Mereka diikat di tiang dengan mulut disumbat.

Orang-orang Korea mulai menyusun rencana untuk kabur. Sayangnya saat akan menaiki tangga untuk menyeberang ke dalam kapal, aksi mereka diketahui oleh Yamada. Sirine pun berbunyi.

“Orang-orang Korea melarikan diri,” teriak prajurit Jepang. Terdengar pengumuman siaga. Bom meledak disana-sini. Peluru menembus tubuh orang-orang Korea. Mereka menjadi panik dan mulai berdesak-desakan naik ke tangga yang menyebabkan tangga patah karena tak sanggup menahan beban.

Pertempuran sengit antara tentara Jepang dengan orang-orang Korea tak bisa terbendung. Suara tembakan beradu dengan dentuman bom. Darah berceceran di mana-mana. Mayat bergelimpangan. Korban berjatuhan, baik dari warga Korea maupun tentara Jepang sendiri. Termasuk Yamada yang tewas dipenggal oleh Moo-young.

Film ini ditutup dengan pemandangan kepulan asap tebal bercampur api di langit Jepang. Itu adalah bom atom yang dijatuhkan Amerika di Kota Nagasaki, tidak jauh dari Pulau Hashima. Orang-orang Korea yang selamat hanya memandang dari atas kapal yang semakin menjauh membawa mereka kembali ke negaranya.

Meskipun film ini bergenre action, dan mengambil latar perang dunia, namun sangat menghibur. Penonton tak hanya dibuat tegang dengan adegan-adegan perkelahian yang keras. Sesekali ada scene yang membuat penonton tertawa.

Apalagi aksi Sohee yang diperankan dengan apik oleh artis cilik Kim Soo-ahn selalu sukses membuat penonton tertawa.

Kekuatan cinta ayah dan anak, Kang-ok dan So-hee menjadi nilai tambah film ini. Kang-ok adalah tipe ayah yang mau melakukan apa saja demi putrinya. Begitu pun So-hee, meski masih kecil ia tahu bagaimana melindungi ayahnya. Dan klimaksnya ketika dengan penuh keberanian ia melempar peledak ke tubuh Yamada yang telah menembak ayahnya sukses menimbulkan decak kagum para penonton.

Bagi yang menyukai romance, jangan harap akan ada scene romance di film yang diproduksi CJ Entertainment ini. Meski tanpa romance namun interaksi antara Chil-sung dan Mal-nyeon terasa manis.

 

Mengenal Pulau Hashima

Di lansir dari Wikipedia, Pulau Hashima berarti “Pulau Perbatasan”, umumnya disebut Gunkanjima (berarti Pulau Kapal Perang) adalah salah satu dari 505 pulau tak berpenghuni di Prefektur Nagasaki, sekitar 15 kilometer dari Kota Nagasaki. Pulau ini berpenghuni antara tahun 1887 hingga 1974 sebagai fasilitas penambangan batu bara.

Pada tahun 1890 perusahaan Mitsubishi membeli pulau tersebut dan memulai proyek untuk mendapatkan batu bara dari dasar laut di sekitar pulau tersebut. Pada tahun 1916 mereka membangun beton besar yang pertama di pulau tersebut, sebuah blok apartemen dibangun untuk para pekerja dan juga berfungsi untuk melindungi mereka dari angin topan.

Pemeran film The Battleship Island (Sumber Photo: @CJEnMMovie)

Jumlah penduduk pulau ini membengkak pada tahun 1959. Kepadatan penduduk waktu itu mencapai 835 orang per hektare untuk keseluruhan pulau (1.391 per hektare untuk daerah pusat pemukiman), sebuah populasi penduduk terpadat yang pernah terjadi di seluruh dunia.

Ketika minyak bumi menggantikan batubara tahun 1960, tambang batu bara mulai ditutup, tidak terkecuali di Gunkanjima. Pada tahun 1974, Mitsubishi secara resmi mengumumkan penutupan tambang tersebut, dan akhirnya mengosongkan pulau tersebut.

Pada tahun 2009 Hashima dibuka menjadi lokasi wisata. Bentuknya yang unik sempat muncul dalam film James Bond, Skyfall (2012).

Tepat di tahun 2015 lalu, UNESCO memberi predikat UNESCO World Heritage pada Pulau Hashima. Sayangnya, penobatan tersebut menuai kontroversi dari Korea karena banyaknya warga Korea yang tewas di pulau ini. (*)

 

Penulis: Jumriati

RS ZonaSultra

View all contributions by RS ZonaSultra

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0822 9264 2997

0853 4040 4947

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com