iklan zonasultra

Kendari Catat Inflasi 0,68 Persen, Bahan Makanan Jadi Penyumbang Terbesar

Kendari Catat Inflasi 0,68 Persen, Bahan Makanan Jadi Penyumbang Terbesar
RILIS BPS - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra) Atqo Mardiyanto (tengah baju batik) saat menyampaikan rilis resmi berita statistik di Kantor BPS Sultra, Selasa (2/1/2018). (Sitti Nurmalasari/ZONASULTRA.COM)

Kendari Catat Inflasi 0,68 Persen, Bahan Makanan Jadi Penyumbang Terbesar RILIS BPS – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra) Atqo Mardiyanto (tengah baju batik) saat menyampaikan rilis resmi berita statistik di Kantor BPS Sultra, Selasa (2/1/2018). (Sitti Nurmalasari/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat Desember 2017 besaran inflasi Kota Kendari 0,68 persen. Sementara, Kota Baubau inflasi sebesar 0,74 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra Atqo Mardiyanto mengatakan, andil inflasi terbesar adalah bahan makanan sebesar 0,58 persen. Andil inflasi terjadi pada ikan cakalang, kembung, layang, beras, jantung pisang, telur ayam ras, sawi hijau, dan bawang merah. Hingga bahan bakar rumah tangga dan semen.

“Ikan cakalang andil inflasinya 0,19 persen, ikan kembung 0,10 persen, ikan layang 0,08 persen. Sampai beras andil inflasinya 0,07 persen, jantung pisang, semen, dan telur ayam ras 0,04 persen. Serta bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, hingga bawang merah 0,03 persen,” jelas Atqo saat rilis resmi berita statistik di Kantor BPS Sultra, Selasa (2/1/2018).

Selain bahan makanan, sektor yang juga menjadi andil inflasi yaitu makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,01 persen. Kemudian, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,07 persen. Serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,03 persen.

Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok sandang -0,01 persen dan kesehatan -0,003 persen. Sementara, pendidikan, rekreasi, dan olahraga andilnya sangat kecil sehingga dirata-rata 0,00 persen.

Atqo menjelaskan komoditas penyumbang inflasi negatif seperti cabai rawit, cumi-cumi, jeruk, kacang panjang, terong panjang, sandal kulit, ketimun, kol putih atau kubis, sepatu, dan sandal.

“Cabai rawit andilnya inflasi negatif sebesar -0,05 persen, disusul cumi-cumi -0,02 persen. Jeruk, kacang panjang, terong panjang, sandal kulit, ketimun, kol putih atau kubis, sepatu, dan sandal andilnya -0,01 persen,” tambahnya.

Dia menyebutkan inflasi tahun kalender Desember 2017 sebesar 2,96 persen. Untuk inflasi tahun ke tahun sebesar 2,96 persen.

Menurut Atqo, secara keseluruhan inflasi yang terjadi di Sultra pada 2017 sangat terkendali. Walaupun, sempat terjadi inflasi yang sangat tinggi di Juni 2017 mencapai 3,58 persen, karena cuaca buruk dan menjelang lebaran. (B)

 

Reporter: Sitti Nurmalasari
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib