iklan zonasultra

Kisah Pilu Satu Kampung di Busel Dikucilkan Usai Satu Warga ODP Meninggal

Kisah Pilu Satu Kampung di Busel Dikucilkan Usai Satu Warga ODP Meninggal
Diskusi – Warga Lingkungan Pasar, Kelurahan Jaya Bakti, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, mendiskusikan langkan protes yang akan mereka gelar pada pemerintah karena telah menutup aktifitas pasar, Selasa (5/5/2020). Penutupan sendiri beralasan untuk mencegah penularan Covid-19. (Risno/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, BATAUGA – Buyung (47) hanya bisa pasrah setelah sejumlah warga tiba-tiba menjauhinya. Itu bermula saat kematian LN (71), tetangganya yang berstatus orang dalam pengawasan (ODP ) meninggal dunia dan dimakamkan dengan protab Covid-19 dua pekan lalu.

Kebetuan Buyung dan LN tinggal di wilayah yang sama di lingkungan Pasar, Kelurahan Jaya Bakti, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Buyung sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Dari hasil melaut itu, ia menghidupi keluarganya. Menyekolahkan 4 anaknya. Namun setelah kematian LN, penjualan hasil pancingan menjadi sulit. Buyung bingung, mau makan apa ia dan keluarganya, kalau tak ada ikan tangkapanya yang terbeli.

Bukan hanya dikucilkan, saat menjual ikan, bahkan saat mau membeli minyak tanah dan kebutuhan sehari-hari keluarga nya, ia tidak diperbolehkan lagi datang di lingkugan tetangga karena warga mengira Buyung akan menularkan virus Corona.

“ Bahkan mau mengirim untuk berbelanja sembako sudah tidak bisa. Sopir mobil takut, jangan sampai tertular corona dari kami,” ujar Buyung, yang dijumpai Zonasultra.com, pekan lalu.

Kisah Pilu Satu Kampung di Busel Dikucilkan Usai Satu Warga ODP Meninggal

Kini Buyung hanya bisa menjual hasil pancinganya pada warga sekitaran lingkungan Pasar saja. Sehari uang yang didapatkan dari jualan hasil pancingan berkisar Rp 20-30 ribu saja. Berbeda jauh sebelum kematian LN. Ikan tangkapanya bahkan terjual sampai ke kampung tetangga.

“Sudah empat hari ini saya kalau memancing hanya secukupnya saja. Untuk keluarga saja. Karena siapa juga yang mau beli, kita tidak dibolehkan menjual di kampung tetangga, mereka takut,”curhatnya.

Buyung merasa awas. Jika keadaan yang ia alami ini terus berlangsung, dia ragu bisa menghidupi keluarganya. Dia yang memiliki 4 orang anak untuk ditanggung mulai kebingungan harus menghasilkan uang dari mana.

Pasar Mambulu Sampolawa Ditutup Usai Kematian LN, ODP Corona

LN diketahui meninggal dunia sebelum mendapat perawatan medis. Dia bersama isterinya baru saja pulang dari Namlea, Maluku menumpangi KM Ngapulu.

Sejak kematian LN, dua pekan lalu atau tepatnya pada 30 April 2020, Pasar Mambulu Sampolawa telah ditutup oleh pemerintah setempat. Warga juga dilarang melakukan aktifitas di luar rumah. Kondisi inilah yang membuat resah warga.

Buntut keresahan itu, warga menggelar aksi demonstrasi kepada Pemda Busel. Terhitung sudah tiga kali demonstrasi dilakukan. Mereka menuntut pemda mencari solusi atas masalah yang mereka alami.

“Kami meminta pemda melakukan sosialisasi kepada warga terkat corona ini. Agar tidak ada ketakutan berlebihan terhadap kami,” terang La Ode Suriadi (53) seorang warga lingkungan pasar saat kami berdiskusi mendengar curhatan mereka.

Suriadi mengungkapkan, karena ketakutan yang berlebihan itu, dia bahkan nyaris adu jotos dengan warga kampung tetangga. Suriadi yang saat itu diusir saat berkunjung ke rumah saudaranya tidak terima. Dia lantas meninggikan suara dan menanyakan alasan terkait pengusiran itu.

“Saya bilang, apa dasarnya saya dibilang membawa corona ke kampung mereka. Untungnya dia tidak menjawab, kalau tidak saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” terang dia.

Para penduduk Lingkungan Pasar Kelurahan Jaya Bakti sesungguhnya nyaris sudah hilang kepercayaan pada pemerntah setempat. Pasalnya, Kata Suriadi, sejak kematian LN warga setempat tidak diperbolehkan menjual lagi, pasar ditutup. Dalam kondisi seperti ini pemerintah tidak pernah sekali pun mengunjungi mereka.

“Nanti kita sudah demo tiga hari berturut-turut itu, baru mereka datang, itu pun hanya untuk melakukan penyemprotan disinfektan saja,” ujar Suriadi.

Menurut Suriadi, warga tidak membutuhkan banyak bantuan pemerintah. Warga meminta pemerintah melakukan sosialisasi, agar penduduk lainya tidak takut kepada mereka. Dan aktifitas pasar yang tadinya tutup bisa dibuka kembali.

Hal lain atas tuduhan yang disematkan, penduduk Lingkungan Pasar, Kelurahan Jaya Bakti meminta pemerintah melakukan rapid test massal di tempat itu. Untuk mengetahui, siapa saja yang telah tertular virus corona.

“Seharusnya kalau kami disebut telah tertular corona, harus dilakukan rapid test untuk membuktikan itu. Sehingga tidak ada lagi tuduhan dan pengucilan kepada kami,” kata Suriadi.

Kisah Pilu Satu Kampung di Busel Dikucilkan Usai Satu Warga ODP Meninggal
Sudin

Menurut RT Lingkungan Pasar, Kelurahan Jaya Bakti, Sudin, permintaan rapid test dan sosialisasi itu telah ia sampaikan pada pemerintah kecamatan.

“Sudah disampaikan di Kabupaten agar melakukan rapid test, jawabannya akan diusahakan. Tapi tidak dijawab kapan tepat waktunya, kita menunggu saja,” aku dia.

Sudin hanya bisa berharap, agar masyarakat sekitar tidak terus menerus menganggap mereka sebagai inang dari covid-19.

“Kalau bisa jangan dikucilkan. Karena mata pencaharian kita macet. Contohnya ada supir mobil saja tidak bisa mencari, karena orang takut menaiki mobilnya. Karena dia tinggal di kompleks pasar. Usulnya di sini diadakan sosialisasilah, supaya kita jangan dikucilkan seperti ini,” imbuhnya. A

 


Konstributor : Risno Mawandili
Editor : Rosnia

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib