iklan zonasultra

KPU Sultra Luncurkan Empat Buku Sekaligus

KPU Sultra Luncurkan Empat Buku Sekaligus
KPU SULTRA - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman meluncurkan secara resmi empat buku tentang pemilu yang disusun oleh KPU Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui konferensi video. (Foto : Istimewa)

ZONASULTRA.COM, JAKARTA – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman meluncurkan secara resmi empat buku tentang pemilu yang disusun oleh KPU Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui konferensi video. Empat buku tersebut berjudul Dilema Badan Penyelenggara Pemilu; Data dan Informasi Permasalahan Hukum Pemilu 2019; Membaca Pemilih Sultra 2019; dan Profil Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara Terpilih Hasil Pemilu Tahun 2019.

“Pemilu itu tidak cukup untuk diingat, tidak cukup hanya untuk dilihat, tetapi setiap kejadiannya dituliskan harus disimpan dengan data yang baik,” kata Arief Budiman saat memberi sambutan dalam acara Launching dan Bincang Buku Pemilu 2019, Selasa (28/7/2020).

Arief menuturkan bahwa catatan-catatan pemilu tersebut sangat penting sebagai warisan berharga yang bisa menjadi masukan penyelenggaraan pemilu yang akan datang. Bahkan, Ketua KPU RI ini meminta rekomendasi-rekomendasi untuk revisi Undang-Undang (UU) Pemilu yang saat ini sedang dibahas pemerintah dan DPR.

“Nah saya ingin empat buku ini kemudian dicarikan lebih ringkas apa saja hal-hal yang perlu direkomendasikan dan itu merevisi pasal-pasal dalam Undang-Undang Pemilu yang telah ada. Apa saja catatan kita untuk pemilu presiden,” jelas Arief.

Ia menambahkan, dengan terbitnya buku ini akan memudahkan orang dalam mendapatkan data-data pemilu.

Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik Sultra Najib Hussain menjelaskan bahwa salah satu buku ini menjawab peristiwa meninggalnya badan ad hoc di Sultra pada saat Pemilu 2019. Kata dia, buku Dilema Badan Penyelenggara Pemilu menjawab klarifikasi bahwa enam orang yang meninggal itu bukan saat proses pemilu, tapi setelah pemilu. Najib menuturkan bahwa bukan hanya persoalan tunggal saja karena efek pemilu, tetapi ada efek bawaan.

“Jadi buku ini mencoba klarifikasi, karena ada pernyataan bahwa pemilu kemarin adalah pemilu yang menjadi tragedi meninggalnya badan ad hoc sekitar 894 orang dan di Sultra itu enam orang,” jelas Najib.

Selain itu, buku tersebut juga mengungkapkan proses awal seperti apa seleksi yang dilakukan dalam rekrutmen badan ad hoc. Permasalahan-permasalahan yang kerap timbul dalam rekrutmen badan ad hoc, maupun permasalahan pemilu lainnya.

“Ada kolusi, korupsi dan nepotisme. Selalu ada cerita seperti itu,” pungkasnya.

Empat buku yang diluncurkan tersebut dapat dijadikan referensi untuk melihat kepemiluan dan wajah politik di Bumi Anoa. (A)

 


Reporter: Rizki Arifiani
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib