iklan zonasultra

La Songo di Usia Senja, Sebatang Kara di Gubuk Kecil

La Songo di Usia Senja, Sebatang Kara di Gubuk Kecil
Kondisi La Songo (80) saat dikunjungi di gubuk kecilnya, Rabu (4/3/2020). Lelaki renta itu mulai sakit-sakitan dan lumpuh. (Risno Mawandili/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM,LABUNGKARI– Ocehan-ocehan terlontar dari lelaki renta itu. Dia meringis kesakitan pada pergelangan tubuhnya. Dia adalah La Songo (80) yang tinggal di gubuk berukuran luas 4 meter persegi.

Gubuk kecilnya itu terletak di pinggiran perkampungan samping pemakaman, Desa Baruta, Kecamatan Sangia Wambulu, Buton Tenagah (Buteng), Sulawesi Tenggara (Sultra). Nyaris roboh karena pelapukan pada kayu yang mejadi landasan. Atap gubuk La Songo dari seng bekas pun sudah karatan dan bocor.

Iklan Zonasultra

Saat musim penghujan seperti sekarang ini, kondisi sekitar tampak becek karena air hujan. Banyak nyamuk juga di sana, padahal hari baru mulai sore. Gubuk lelaki renta itu pun tampak lembab karena percikan air hujan. Di tempat itulah La Songo melewati hari-harinya kini.

Menurut informasi, Lelaki itu telah melewatkan masa tua dalam gubuknya sekira 4 tahun. La Songo di usia senjanya kini telah sakit-sakitan bahkan lumpuh. Begitulah kondisi masa tuanya.

(Baca Juga : Seorang Kakek di Baubau Hidup Sebatangkara Dalam Gua Selama 10 Tahun)

“Dia sakit-sakit tulangnya, karena sudah tua (lanjut usia). Sakitnya mungkin sudah sekitar empat tahun dia rasakan,” ujar La Daeru (50) salah seorang warga Desa Baruta, Rabu (4/3/2020).

La Songo sudah terbiasa hidup sebatang kara. Kata La Daeru yang juga merupakan anak dari kakak La Songo, lelaki renta itu tak ingin menyusahkan orang lain. La Songo sendiri tak memiliki anak istri. Bahkan belum pernah membina rumah tangga alias belum menikah.

La Songo di Usia Senja, Sebatang Kara di Gubuk Kecil
Kondisi gubuk La Songo

“(La Songo) anak keenam dari tujuh bersaudara. Bapakku merupakan kakaknya. Keluarga kami banyak tinggal di Keraton Buton, Kota Baubau. Sudah berapa kali dia (La Songo) dibawa ke sana, tapi memilih pulang di sini,” jelas La Daeru di gubuk kediaman La Songgo.

Kisah yang baru saja dijelaskan La Daeru itu terjadi sekira 6 tahun silam. Saat itu La Songo memang terbilang sudah renta, tapi belum sakit-sakitan dan masih sanggup berdiri kokoh dan berjalan.

La Songo Butuh Uluran Tangan Dermawan

Awak media mengunjungi La Songo bersama Komandan Kodim 14/13 Buton, Letnan Kolonel Infanteri, Arif Kurniawan Rabu sore (4/3/2020) sekira pukul 15.00 Wita. Arif ingin memastikan langsung kondisi La Songo setelah mendapat laporan dari Koramil Setempat.

Arif sendiri sudah punya rencana membangunkan rumah yang lebih layak huni bagi La Songo. Sedikitnya itu bisa meringankan kondisi kehidupan lelaki renta itu.

“Rumahnya dibangun di sebelah rumah ponakannya yang juga tinggal di Desa Baruta,” terang Arif.

La Songo di Usia Senja, Sebatang Kara di Gubuk Kecil
Dandim 14/13 Buton, Letnan Kolonel Infanteri Arif Kurniawan saat mengunjungi La Songo

Arif saat menjumpai La Songo memberi sedikit bahan makanan dan minuman. Dia juga berkomunikasi dengan pemerintah desa setempat, memastikan penyebab lelaki renta itu tinggal seorang diri di sebuah gubuk kecil.

(Baca Juga : Kisah La Ore, Kakek di Muna yang Bangun Masjid untuk Warga Kampung Lama)

Selain itu, Arif menyempatkan diri meninjau lokasi pendirian rumah untuk La Songo. Kata dia, lelaki sebatang kara itu akan dibangunkan rumah panggung.

“Kita juga akan berikan kasur matras untuk alas tidurnya. Gunanya, agar bisa dibersihkan jika sekali-kali dia (La Songo) membuang tinja di kasurnya,” terang Arif lagi.

Seperti demikian kondisi La Songo kini. Dia yang lumpuh tinggal di gubuknya sering kali membuang tinja begitu saja di tempat tidurnya. Arif mesti berpikir agar nanti dapat memudahkan La Songo dari segala hal.

La Songo Nyaris Terabaikan

Dulu ketika La Songo masih muda, yang masih kokoh tulangnya sehari-hari bekerja sebagai tukang angkut air di Desa Baruta. Ia akan memperoleh rupiah dari hasil jual air yang ia angkut. Saat itu jarak mata air dari perkampungan sekira 200 meter. Seingat La Daeru, profesi itu masih digeluti La Songo hingga tahun 2000-an.

La Songo belum pernah menikah, tidak pernah sakit. Juga tidak mau menyusahkan orang lain atas kehidupanya. Demikian keluarganya nyaris mengabaikan kehidupan sehari-hari La Songo, hingga akhirnya masa tua menjemput. Soal tempat tinggal, semenjak masih muda La Songo sudah terbiasa hidup sendiri.

“Dia lahir di Desa Baruta ini. Dia juga selama ini (dari semenjak masih muda) tidak pernah minta bantuan sama keluarga soal kehidupan,” terang La Daeru.

Kepala Desa Baruta La Bakri
La Bakri

Masa tua La Songo juga nyaris terabaikan oleh pemerintah setempat. Lelaki renta itu minim dapat bantuan sosial dari pemerintah daerah (pemda) setempat. Kalaupun ada, sebatas beras miskin (raskin) yang merupakan jatah untuk tiap-tiap warga tidak mampu.

La Songo tidak dapat bantuan dari Kementerian Sosial, Program Keluarga Harapan (PKH). Parahnya, dia tidak punya kartu tanda penduduk (KTP).

Kata Kepala Desa Baruta, Bakri, pihaknya pernah mengusulkan bantuan rumah kepada Pemerintah Kabupaten Buton Tengah tahun 2018 lalu. Namun hal itu tidak terealisasi lantaran belum adanya lagi program bedah rumah dalam perencanaan pemerintah kabupaten.

“Kami akan mencoba mengusulkan lagi bantuan untuk La Songo kepada pemerintah kabupaten. Sembari kami juga akan mengurus KTP-nya,” aku Bakri.

Bakri sendiri baru dua tahun menjabat Kepala Desa Baruta. Selama masa pemerintahannya di desa, belum pernah mengusulkan bantuan kepada Pemkab Buteng untuk La Songo. Alasannya karena selama ini dia mengira La Songo telah tinggal ke keluarganya yang ada di Keraton Buton, Kota Baubau. (SF)

 


Kontributor : Risno Mawandili
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib