Liang Kabori, Gua Terkaya di Dunia yang Ada di Kabupaten Muna

Liang Kabori muna
Liang Kabori

ZONASULTRA.COM, JAKARTA – Siapa sangka gua terkaya di dunia berada di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Adalah Liang Kabori, gua yang telah dijadikan cagar budaya sejak 1930 oleh Belanda. Dalam bahasa Muna sendiri Liang berarti gua dan Kabori berarti tulis, sehingga Liang Kabori dapat diartikan gua bertulis atau bergambar. Gua yang terletak di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia ini memiliki keindahan yang luar biasa.

Lantas apa yang membuat gua ini menjadi gua terkaya di dunia? Bukan karena gua ini memiliki harta karun di dalamnya melainkan tulisan atau lukisan yang berada di gua inilah yang membuat gua ini sangat endemik. Kammarudin Thanzibar selaku orang yang pernah mendampingi beberapa professor ahli gua dari Perancis mengatakan bahwa mereka tercengang dengan keindahan Liang Kabori ini.

“Menurut para ahli gua internasional, Liang Kabori ini termasuk gua terkaya di seluruh dunia. Karena jumlah gambar yang menjadi ornamen Liang Kabori ini ratusan gambar,” terang Kammarudin ditemui beberapa waktu lalu.

Liang Kabori

Sementara gua-gua yang sering mereka temukan di seluruh dunia biasanya tunggal. Seperti hanya bekas telapak tangan atau jejak kaki. Berbeda dengan gua-gua lainnya, Liang Kabori memiliki anega ragam gambar yang ada di dinding gua. Ada gambar layang-layang, gambar kuda, gambar matahari, gambar orang berburu, gambar perahu dan lain sebagainya.

Lukisan-lukisan tersebut tidak terjadi dengan sendiri melainkan digambar oleh manusia. Sebagian orang mengatakan bahwa zat yang digunakan untuk menggambar tersebut adalah darah. Namun menurut para ahli jika dilukis dengan darah lama-lama akan terhapus apalagi jika terkena embun.

Rupanya di seluruh dunia zat atau bahan yang digunakan untuk membuat lukisan sebenarnya sama yakni dari buah pohon yang dikunyah seperti pinang menghasilkan cairan. Cairan tersebutlah yang digunakan untuk menggambar.

Selain itu, keindahan stalaktit dan stalakmit sangat dapat dinikmati para pengunjung. Terdapat mata air yang menetes dari dinding gua. Jika mengunjungi gua ini, maka wisatawan dapat merasakan kesejukan dan ketenangan di sini. Tak ayal jika gua ini dijadikan tempat pertapaan orang-orang tua terdahulu.

Sebuah Peradaban

Dari gambar-gambar yang tertera di dinding Liang Kabori ini dapat dipelajari bahwa ada sebuah peradaban manusia purba. Ada sebuah gambar orang sedang berburu, selain itu gambar orang yang sudah mengenakan pakaian dapat disimpulkan manusia pada saat itu telah mengenal pakaian.

Liang Kabori“Kalau dilihat gambarnya mereka sudah menggunakan kerajinan-kerajinan dari logam untuk berburu. Ada gambar perahu, ini berarti zamannya sesudah zaman batu karena mereka sudah mengenal logam, sudah mengenal besi,” terang Kammarudin.

Selain itu ada lukisan yang menggambarkan orang menaiki kerbau atau kuda memperlihatkan sebuah struktur masyarakat. Mereka sudah mengenal ketatanegaraan dan sudah mengenal bagaimana hidup berkomunitas.

“Jadi ada pemimpin, ada perempuan sudah menggunakan pakaian. Ini yang kemudian oleh para ahli gua itu membaca dan menceritakan mereka sudah dalam tahapan manusia purba yang mengenal peradaban yang lebih maju dibandingkan di tempat-tempat lain,” jelas pria yang pernah menjadi asisten ahli gua tersebut.

Liang Kabori

Satu kesimpulan para ahli gua dapat diketahui ternyata manusia purba tersebut tidak tinggal di dalam gua. Mereka tinggal di depan gua atau di mulut Liang Kabori dan membangun ornamen-ornamen seperti mereka hiasi rumah sendiri. Manusia purba yang tinggal di Liang Kabori tersebut terdiri dari beberapa suku meskipun dalam jumlah yang kecil.

Tentu saja hal ini sangat menarik pengunjung apalagi bagi pecinta speleology (ilmu yang mempelajari gua termasuk pembuatannya, struktur, fisik, sejarah, dan aspek bilogis). Liang Kabori ini juga dapat memberikan pelajaran bagi para akademisi terutama mereka yang mempelajari sejarah. Selain menjadi tempat wisata, Liang Kabori dapat menjadi sumber keilmuan. Tertarik mengunjungi Liang Kabori ini, datanglah ke Muna. Mai te Wuna. (A)

 


Penulis: Rizki Arifiani
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib