iklan zonasultra

Masjid Sangia Bharakati, Masjid Tertua di Wilayah Muna Barat

Masjid Sangia Bharakati
Masjid Sangia Bharakati

ZONASULTRA.COM, LAWORO – Kabupaten Muna Barat (Mubar) yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki banyak tempat bersejarah untuk wisata sejarah, diantaranya adalah benteng-benteng tua di wilayah Kecamatan Tiworo Kepulauan. Di benteng tersebut, terdapat masjid tertua.

Masjid Sangia Bharakati namanya. Masjid ini dibangun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1496. Masjid ini dibangun oleh Raja Tiworo yang bernama Sangia Bharakati atau La Ode Asamana.

Raja pertama dari Benteng Tiworo ini adalah Sangia Rana. Sedangkan Sangia Bharakati adalah raja kedua, tetapi raja pertama untuk orang asli Tiworo.

(Baca Juga : Dulu Sepi Jamaah, Masjid di Konsel Ini Kini Digandrungi karena Keunikannya)

Masjid Sangia Bharakati ini berada di tengah-tengah Benteng Tiworo yang terletak di Kelurahan Waumere, Kecamatan Tiworo Kepulauan (Tikep).

“Awal dibangun masjid ini memiliki ukuran 7×7 meter dan sekarang menjadi 9×9 meter,” kata La Ode Amir, Ketua Pengurus Masjid Sangia Bharakati ditemui di Benteng Tiworo, Rabu (6/6/2018).

Kata La Ode Amir, saat awal dibangun, masjid ini masih berbentuk seperti rumah dengan berdinding papan dan beratapkan daun pohon rotan. Nanti pada tahun 1942, baru masjid ini direnovasi sedikit tanpa meninggalkan bangunan awalnya.

“Sejak dibangun Masjid Sangia Bharakati ini sampai sekarang yang masih tersimpan itu yakni beduk dan kubah yang terbuat dari kayu. Sebenarnya podiumnya juga masih yang lama, hanya saja sebagian kayu yang ada di podium itu dicuri. Kayu yang ada di podium tersebut memiliki lebar lebih dari 1 meter,” tuturnya.

(Baca Juga : Masjid Raya Raha, Masjid Tertua di Kota Raha)

Sejak dibangun, bentuk bangunan dari masjid ini belum banyak berubah sampai sekarang belum banyak berubah. Dahulu itu, masjid ini memilik fondasi lebih dari ukuran manusia berdiri. Hanya saja, pada saat pemerintahan Jepang, batu yang menjadi fondasi masjid itu diambil untuk pembuatan jalan dan jembatan sebagai tempat bersandarnya perahu di sekitar benteng ini.

Pada tahun 1984, masjid ini mulai direnovasi menjadi bangunan permanen dan ukurannya diperbesar menjadi 9×9 meter. Ada sebagian yang masih dipertahankan sampai saat ini, seperti beduk, kubah, fondasi, dan podiumnya.

“Jadi yang ada sekarang itu tinggal beduk, kubah yang terbuat dari kayu,” jelasnya.

La Ode Amir menambahkan, sampai saat ini Masjid Sangia Bharakati ini masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menunaikan salat wajib, salat tarawih, dan salat id. (B)

 


Reporter: Kasman
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib