iklan zonasultra

Membayangkan Terminal Pelabuhan Nusantara Kendari Tanpa Asap Rokok

Andi Syahrir
Andi Syahrir

Ini ruang tunggu Pelabuhan Nusantara Kendari. Pelabuhan yang menghubungkan Kendari dengan kabupaten kepulauan yang ada di Pulau Buton dan Muna.

Jarang sekali saya memanfaatkan pelabuhan ini. Saya lupa kapan terakhir saya masuk ke sini. Sudah bertahun-tahun. Tidak ada yang berubah drastis.

Toiletnya masih begitu-begitu saja. Tempat sampahnya hanya satu titik. Di sudut depan dekat kamar mandi. Dua buah kipas angin tua diselimuti debu tebal menghitam, diam tak bergerak. Untung langit-langitnya tinggi sehingga udara panas sedikit teredam. Meski agak jauh juga dari sebutan sejuk.

iklan zonasultra

Kalau ada yang berubah, hanya beberapa gambar-gambar tempat wisata yang dipasang di dinding. Sebuah televisi yang terus menerus menayangkan film India di sebuah stasiun tv (sepanjang saya duduk di ruangan itu). Dan sebuah layar tv besar yang berisi informasi dari BMKG. Serta dinding bagian bawah yang sedikit diperindah bermotif kayu. Atau barangkali memang kayu.

Di tengah perubahan yang sedikit itu, ada yang sama sekali tidak berubah. Asap rokok. Masih tebal. Orang-orang masih bebas merokok di ruang tunggu itu. Tak peduli di dalam ada bayi, anak-anak, orangtua, orang sakit, ibu hamil. Semua leluasa kebal-kebul.

Mereka tidak bisa disalahkan. Sebab tidak ada larangan. Sebab orang Indonesia baru mau tertib kalau ada aturan. Tidak ada kesadaran yang tertanam dalam diri bahwa di ruang publik yang seperti ini, kita harus menahan diri untuk beraktifitas yang dapat merugikan orang lain. Termasuk merokok.

Pengelola terminal yang perlu memikirkan ini. Membuat aturan tegas yang diawasi ketat. Kita bisa tertib di pelabuhan udara, kenapa di pelabuhan laut tidak bisa?

Ini sudah lama. Zaman sudah jauh bergerak. Banyak hal yang sudah berubah menjadi lebih baik. Kita semua menyaksikan banyak kemajuan di luar sana yang patut ditiru.

Entah kenapa kita tidak berubah. Barangkali karena memang kita tidak peduli. Ah, betapa malang rakyat yang pengelola ruang publiknya adalah sekumpulan orang-orang cuek.***

 


Oleh : Andi Syahrir
Penulis Merupakan Alumni UHO & Pemerhati Sosial

Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib