Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi

Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi
PETILASAN - Petilasan Mbah Maridjan si juru kunci Gunung Merapi. Lokasi ini merupakan titik dimana jasad Mbah Maridjan ditemukan usai erupsi gas Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 silam di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta. Sabtu (10/2/2018). (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, YOGYAKARTA – Letusan Gunung Merapi di Dusun Kinahrejo, Kecamatan Umbulharjo, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta delapan tahun silam hingga saat ini masih meninggal duka yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, terkhusus bagi warga setempat. Mereka harus kehilangan keluarga dan harta benda akibat bencana alam itu.

Edisi kali ini Zonasultra berkesempatan mengunjungi sejumlah kawasan di kaki Gunung Merapi bersama Pertamina MOR VII Sulawesi dan tim jurnalis se-Sulawesi, Sabtu (10/2/2018) pekan lalu. Tempat ini telah diubah menjadi lokasi wisata populer di Jogjakarta namanya Wisata Volcano Merapi. Diantaranya adalah museum gunung merapi, batu alien dan kawasan petilasan Mbah Maridjan serta bungker.

Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi
Kawasan petilasan Almarhum Mbah Maridjan di Dusun Kinaherjo. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Uniknya, meski kawasan ini telah diporak porandakan oleh erupsi abu vulkanik, namun masih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi lokasi tersebut guna menyaksikan secara langsung sisa-sisa peninggalan Merapi.
Jika Anda berkenan mengunjungi kawasan wisata Gunung Merapi, kami sarankan Anda mengunjungi salah satu lokasi bersejarah yakni rumah sang juru kunci Gunung Merapi.

Saat ini kawasan rumah Mbah Maridjan telah disulap layaknya sebuah taman yang dilengkapi dengan benda-benda peninggalan erupsi, serta kenangan berupa foto saat kejadian mengerikan tersebut. Ketika menyaksikan secara langsung, membuat siapa saja akan merasakan betapa besarnya peristiwa yang menelan korban jiwa sekitar 100 jiwa. Bangunannya yang ada di sana juga khas, dan masih kental kedaerahannya luasnya sekitar setengah hektar. Ada pula lokasi untuk tempat berbelanja pakaian dan makanan khas Yogyakarta.

Kemudian, ada satu spot yang diberi nama petilasan. Lokasi itu selalu menjadi incaran para pengunjung yakni titik di mana jasad Mbah Maridjan ditemukan usai erupsi terjadi. Tempat ini berada di bangunan paling kanan atau tepat berhadapan dengan pendopo. Dilengkapi dengan foto Mbah Maridjan yang sedang memangku wajahnya dengan mengenakan songko hitam sambil tersenyum, ukurannya cukup besar.

Di depan foto tersebut dibuatlah sebuah susunan batu yang menyerupai kuburan, konon katanya itulah titik di mana terakhir kalinya Mbah Maridjan ditemukan dalam keadaan bersujud.

Menuju ke arah sebelah kiri dari petilasan Mbah Marijdan terdapat sebuah museum foto dan benda-benda peninggalan pasca erupsi. Di antaranya rangka mobi, motor, panci, piring, gelas dan benda-benda lainnya. Salah satunya yang menarik perhatian adalah rangka mobil yang digunakan untuk mengevakuasi warga serta sang juru kunci sebelum meledaknya Gunung Merapi.

Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi
Mobil evakuasi Suzuki APV yang digunakan untuk mengevakuasi warga setempat. Kendaraan menjadi saksi bisu meninggalkan relawan PMI Tutur Priyanto dan wartawan Vivanews Yuniawan Wahyu Nugroho. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Selain itu Anda juga dapat berjumpa langsung dengan istri Mbah Maridjan yakni Ponirah, namun ada juga yang menyebutnya Mbah Putri (80). Wajahnya masih terlihat awet muda dan menerima siapa saja pengunjung untuk berfoto bersamanya dengan senyuman.

Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi
Foto Selfie awak Zonasultra dan Istri Almarhum Mbah Maridjan Ponirah yang usianya 80 tahun. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Diketahui pada tanggal 26 Oktober 2010 sekitar pukul 17.30 WIB, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Wartawan VIVA News Yuniawan Wahyu Nugroho tiba di Kinahrejo untuk memberi tahu kepada warga bahwa telah terjadi erupsi Gunung Merapi sejak pukul 17.02 WIB. Dengan segala upaya mereka bertiga meyakinkan warga untuk turun dan meninggalkan dusun Kinahrejo ke barak pengungsian.

Pukul 18.15 WIA sirine tanda bahaya dibunyikan, saat itu warga sedang menjalankan shalat magrib. Mobil Suzuki APV AB 1053 DB menjadi satu-satunya kendaraan yang dipakai untuk mengevakuasi warga. Karena keterbatasan sehingga masih banyak warga yang tidak terangkut. Setelah menurunkan warga di barak pengungsian Umbulharjo Tutur dan Yuniawan kembali naik menuju Kinahrejo untuk menyelamatkan lebih banyak lagi warga yang belum terangkut. Salah satunya sang juru kunci Mbah Maridjan.

Keduanya berusaha membujuk Mbah Maridjan untuk meninggalkan rumahnya karena kondisi sudah darurat, namun sang juru kunci memilih tidak ikut sebelum melaksanakan ibadah shalat Isya. Akhirnya kedua relawan ini menunggu di halaman rumah. Naasnya, sekitar pukul 18.50 WITA rumah tersebut diterjang awan panas dan seketika itu keduanya ikut terbakar bersama mobil evakuasi ditambah satu orang relawan lainnya dan Mbah Maridjan yang tengah melaksanakan shalat Isya. Mobil tersebut dipindahkan dari Kinahrejo ke dusun Pangkurejo pada tanggal 29 Oktober 2010.

Tak sampai di situ tanggal 5 November 2010, letusan terbesar dalam kurun waktu lebih dari satu abad telah membakar ratusan pemukiman, sehingga ribuan orang meninggalkan rumahnya dan mengungsi ke barak pengungsian dan ditutupnya landasan penerbangan Bandara Adi Sucipto.

Abu dan kawah panas menyembur dari mulut Gunung Merapi membumbung tinggi ke langit hingga pagi hari, kepanikan terjadi di jalanan, sebagian orang melarikan diri dalam kegelapan.

Hal itu sontak membuat jumlah pengungsi membengkak dari 10.000 menjadi 30.000 jiwa. Barak pengungsian akhirnya dipindahkan ke sebuah stadion olahraga yang berjarak sekitar 25 km dari puncak Gunung Merapi. Tahun 1930 Gunung Merapi pernah meletus dan menewaskan 1.300 jiwa. Namun letusan 2010 ini adalah letusan terbesar sejak 1872.

Eksistensi gunung Merapi bagi masyarakat Yogyakarta tak lepas dari mitos adanya hubungan antara ‘penunggu’ Merapi dengan lingkungan keraton Yogyakarta. Kondisi ini diperkuat dengan adanya utusan dari keraton Yogyakarta yang menjadi juru kunci Merapi.

Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi
Lokasi penambangan tempat dimana menjadi aliran lahar atau muntahan gunung Merapi yang berada di kawasan Batu Alien, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Juru kunci bertugas memberi informasi tentang gunung yang didaki, memberi tahu apa yang dilarang, di mana jalur pendakian, penyelamatan dan lain-lain. Selain bertugas menjaga gunung dengan terawangan berdasar pengalaman atau ilmu titen dan menggabungkannya dengan firasat sebagai warga Merapi yang telah terasa sejak kecil. Tugas paling utama tentu saja memberi informasi kepada penduduk sekitar bila aktivitas Merapi yang dirasa membahayakan.

Selain itu, juru kunci Merapi juga adalah anggota abdi dalem, diangkat langsung oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengemban misi berat tersebut. Sebagai abdi dalem, juru kunci juga melayani setiap kali keluarga keraton melakukan ritual Merapi.

Namun dibalik kisah menyedihkan serta berbau mistis tersebut, Anda pun dapat menikmati keindahan alam di kaki Gung Merapi. Untuk mencapai, seluruh kawasan wisata Anda harus menyiapkan mental dan fisik yang fit. Sebab hanya satu pilihan kendaraan yang dapat digunakan untuk menelusuri seluruh lokasi wisata yakni off road menggunakan mobil jeep. Tentunya ini dapat menguji adrenalin Anda karena medan yang terjal ditambah batuan Gunung Merapi yang berhamburan di jalan. Kawasan yang dulunya merupakan perumahan warga kini menjadi kawasan hijau yang ditumbuhi rerumputan untuk pakan ternak.

Menelusuri Rumah Mbah Maridjan di Kaki Gunung Merapi
Museum Merapi yang menjadi tempat sisa-sisa peninggalan erupsi gas Merapi. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Saat ini pemerintah setempat telah memberikan larangan kepada warga untuk membangun rumah permanen di bawah kaki gunung Merapi dengan radius sekitar 10 km. Namun kenyataanya masih ada beberapa warga yang membangun pemukiman, padahal telah ada larangan.

Adapun lokasi yang wajib dikunjungi lainnya adalah museum Merapi. Di sana Anda dapat melihat perabotan rumah tangga yang masih dipenuhi abu merapi, rangka kendaraan roda dua serta rangka hewan ternak warga serta batu alien.

Ada Batu Alien yang menjadi lokasi unik lainnya dan penuh cerita. Konon kabarnya batu Alien itu merupakan muntahan dari erupsi Merapi di bagian sisi selatan kawasan Jambu, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Batu ini terbentuk dari erupsi yang terjadi pada 5 November 2010 silam. Disebut batu alien karena jika diperhatikan dengan seksama mirip dengan wajah manusia, dan konon katanya batu itu berusaha untuk dipindahkan namun sama sekali tidak ada yang dapat melakukanya. Di sisi kiri kawasan ini merupakan aliran erupsi batu vulkanik dari Merapi dan saat ini telah menjadi lokasi penambangan. (A)

 


Reporter : Ilham Surahmin
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib