Mengais Rezeki dengan Berburu Sampah Plastik di Teluk Kendari

Mengais Rezeki dengan Berburu Sampah Plastik di Teluk Kendari
TELUK KENDARI - Nene Rada (68) saat hendak menyandarkan sampannya ke darat usai mengumpulkan sampah plastik di Kawasan Teluk Kendari, Rabu (6/2/2019). (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Tak hanya daratan, laut kini juga menjadi ladang rezeki bagi pemulung yang tinggal di Kelurahan Petoaha dan Petoaha Pantai, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Setiap hari, mereka mendayung sampan dari pagi hingga siang hari untuk mengumpulkan sampah plastik di Teluk Kendari.

Salah satunya Nene Rada (68). Perempuan Suku Bajo ini sudah melakoni pekerjaan tersebut sejak 6 tahun yang lalu. Tak ada pilihan lain untuk mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski sudah berumur lebih dari setengah abad, namun ia masih kuat mendayung sampan dari pagi hingga menjelang siang hari.

Pendengaran janda tiga anak ini juga sudah tidak normal lagi. Namun penglihatannya masih cukup terang untuk menyisir wilayah Teluk Kendari dari Pelabuhan Kayu, Pelabuhan Nusantara, Pelabuhan Ferry Wawonii bahkan terkadang memasuki area Kendari Beach guna mengumpulkan sampah plastik setiap harinya.

Pada awal Februari 2019, Zonasultra.com mengunjungi kediaman Nene Rada. Ketika kami tiba, tampak Nene Rada baru kembali dari mengumpulkan sampah plastik. Saat sesi wawancara, kami dibantu oleh pihak keluarga agar sang nenek dapat menjawab setiap pertanyaan yang kami berikan.

“Tidak ada pekerjaan lain, sudah lama saya kumpulkan sampah begini,” ungkapnya dengan dialek Suku Bajo-nya.

Dalam sehari biasanya Nene Rada mengumpulkan sampah sekitar 4 karung. Namun jika dalam keadaan sepi ia hanya mampu mengumpulkan satu karung bahkan setengah karung sampah plastik. Sampah plastik yang dikumpulkan adalah botol minuman kemasan, gelas minuman kemasan, toples dan jenis plastik lainnya.

Sebelum dijual, sampah tersebut dikumpulkan terlebih dahulu selama satu minggu. Setelah terkumpul banyak, maka ia akan menghubungi penadah sampah untuk menjual sampah plastiknya.

Mengais Rezeki dengan Berburu Sampah Plastik di Teluk Kendari

“Ya, kalau sudah satu minggu biasanya bisa sampe 25 kg sampai 30 kg kalau saya. Tapi kalau semua pemulung kumpul sama penadah bisa sampe 500 kg,” kata Nene Rada.

Setiap kilo sampah plastik dihargai Rp1.700. Jadi pendapatan yang didapatkan Nene Rada dalam seminggu berkisar Rp45.000 hingga Rp51.000. Baginya, uang ini cukup untuk membeli beras dan kebutuhan pokoknya.

Saat mencari sampah plastik di Teluk Kendari, ia kadang ditemani sang cucu Laras (14). Laras hanya lulus sekolah dasar dan tidak melanjutkan pendidikannya karena keterbatasan biaya.

Berharap Bantuan Sampan

Mengais Rezeki dengan Berburu Sampah Plastik di Teluk Kendari

Nene Rada berharap pemerintah dapat memberikan bantuan perahu untuk memudahkan aktivitasnya di laut karena sampan yang digunakan saat ini bukan miliknya, melainkan milik orang yang dipinjamkan kepadanya.

Ketua RW 05 Kelurahan Petoaha Pantai, Syukur (41) ditemui di kediamannya membenarkan jika Nene Rada merupakan warganya yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung sampah plastik di Teluk Kendari.

Ia menyebutkan ada sekitar 12 orang warganya yang memulung sampah di laut. Selain itu adapula yang mencari kalandue bagi mereka yang tidak memiliki perahu.

“Dulu memulung itu bukan kerjaan tetap, karena waktu itu harganya murah cuma sekitar Rp700 sekarang kan lumayan bisa lebih dari itu dan dirasakan menguntungkan apalagi ada penadah,” jelasnya.

Kendala saat ini yang dihadapi pemulung adalah tidak adanya perahu atau sampan yang lebih layak guna mempermudah aktivitas mereka. Selain untuk mencari nafkah, ini juga dapat membantu pemerintah mengurangi sampah plastik di laut, khususnya di kawasan Teluk Kendari.

Mengais Rezeki dengan Berburu Sampah Plastik di Teluk Kendari

Syukur sudah menyampaikan usulan sampan tersebut ke pemerintah melalui forum diskusi di kelurahan dan kecamatan. Salah satu program yang bakal dilaksanakan tahun ini, yakni pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) khusus Kelurahan Petoaha.

Ini merupakan program pemerintah untuk membeli sampah plastik yang dikumpulkan masyarakat Kecamatan Nambo dan sekitarnya dari Teluk Kendari.

Ia bun berharap perhatian lebih dari pemerintah kepada pemulung sampah plastik di Teluk Kendari dapat ditingkatkan. Pasalnya risiko kerja cukup berbahaya jika menggunakan sampan yang kurang layak dengan mendayung.

“Artinya kan mereka juga membantu pemerintah membersihkan teluk Kendari dari sampah plastik, selain itu masyarakat juga bisa semangat dalam bekerja. Apalagi kan mereka tidak menjadi bagian dari pasukan kuning dinas kebersihan, jadi mohon perhatiannya,” ujarnya.

Terkait warganya yang putus sekolah di RW 05, Syukur menyebutkan ada sekitar 40 persen dari jumlah anak wajib sekolah tidak bersekolah. Sayangnya, data itu tidak dapat disebutkan.

“Kemarin ada datanya, tapi sudah saya setor sama pemerintah. Tapi sekitar 40 persen anak wajib sekolah di sini putus sekolah. Sisanya 60 persen alhamdulilah bersekolah, rata-rata warga disini dari hasil mulung juga dipakai untuk biaya anaknya sekolah,” ujarnya.

Salah satu faktor banyaknya anak putus sekolah di wilayah itu adalah pemikiran orang tua yang menganggap pendidikan bukan hal yang terlalu penting, apalagi biaya pendidikan dinilai cukup mahal bagi mereka. Pemerintah dan sejumlah organisasi peduli pendidikan juga sudah sering melakukan pembinaan di wilayah tersebut guna mendukung program wajib belajar 12 tahun.

Selain Nene Rada, wanita usia lansia yang juga sehari-hari berkativitas mengumpulkan sampah di Teluk Kendari adalah Tade, Mboning, Mbo Kinde, Ka Caming, Jompi, Nuru, Majang Ndoyo, dan Mbisi. (*/SF)

 


Reporter: Ilham Surahmin
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib