Mengenal Dunia Forensik Lewat Sosok Dokter Polisi Mauluddin

Komisaris Polisi (Kompol) DR. dr. Mauluddin Mansyur, SH., MH., M.Kes., Sp.F.
Komisaris Polisi (Kompol) DR. dr. Mauluddin Mansyur, SH., MH., M.Kes., Sp.F.

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Melihat kerja-kerja dokter forensik, salah satunya adalah ketika mereka mengotopsi mayat di kamar jenazah. Jangankan melihatnya secara langsung, untuk bertahan di kamar jenazah, tempat pembedahan, dibutuhkan keberanian yang tak biasa untuk terbiasa.

Salah satu dari dua dokter forensik di Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah dokter Mauluddin. Dokter polisi yang ngetop dengan akun Instagram detektif_daeng.jenaka (2.305 pengikut) ini sudah jadi pekerjaan inti urusan bedah membedah jenazah atau mayat. Bersama tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Kendari, tangannya lincah membelah dan menyayat, sebagaimana koki yang lihai memotong daging.

Salah satu pengalaman penulis melihat langsung pembedahan itu pada Sabtu malam, 4 Agustus 2018, di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Sekitar pukul 19.30 Wita, Rumah Sakit Bhayangkara Kendari kedatangan jenazah dari Bombana inisial TD (51) untuk diotopsi karena keracunan saat meminum kopi.

Bagi masyarakat awam seperti penulis, hanya mampu bertahan di ruang pembedahan itu sekitar 2 sampai 3 menit, karena bau menusuk dari jenazah, belum lagi pemandangan tubuh manusia yang terbelah dengan organ tubuh menyembul keluar.

(Baca Juga : Cerita Kepsek MTsN 2 Kendari Jadi Nomor Satu di Indonesia)

Terlihat, Mauluddin dengan tampilan khas dokter yang hendak melakukan operasi, sebagai kepala tim. Ia dibantu beberapa anggota tim medis dengan peralatan otopsi seperti alat pemotong, pisau, gunting dan lainnya. Selama kurang lebih satu jam tubuh sang jasad beradu dengan alat-alat bedah.

Jenazah itu dibedah bagian kepala untuk melihat organ otak. Dibelah rongga dada untuk melihat organ jantung, paru-paru, dan sekitarnya. Perut dibelah untuk melihat usus, ginjal, hati, dan organ dalam lain. Semua diamati secara teliti apakah ada kelainan.

Setelah itu, bagian tubuh yang telah dibelah dijahit kembali, bentuknya kembali seperti sedia kala, seperti potongan puzzle yang direkatkan oleh berpuluh jahitan. Pada jenazah yang sudah diotopsi tampak hanya jahitan-jahitan, tak ada organ yang menyembul keluar.

Andaipun ada organ yang diambil, maka jumlahnya hanya sekitar 100 miligram untuk kepentingan pemeriksaan di laboratorium, untuk melihat penyakit atau kelainan apa pada organ yang berhubungan dengan penyebab kematian. Seratus miligram itu sudah diperhitungkan tak akan bisa dijual untuk transplantasi ilegal seperti kasus-kasus pasar gelap perdagangan tubuh manusia.

Dalam kasus otopsi TD yang diambil adalah isi lambung sesuai dugaan penyebab kematian karena meminum kopi. Cairan lambung itu ditempatkan dalam wadah kecil lalu dibawa ke laboratorium. Hasilnya sesuai dugaan awal, penyebab kematiannya karena racun tradisional bajabu, yang mengandung sianida.

“Keluarga korban biasanya khawatir dengan otopsi karena curiga bahwa ada organ yang diambil. Itulah gunanya, sebelum memulai otopsi perlu persetujuan dari keluarga dan kita jelaskan semua proses otopsi. Andaipun tidak maka kita berusaha meyakinkan, kalaupun tetap tidak maka kita serahkan kembali ke penyidiknya,” ujar Mauluddin.

Dalam melakukan otopsi, Mauluddin tercatat sudah lebih dari 50 kali menggali kubur, sedangkan untuk otopsi biasa sudah lebih 300 kali. Jenazah dalam kubur yang pernah ditanganinya ada yang sudah dikubur 2 tahun, setahun, dan adapula yang baru seminggu dikubur.

Jenazah yang sudah 2 tahun dikubur masih bisa diidentifikasi tulang-tulangnya, misalnya luka tembak masih bisa kelihatan. Penggalian kubur juga biasanya hanya untuk menentukan identitas jenazah, untuk kepentingan DNA.

Saking sering jemarinya menyentuh manusia yang sudah tak bernyawa, Mauluddin memiliki pandangan tentang kehidupan. “Hidup itu adalah sesuatu yang harus dijalani, kematian itu adalah kehidupan yang abadi,” ujar Mauluddin.

Pengalaman Unik

Selama menjadi dokter forensik, Mauluddin mengaku tak pernah dihinggapi pengalaman horor, padahal ada begitu banyak mayat yang dipandang dan disentuhnya. Mimpi menakutkan tentang mayat yang dibedahnya juga tak pernah menghantuinya.

Pernah suatu ketika ada pembunuhan seorang pria yang memiliki toko, di Morowali pada tahun 2016. Namun tidak diketahui siapa pembunuhnya. Mauluddin bertugas mengotopsi mayatnya. Pria itu tinggal terpisah dengan istrinya. Sang istri yang tinggal jauh datang menghadiri otopsi.

Mauluddin bersama tim medis forensik
Mauluddin bersama tim medis forensik

Tiba-tiba sang istri menerima SMS dari nomor suaminya yang jelas-jelas sudah meninggal dunia dan berada dalam ruang otopsi. Dalam SMS itu si suami mengatakan “Bu saya baik-baik saja, ndak usah khawatir, nanti selesai pekerjaan saya pulang.

Keanehan itu kemudian diberitahukan ke teman-teman polisi di bagian reserse kriminal (reskrim) untuk dilakukan pengembangan digital. Saat selesai otopsi teridentifikasi bahwa orang yang mengirim SMS adalah pelaku pembunuhan. Sang pelaku adalah pedagang eceran yang singgah di toko sang suami tadi.

Meski tak pernah berjumpa dengan kehororan, Mauluddin tetap menjaga diri dan keluarga usai mengotopsi mayat dengan ia selalu mandi membersihkan diri ketika sampai di rumah. Pakaian dari rumah sakit dipisahkan dengan cara langsung membawanya ke jasa loundry atau dicuci khusus tersendiri.

“Kita juga istilahnya mengikuti saran teman-teman. Katanya kita biar ndak diikuti, yang saya ikut-ikut saja,” kata Mauluddin.

Modus Pembunuhan

Dalam berbagai kasus yang ditangani, pengalaman Mauluddin selama ini bahwa 90 persen dokter forensik dapat menemukan sebab kematian seseorang. Sekitar 10 persennya merupakan kasus-kasus yang rumit.

Di Indonesia, menurut Mauluddin, sebagian besar pembunuhan masih konvensional, artinya bentuk kejahatan sejak zaman nabi Adam polanya masih sama. Pembunuhan yang paling umum ditemukan adalah orang yang ditikam, dibacok, dan dipukul.

Penggunaan racun juga sudah ada sejak zaman dahulu, hanya pada awal 1900 kejahatan dengan racun mulai dapat diungkap secara medis. Khusus penggunaan racun ini, di dunia forensik, salah satu pembunuhan yang tak biasa adalah kasus kopi sianida pada tahun 2016 yang menyebabkan meninggalnya Wayan Mirna Salihin.

Mauluddin bersama tim medis forensik
Mauluddin ketika melaksanakan ekshumasi (gali kubur) dan pemeriksaan mayat (otopsi) di Desa Oba Utara Kecamatan Sofifi Kabupaten Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.

Ada banyak kasus forensik namun di kasus pembunuhan yang diduga dilakukan oleh Jessica Kumala Wongso itu terbilang cukup canggih di Indonesia. Untuk mencari tahu sebab kematian agak rumit. Penyebabnya kata Mauluddin, adalah barang bukti yang sangat minimal sehingga membutuhkan kerja komprehensif penyidik.

“Untuk menyelidiki sesuatu itu memang membutuhkan semua kemampuan ilmiah, itulah yang disebut Scientific Crime Investigation (SCI), semua kemampuan ilmiah harus dimaksimalkan mulai dari riwayat seseorang yang dicurigai, misalnya kehidupan terduga pelaku di negara lain ataupun Indonesia itu ditelusuri,” tutur Mauluddin.

Kasus yang tidak biasa seperti itulah yang perlu diantisipasi oleh reserse Polri. Kata Mauluddin, polisi harus siap dengan kasus-kasus yang rumit, polanya baru ada, atau membutuhkan suatu ketelitian yang luar biasa meski hanya 5 sampai 10 persen jumlahnya.

Tantangan ke depan bagi polisi adalah bagaimana mengkolaborasikan kemampuan identifikasi sidik jari, DNA, informasi teknologi (IT), penelusuran media sosial, untuk penanganan suatu kasus. Jadi, kata Mauluddin, sebaiknya suatu kasus itu dikerja seilmiah dan semoderen mungkin dengan segala potensi alat yang dimiliki, meskipun pada kasus-kasus sederhana.

Dengan demikian, ketika menghadapi kasus-kasus yang betul-betul sulit maka polisi sudah siap. Apalagi, ke depan, di era humanis ditegakkan maka hak asasi manusia menjadi dasar perlakuan seorang penyidik terhadap terduga pelaku.

“Dengan begitu maka kita harus mengedepankan hal-hal yang bersifat ilmiah. Sehingga meskipun dia tidak mengaku tapi bila ada bukti DNA, sidik jari, CCTV, dan secara IT, maka itu yang akan membuat pelaku secara pembuktian dapat dihukum dan kita tidak salah dalam menentukan status seorang tersangka. Itu yang paling penting,” jelas Maluddin.

Identifikasi Paling Cepat dan Lama

Identifikasi kasus paling cepat adalah dengan sidik jari. Misalnya ada seorang mayat, kemudian dilibatkan Unit Inafis Polri yang menggunakan alat mambis (alat pengungkap identitas melalui sidik jari). Dengan alat mambis dapat seketika diketahui identitas seseorang.

Mauluddin bersama tim medis forensik
Mauluddin bersama Tito Karnavian (tengah) dalam suatu operasi forensik di Papua. Saat itu Tito menjabat Kapolda Papua

Namun bila mayat sudah dalam keadaan membusuk, hangus terbakar, maka yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi adalah DNA. Tes DNA membutuhkan waktu antara dua minggu sampai satu bulan. Tempat tes DNA salah satunya adalah Laboratorium DNA Pusdokkes Polri di Cipinang, Jakarta.

Tes DNA biasanya digunakan pada kasus-kasus kapal tenggelam ataupun pesawat jatuh. Mauluddin pernah terlibat dalam identifikasi korban pada kejadian tenggelamnya kapal laut KM Marina di Kolaka, pesawat jatuh Air Asia, dan baru-baru ini pesawat jatuh Lion Air JT610.

Perjalanan Mauluddin

Beberapa kali berjumpa dengan dokter yang satu ini, saya dapat menilai bahwa pribadinya adalah karakter yang mudah bergaul dan selalu riang energik plus jenaka sesuai nama akun instagramnya Detektif Daeng Jenaka. Jenaka dalam arti selalu ada bahan cerita untuk memancing senyum.

“Jam kantor kami itu jelas dari pagi hingga sore, yang tidak jelas itu jam luar kantor” jawab dokter Mauluddin dalam suatu perjumpaan, menggambarkan bagaimana tugasnya sebagai seorang polisi, juga dokter.

Mauluddin bersama tim medis forensik
Mauluddin pada masa menjadi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi Ujung Pandang

Mauluddin lahir di Pomalaa, Kolaka pada 1 Maret 1976 dari pasangan Mansyur Mahmud dan Sitti Saerah Jannong. Almarhum ayahnya merupakan pensiunan karyawan PT Antam Pomalaa sedangkan almarhumah ibunya adalah guru SD Nikel Pomalaa. Kedua orang tuanya itu berasal dari Makassar yang datang ke Pomalaa demi pekerjaan.

Mauluddin kecil mengawali pendidikan di SD Antam 1 Pomalaa yang ditamatkan tahun 1988; SMP Antam Pomalaa tamat 1991. Kemudian ia ke Sulawesi Selatan masuk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi Ujung Pandang, tamat 1994. S-1 Dokter Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tamat 2001 dan S-2 Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tamat 2004.

Selama menimba ilmu di Makassar, Mauluddin bekerja sambilan sebagai asisten apoteker. Ia bekerja dari apotek ke apotek. Selain untuk tambahan uang saku juga agar semakin menambah wawasan dan pengalaman di bidang medis.

Karir Mauluddin di kepolisian dimulai pada tahun 2004. Selepas itu ia berkesempatan mengikuti beasiswa Polri dalam bidang kedokteran forensik (S-2) di Universitas Hasanuddin pada tahun 2006 sampai 2011. Lalu, pendidikan terakhir adalah gelar S-3 Hukum UMI Makassar yang telah diraihnya tahun 2018 ini.

Mauluddin memiliki satu istri dan tiga orang anak. Pertama kali ia bertugas sebagai dokter umum di akademi kepolisian (Akpol) Semarang pada tahun 2005 sampai 2013. Akpol itu membentuk dan melahirkan taruna-taruna Polri menjadi inspektur dua.

Lalu pada 2013 sampai 2015 ia menjadi dokter forensik di Makassar, Polda Sulawesi Selatan. Sejak 2015 sampai sekarang bertugas di Kendari juga sebagai dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara. Dengan adanya Mauluddin, dokter forensik di Sulawesi Tenggara kini sudah ada dua orang, salah satunya adalah dokter Raja yang bertugas sebagai dosen di Universitas Halu Oleo. Dokter Raja biasa membantu Mauluddin di Rumah Sakit Bhayangkara.

Selama menjadi dokter polisi, Mauluddin pernah terlibat berbagai operasi identifikasi yaitu tsunami di Aceh tahun 2005, pesawat Polri SkyTruck yang jatuh di Papua tahun 2009, pesawat AirAsia yang jatuh di perairan Pangkalan Bun pada 2014, bus terbakar di Palopo tahun 2014, dan berbagai bencana lainnya. Mauluddin juga selalu terlibat dalam tim food security (keamanan makanan) presiden bila datang ke Kendari dan Makassar.

Ingin Jadi dokter Anak

Awalnya ia hanya menjalankan salah satu tugas dukungan kepolisian khususnya bidang reskrim untuk mengungkap kasus-kasus pembunuhan lewat jalur dokter forensik. Ketika itu ada kekurangan di Polri yang sangat membutuhkan dokter forensik. Mauluddin memilih pilihan itu.

Dalam perjalanan, Mauluddin bukan hanya menjalankan kewajiban tapi menemukan kebahagiaan sendiri sebagai dokter forensik manakala suatu kasus dengan bantuan dokter forensik dapat terungkap. Jadi mencintai forensik bukanlah dari awal tetapi dalam perjalanan karir, ternyata ada kecocokan dengan bidang forensik.

Mauluddin bersama tim medis forensik
Mauluddin saat sukses menjalani ujian promosi doktor di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Dokter secara umum pasti berharap menjadi salah satu dari 4 bagian besar, yaitu penyakit dalam, anak, kandungan, dan dokter bedah. Namun kata Mauluddin, dalam perjalanan waktu, ada namanya menyukai sesuatu yang tak terbayang sebelumnya, menjadi dokter forensik.

“Sebenarnya dulu saya suka kedokteran anak, dan sebenarnya saya juga bercita-cita jadi dokter anak. Dalam perjalanan waktu saya dipertemukan dengan dunia kepolisian dan saya sangat memikirkan hal-hal yang mampu mendukung tugas-tugas kepolisian,” tutur Mauluddin.

Ketika menjadi polisi, Mauluddin ditempatkan di bidang kesehatan keamanan ketertiban masyarakat (Keskamtibmas). Bidang itu menuntut Mauluddin untuk mampu mendukung teman-teman sesama polisi, misalnya saat menghadapi pengunjuk rasa, bila ada yang terluka karena lemparan batu maka Keskamtibmas yang merawat.

Bagi Mauluddin yang terus konsisten sebagai polisi juga dokter, dalam hidup ini, kelebihan yang paling sedikit harus dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan yang sangat banyak, dan sebaik-baik kemampuan adalah yang berguna untuk banyak orang. (*)

 


Penulis: Muhamad Taslim Dalma
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib