Menggapai Cita di Negeri Sakura, Mulai dari Ilmu Hingga Karir

BUNGA SAKURA - Bunga sakura yang menjadi ikon Jepang (ISTIMEWA)

BUNGA SAKURA – Bunga sakura yang menjadi ikon Jepang (ISTIMEWA)

 

ZONASULTRA.COM, JAKARTA – Jepang, dikenal sebagai negara dengan bunga sakura menjadi salah satu negara maju yang cukup diminati banyak orang. Tak hanya untuk liburan, Jepang juga menawarkan harapan bagi para pencari ilmu maupun mereka yang mengejar karir.

Suasana nyaman dan tata kota yang teratur membuat para perantau dari berbagai negara menjadi kerasaan. “Disana itu nyaman buat belajar. Aman juga, karena angka kriminalitas rendah, sehingga pulang tengah malam tidak takut,” kata Fahmi Shidiq, salah seorang yang pernah mengikuti pertukaran pelajar Japanese Literature di Rikkyo University Jepang.

Masyarakat Jepang lebih suka berjalan kaki dan naik kereta dibandingkan mengendarai mobil atau kendaraan pribadi. Ini tentu menjadikan tingkat polusi di negara itu tak terlalu tinggi. Lalulitas macet juga jarang ditemui. Selain itu, budaya hidup bersih masyarakat Jepang membuat kota mereka patut diacungi jempol dalam hal kebersihan dan keindahannya.

Kemajuan negara sakura di bidang teknologi membuat para ilmuan tidak sedikit yang menjadikan Jepang sebagai tempat belajar. Mereka mempelopori kereta peluru Shinkansen, produk elektronik, dunia otomotif, bahkan dalam kehidupan sehari-hari melekat dalam masyarakatnya.

Kasti Kanazawa

“Waktu pertama di Jepang aku seperti shock teknologi. Di toilet kan banyak tombolnya dan aku kejebak selama 10 menit hanya untuk nyari flash button nya,” papar Fahmi sambil tertawa menceritakan pengalamannya.

Selain teknologi, kultur budaya juga menjadi faktor penarik orang datang ke Jepang. Bagi pecinta anime atau manga, tokoh-tokoh favorit seperti Doraemon, Detektif Conan, Naruto, Bleach, One Piece dan lainnya menjadi sangat menggiurkan.

Namun dibalik kemajuan Jepang, ternyata tidak semua masyarakatnya hidup bahagia. Beberapa dari mereka terkadang mengakhiri hidupnya lantaran stres berat.

“Mayarakat di kota Jepang banyak yang stres karena biaya hidup tinggi dan orang Jepang kalau kerja suka overtime. Kadang mereka juga meninggal karena kelelahan bekerja,” imbuh alumni Sastra Jepang Universitas Padjajaran ini.

Selain itu, budaya Harakiri (budaya malu) masih menjadi pegangan hidup kebanyakan masyarakat Jepang. Tak ayal, jika mengalami kegagalan baik dalam pendidikan maupun karir, tak sedikit dari mereka mengambil tindakan bunuh diri lantaran malu atas kegagalannya.

Budaya malu orang Jepang yang patut dicontoh adalah, mereka mau meminta maaf jika membuat kesalahan. Beberapa pejabat rela mengundurkan diri dari jabatannya ketika tidak maksimal dalam menjalankan tugas.

“Bagusnya disana, kalau pelayanan umumnya jelek, misal kereta tidak on time, atasannya langsung minta maaf di depan publik,” ujar Fahmi.

Baik buruknya Jepang, nyatanya masih mempunyai magnet yang besar untuk menarik para pengunjung. Apalagi penduduk Jepang seperti piramida terbalik, dimana lebih banyak orang tua ketimbang generasi muda. Itu sebabnya negara ini membuka ruang bagi para generasi muda untuk datang ke Jepang.

Nah, bagi para pemburu beasiswa ke Jepang ada banyak beasiswa yang bisa dinikmati.
1. Beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukangakusho) dengan fasilitas:
– Biaya pendidikan ditanggung penuh
– ‎Tunjangan hidup
– ‎Tiket pesawat pulang pergi Indonesia -Jepang
– ‎Bebas biaya pengurusan visa belajar
– ‎Tanpa ikatan dinas
Beasiswa ini memberikan 143.000 – 145.000 yen per bulan untuk peneliti (program master dsb) dan sebesar 117.000 yen (program sarajana, sekolah kejuruan dsb). Link beasiswa pemerintah jepang
http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

Kuil Asakusa

2. Beasiswa Japan Student Service Organization (JASSO) dari Pemerintah Jepang untuk mahasiswa dengan biaya sendiri. Beasiswa ini hanya melalui sekolah di Jepang.
Beasiswa yang diberikan hanya sebesar 48.000 yen untuk mahasiswa asing program master, sarjana, diploma, sekolah kejuruan dsb. Sedangkan untuk bahasa Jepang dan lembaga pendidikan diberikan sebesar 30.000 yen.

Link beasiswa lembaga lain
http://www.jasso.go.jp/en/study_j/scholarships/brochure.html
http://www.jasso.go.jp/en/study_j/scholarships/scholarship/short_term.html

3. Beasiswa lainnya bisa didapat dari pemerintah lokal, lembaga internasional pemberi beasiswa, maupun lembaga swadaya masyarakat.

Link lainnya:
http://www.g-studyinjapan.jasso.go.jp/id/
http://www.studyjapan.go.jp/in/index.html

Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Jika berusaha keras, menggapai cita di negeri sakura bukan angan belaka Oleh sebab itu persiapkan diri dengan baik.

Lakukan perencanaan yang matang dengan mengumpulkan informasi baik kemampuan bahasa maupun biaya hidup. Bahasa juga harus dipelajari, minimal menguasai bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa umum di internasional.

Persayaratan administrasi juga harus diperhatikan untuk melamar beasiswa seperti tranakrip ijasah, hasil test TOEFL, IELTS atau JLPT. Menyeleksi universitas yang dituju untuk menentukan pilihan kampus untuk mendapatkan LOA (atau tanda terima universitas).

Selanjutnya tinggal mengikuti prosesnya dan berdoa agar semua berjalan lancar. Tetap semangat untuk gapai cita di negeri sakura! (B)

 

Sumber:
– Bagian informasi dan kebudayaan (Beasiswa MEXT) Kedutaan Besar Jepang
– Buku panduan belajar ke Jepang 2018

 

Penulis: Rizki Arifiani
Editor: Abdul Saban

loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib