Menyelamatkan PAN Sultra

Andi Syahrir
Andi Syahrir

Penangkapan Sekretaris DPW PAN Sultra Adriatma Dwi Putra dan Ketua PAN Kota Kendari Asrun oleh KPK kian melemahkan organisasi partai yang pernah membirukan bumi anoa itu.

Sekalipun Ketua PAN Sultra adalah Abdurrahman Saleh (ARS), Ketua DPRD Sultra, tetapi realitasnya, pilar terkuat PAN ada pada Asrun, yang merupakan kandidat gubernur. Andai tidak tersandung proses hukum dan kemudian berhasil memenangkan pilgub, dapat diprediksi Asrun cepat atau lambat akan mengambil alih PAN dari tangan ARS.

Asrun sesungguhnya figur terkuat PAN setelah Nur Alam dan Umar Samiun, yang keduanya juga sedang berproses hukum. Kini, ARS sendirian di tengah ancaman perpecahan dengan mundurnya beberapa tokoh dan fungsionaris PAN, seperti Rajiun Tumada (Bupati Muna Barat), La Bakry (Plt Bupati Buton), dan Arhawi (Bupati Wakatobi), serta sejumlah pengurus PAN Baubau.

Tidak banyak yang bisa dilakukan ARS sebagai nakhoda PAN kendatipun selalu tersedia pilihan-pilihan dalam politik. Ketokohan ARS di hadapan rekan separtainya juga tidak kuat. ARS berhasil menjabat karena peran DPP. Dia tidak muncul dari pergulatan fungsionaris PAN se-Sultra dalam forum musyawarah daerah ataupun musyawarah luar biasa.

ARS ditunjuk oleh Zulkifli Hasan saat rapat singkat di bandara, yang segera diamini oleh pengurus PAN. Tapi itu adalah pilihan terbaik karena memang stok kader kuat PAN yang mampu dipandang sebagai tokoh Sultra sudah tidak ada. Semuanya hanya pemimpin lokal di daerahnya masing-masing.

Apa yang harus dilakukan ARS untuk menyelamatkan partainya? Paling tidak dalam rangka menghadapi Pilkada 2018 dan Pileg 2019.

Pertama, ARS harus mengubah gaya memimpinnya. Konflik internal harus dikelola dengan merangkul. Titik didih harus lebih lama. Sebagai contoh, reaksi cepat DPW PAN yang langsung melakukan pemecatan terhadap Ketua PAN Muna Barat Rajiun Tumada setelah berpolemik dengan ADP, sangat gegabah dan dalam momentun yang tidak tepat.

Dalam sudut pandang pragmatisme, Rajiun adalah aset. Dia bupati. Dia menang pilkada dengan suara meyakinkan, 59,4 persen. Dia sedang manis-manisnya dengan rakyatnya. Memecatnya dengan terburu-buru, terlepas bahwa dia terindikasi tidak mendukung Asrun-Hugua di pilgub, bukanlah pilihan terbaik. PAN tidak hanya untuk pilgub bukan?

Manuver-manuver kader di daerah tidak lantas ditafsir sebagai sebuah perlawanan atas kebijakan partai. Gerak politik kader perlu dipandang dari kacamata lain. Dapat ditafsir sebagai positioning kader untuk tampil di ruang yang lebih luas.

Di tengah kondisi partai yang melemah, manuver individu yang dilakukan setiap kader PAN haruslah dipersepsi sebagai langkah untuk kembali menaikkan citra partai. Tentu saja, akan didahului dengan naiknya citra kader yang bersangkutan. Itu konsekuensi logis. Dari sana akan muncul tokoh Sultra bahkan tak menutup kemungkinan tokoh nasional.

Kedua, dalam jangka pendek ARS perlu melakukan rekonsiliasi. Tidak ada salahnya jika DPW menghelat sebuah acara bertema silaturahmi kader se-Sultra, menghadirkan kembali Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk mendapatkan suntikan semangat dan strategi baru.

Ketua DPW pun masing-masing Ketua DPD, seyogyanya tampil sebagai ayah bagi kader dan fungsionaris lainnya, alih-alih sebagai pembuat titah. Sebab, partai menjadi lemah karena ketiadaan figur ayah yang disegani. ***

 


Oleh : Andi Syahrir
Penulis merupakan alumni UHO & pemerhati sosial

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib