iklan zonasultra

Misteri Kota Jin dan Harta Karun di Gunung Oheo

Gunung Oheo
Gunung Oheo

ZONASULTRA.COM, WANGGUDU – Gunung Oheo bagi sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) tentu tak asing lagi. Namun, tak sedikit pula yang belum mengetahui keberadaan gunung ini.

Dalam cerita rakyat, Gunung Oheo adalah tempat pertemuan sepasang kekasih yaitu Oheo dan Anawai Ngguluri. Dalam cerita tersebut Oheo membuka lahan pertanian dan menanam tebu, namun ia selalu dibuat kesal oleh burung nuri (jelmaan bidadari) yang memakan tanamannya.

Iklan Zonasultra

Suatu ketika Oheo menelusuri ampas tebu tersebut. Pandangan matanya pun berhenti ketika melihat tujuh bidadari mandi di sungai. Dengan terus mengendap pemuda Oheo mengambil pakaian salah satu dari mereka yang diletakkan di tepi sungai.

Gunung Oheo
GUNUNG OHEO – Wakil Bupati Konut Raup, Sekda Konut Marthaya bersama Kadis PU Konut Majerudin, Kadis Bapedda Antariksa, awak media zonasultra.com serta jajaran ASN Konut lainnya foto bersama saat melakukan peninjauan lokasi Gunung Oheo, di Kecamatan Oheo beberapa waktu lalu. Dengan tujuan sebagai tempat pengembangan wisata alam.(Jefri/ZONASULTRA.COM)

Ketika hendak kembali ke kahyangan, si bungsu yang dalam kisahnya disebut Anawai Ngguluri tidak dapat lagi terbang karena pakaiannya tidak kunjung ditemukan. Hingga Oheo menghampiri dan menawarkan pakaian. Singkat cerita Anawangguluri dan Oheo menikah dengan beberapa syarat yang diajukan sang bidadari.

Gunung Oheo terletak di Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Dari kejauhan jabal ini menyajikan daya tarik tersendiri. Bukit batu berwarna putih dibalut pepohanan yang hijau ditambah embun yang menutupinya. Gunung itu memancarkan panorama keindahan yang sejuk nan alami.

(Baca Juga : Pesona Puncak Oheo Yang Belum Terjambah Kaki Petualang)

Gunung Oheo merupakan tumpukan batu yang tumbuh dari dasar tanah dan menjadi bukit. Pelataran di sekitar bawah gunung ini dipenuhi alang-alang yang subur, setinggi pinggang orang dewasa. Sebagian gunung itu juga dijadikan lahan tempat bercocok tanam warga sekitar seperti menanam cengkeh, merica, padi, dan tanaman penghasil lain dari gunung seperti cempedak dan rotan.

Jejak Tenunan Tolaki di Legenda Selendang Anawai Ngguluri

Gunung ini juga diabadikan sebagai lambang daerah Konut dan disimbolkan sebagai kebesaran, kekokohan, kestabilan, keagungan dan keluhuran serta kemakmuran bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Bagi Anda yang hendak menghilangkan kejenuhan, bolehlah sekali-sekali menikmati keindahan Gunung Oheo. Sekitar sejam berkendara dari ibukota kabupaten di Wanggudu, Anda sudah bisa menyaksikan gunung itu menjulang seolah memagari kawasan Kecamatan Oheo.

Kota Jin

Siapa sangka di balik kelestarian, keindahan dan kealamian serta cerita tentang sepasang kekasih Oheo dan Anawai Ngguluri, gunung ini ternyata juga memiliki cerita mistis.

Yah, masyarakat sekitar menyebut gunung itu sebagai kota ajaib tempat bermukimnya para makhluk halus (jin). Konon bagi yang mempunyai indra keenam dapat menyaksikan langsung kondisi gunung itu secara gaib.

“Lebih ramai dari Jakarta, Pak. Kalau kita bisa lihat melalui mata batin di sinilah tempat perkumpulan jin,” ungkap Kepala Desa Bendewuta, Kecamatan Oheo, Sumardin kepada awak zonasultra.com saat mengikuti rombongan Wakil Bupati Konut Raup yang meninjau lokasi Gunung Oheo beberapa waktu lalu.

Ada kejadian aneh saat rombongan wakil bupati menulusuri lebih dalam isi gunung tersebut. Saat awak media mengambil gambar di sekitaran tebing persis di depan goa gunung, blitz kamera digital maupun handphone sama sekali tak berfungsi.

“Blitz kamera saya juga tidak berfungsi saat ambil gambar di bawah goa tadi,” kata Pajar, salah satu pegawai Humas Konut.

Gunung Oheo“Memang sekitar sini (goa) pak keras aura mistisnya, itu mi blitz kameranya tidak berfungsi karena mengeluarkan cahaya,” kata Sumardin.

Menelusuri lebih jauh, terungkap di dalam kawasan Gunung Oheo terdapat beberapa tempat tersembunyi yang dikeramatkan. Seperti telaga laduri, goa tangera tempat tengkorak manusia pada masa penjajahan, telapak tangan yang menempel di dinding goa, kolam di atas gunung berisikan ikan mas, belut dan jenis ikan lainnya dengan mata berwarna merah, batu berwarna, pakian orang raksasa yang telah menjadi batu dan rawa watu meeto.

“Gunung Oheo ini gunung batu yang tumbuh dari dasar tanah sehingga menjadi bukit. Kalau masuk di sini harus minta izin dan tidak boleh berkata sembarang apalgi takabur karena di sini termasuk tempat dikeramatkan,” kata Sumardin kepada rombongan saat memasuki tebing Gunung Oheo.

Tradisi kepercayaan secara turun-temurun untuk menangkal terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, warga setempat biasanya melaksanakan syukuran tahunan dengan menaruh sesajian di telaga Gunung Oheo itu. Tradisi ini dipercaya untuk menyatukan warga setempat dengan kehidupan alam Gunung Oheo.

“Di sini kalau masuk tidak boleh bicara sembarangan, takabur apalagi sampai bicara kasar bisa-bisa dapat musibah, serta dilarang membunuh hewan karena jangan sampai itu penjaganya,” beber Sumardin.

Tak hanya itu saja, gunung ini masih menyimpan cerita sejarah lainnya yaitu adanya empat kuburan tua, yang menurut cerita adalah makam tokoh masyarakat yang lebih dulu mendiami Gunung Oheo. Konon terdapat pula berbagai macam harta karun di gunung ini seperti emas, benda pusaka, dan pakaian Anawai Ngguluri.

Dijadikan Wisata Alam

Wakil Bupati Konut Raup mengatakan, Gnung Oheo adalah wisata alam yang menarik dan akan dikembangkan sebagai argo wisata di daerah penghasil nikel itu. Menurutnya, tempat tersebut mempunyai daya tarik yang unik dan luar biasa untuk para wisatawan.

Gunung Oheo

Gunung tersebut, lanjut Raup jika ditata dan dibenahi pasti akan menarik wisatawan dari berbagai tempat. Apalagi Gunung Oheo akan menjadi lokasi Perkemahan Wirakarya dan panjat tebing tingkat nasional oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) pada Oktober mendatang.

“Tujungan kami meninjau bersama dengan instansi terkait ini, salah satunya untuk melihat kondisi Gunung Oheo apa yang harus kita kerjakan. Tempat ini, wisata yang mempunyai potensi baik untuk kemajuan pembangunan Konawe Utara dari segi PAD jika dimanfaatkan serta difungsikan sebaik mungkin,” tukasnya. (A)

 


Penulis: Jefri Ipnu
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib