iklan zonasultra

Nikmatnya Cholucky, Camilan Cokelat Asli Olahan Industri Lokal

Nikmatnya Cholucky, Camilan Cokelat Asli Olahan Industri Lokal
CHOLUCKY - Rahmat Ladae dan Rini saat memperlihatkan contoh kemasan produk cokelat Cholucky saat acara peluncurannya, Rabu (6/3/2019) di kediamannya. Cholucky merupakan camilan produk cokelat asli Sulawesi Tenggara (Sultra) yang diproduksi di Kota Kendari. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM,KENDARI – Cokelat merupakan salah satu jenis makanan atau camilan yang memiliki banyak penggemar atau peminat. Biasanya, pencinta cokelat akan memakan cokelat dengan hidangan lainnya atau biasanya juga menjadi bahan tambahan makanan lainnya, seperti kue basah atapun kering.

Peluang bisnis pembuatan cokelat ini pun dimanfaatkan oleh Rini seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kelurahan Lepolepo, Kecamatan Baruga Kota Kendari bersama sang suami Rahmat Ladae untuk memproduksi cokelat asli asal Sulawesi Tenggara (Sultra).

Beberapa waktu lalu, keduanya resmi memperkenalkan Cholucky sebagai merek dari produk cokelat mereka kepada awak media yang sudah siap dipasarkan. Nama cholucky bermakna menuju keberuntungan karena ada kata “lucky” yang artinya beruntung.

“Kalau kita plesetkan sedikit kan bisa jadi Tolaki yang mewakili suku asli Bumi Anoa jadi unsur kedaerahannya juga ada,” kata Rahmat Ladae saat memperkenalkan produknya di kediamannya, Rabu (6/3/2019) lalu.

Ada tiga jenis olahan berbahan dasar kakao yakni milk cokelat, dark cokelat, milk cokelat mete sementara white cokelat tidak memiliki kandungan kakao. Untuk milk coklat bahan dasar kakaonya adalah 45 persen, sehingga rasa tidak terlalu pahit dan sedikit manis.

Kemudian, dark cokelat mengandung 70 persen kakao sehingga rasanya lebih pahit dan sedikit kuat aroma cokelatnya serta lebih berenergi. Cokelat mete kandungannya 45 persen, varian sengaja dibuatkan karena mete sendiri merupakan produk lokal asal Sultra. Selanjutnya white cokelat.

Rini menjelaskan, jika produksinya dilakukan di rumahnya bersama dengan keluarga dan masih dalam skala industri rumahan, produksinya pun dilakukan secara profesional menggunakan peralatan standar dari pembuatan cokelat umumnya. Awalnya, mereka memproduksi 200 pieces (pcs) cokelat dengan berat 45 gram.

“Kebetulan kami diajar pula dengan teman yang paham cara pembuatan cokelat, selain itu ruang produksinya pun steril dan didesain sesuai standar,” jelas Rini.

Cholucky tersebut harus disimpan pada suhu dingin karena mudah mencair jika terlalu lama disimpan di ruang terbuka, dan tidak memiliki tanggal kedaluwarsa serta rasanya akan semakin nikmat jika disimpan semakin lama di mesin pendingin (kulkas).

Saat ini harga pasaran Cholucky adalah untuk milk cokelat Rp15 ribu, dark cokelat Rp25 ribu, milk cokelat mete Rp18 ribu dan white cokelat Rp15 ribu. Untuk memasarkan produk tersebut dijelaskan Rahmat, saat ini ia gencar mempromosi secara langsung kepada teman dan rekan kerja serta melalui media sosial facebook dengan fanspage Coklat Cholucky.

Sejauh ini pun, ia mengaku sudah banyak yang memesan cokelat, bahkan pernah menyuplai cokelat jenis dark cokelat di perusahaan Kalla Kakao. Ia pun berencana kedepannya akan memasarkan produk ini di sejumlah supermarket di Kota Kendari.

Sedikit bercerita, kenapa mereka ingin memproduksi camilan cokelat karena Rahmat mengklaim jika jajanan cokelat yang dibuatnya ini tidak mengandung bahan kimia, dan tidak memberikan resiko terhadap penderita kolesterol dan cocok bagi Anda yang ingin diet.

Selain itu, ia juga ingin memproduksi produk lokal yang bahan dasarnya juga dari kakao lokal Sultra. Bahan dasar biji kakao Cholucky sendiri didatangkan dari Besulutu, Konawe yang telah difermentasi.

“Yang nama cokelat itu kalau kandungan kakao di dalamnya 45 persen kalau tidak sampai itu bukan cokelat hanya dia labeli saja produknya cokelat, yang perlu kita syukuri juga kita ambil kakaonya dari Konawe,” pungkasnya.

Keduanya pun berharap kedepan, usaha industri rumahan tersebut dapat memberikan mamfaat kepada masyarakat ataupun pemerintah. Terlebih dapat menciptakan lapangan pekerjaan jika usahanya sudah dalam skala industri besar, serta menciptakan brand lokal yang dapat bersaing di pasar nasional. (a)

 


Reporter: Ilham Surahmin
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib