Nuraeni Bausat, Lansia di Kendari yang Aktif Mengajar Bahasa Inggris

MENGAJAR - Nuraeni Bausat, nenek kelahiran 2 April 1948 asal Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini rela meninggalkan keluarganya untuk tetap aktif mengajar bahasa inggris. (Ilham Surahmin/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM,KENDARI– Nuraeni Bausat, nenek kelahiran 2 April 1948 asal Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini rela meninggalkan keluarganya untuk tetap aktif mengajar bahasa inggris. Kini ia tinggal bersama lansia lainnya di Panti Asuhan Tresna Werdha (PSTW) Minaula, Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Setiap hari Selasa dan Kamis setiap minggunya, Wisma Aman tempat istirahatnya selalu dipenuhi oleh pelajar berjumlah sekitar 11 orang. Mereka merupakan anak-anak warga yang bermukim di sekitaran panti itu. Sebutan “Grandma” menjadi panggilan khas pelajar untuk wanita berusia 70 tahun itu.

Nuraeni Bausat, Lansia di Kendari yang Aktif Mengajar Bahasa InggrisRedaksi Zonasultra berkesempatan mengunjungi Nuraeni saat sedang mengajar, hari Kamis (2/8/2018) lalu selepas salat Ashar.

Saat itu, ia tengah sibuk mengajar. Nampak para pelajar sedang duduk di lantai sambil menulis. Mereka memperhatikan Grandma yang sedang menjelaskan tentang tata cara penulisan kalimat baku serta kata ganti subjek dalam bahasa inggris.

Nuraeni mengenakan dress biru dengan motif kembang bunga yang dipadukan atasan jilbab berwana pink plus kacamata. Suara lantang, membuat anak didiknya fokus untuk belajar dan memperhatikan pembelajaran soe itu.

“Dalam belajar penulisan baku bahasa inggris, kita harus mempunyai cukup banyak kosakata. Kemudian memperhatikan keterangan waktu objek dan subjeknya, agar kalimat yang kita buat tepat dan benar, subjek yang ada didalam bahasa inggris ada I, They, We, He, She,” ungkapnya.

Tepat pukul 17.00 WITA proses belajar mengajar usai. Tapi sebelum mengakhiri pertemuan, Nuraeni tak lupa memberikan tugas rumah yang merupakan bentuk evaluasi pelajaran hari itu.

Sambutan hangat dan senyum ia berikan kepada kami sambil membuka pertumuan hari itu. Sosoknya yang energik dan semangat terlihat jelas mulai dari cara ia bertutur kata baik menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris.
“Hello, whats your name? what do you come from? And you are Jurnalist? ,” sambutan Nuraeni kepada awak zonasultra yang membuka percapakan kami.

Nuraeni Bausat, Lansia di Kendari yang Aktif Mengajar Bahasa InggrisNuraeni sendiri aktif mengajar menggunakan media papan tulis dan beberapa kurikulum yang ia garap sendiri sejak bulan Juli 2018 lalu, sebelumnya ia hanya melakukan pertemuan biasa dengan anak didiknya dan bercerita santai dengan mereka.

“Awalnya tidaknya banyak hanya satu dua orang, tapi setelah itu banyak yang datang mereka saya ajar dari SD kelas 6, pas naik SMP mereka merasa penting belajar bahasa inggris, akhirnya berbongong-bondong kesini dan bisa sampai jumlah sekarang,” tuturnya.

Setiap peserta didik diwajibkan membayar iuran setiap kali pertemuan untuk biaya ATK dan keperluan alat belajar mengajar sekitar Rp5 ribu. Semua pembiayaan ia catat sebagai bentuk pertanggungjawaban dirinya kepada pimpinan panti jompo dan orang tua siswa.

Inisiatif untuk mengajar bahasa inggris di panti karena ia ingin tetap bermanfaat bagi orang lain meski sudah memasuki usia senja. Apalagi Nuraeni merupakan sosok wanita yang tidak suka berdiam diri tanpa mengerjakan sesuatu.

Selain itu, kepeduliannya terhadap dunia pendidikan juga sangat tinggi, baginya mencerdaskan anak bangsa merupakan tugas warga negara. Mengapa harus bahasa inggris? Bahasa Inggris menurut nenek ini penting untuk diketahui dan dipahami oleh generasi muda apalagi di era kaum milenial saat ini.

“Siapapun yang memahami dan fasih berbahasa Internasional ini akan mudah untu beradaptasi dengan dunia kerja dan dunia luar, artinya di masa yang akan datang mereka tidak kehilangan arah,” pungkasnya.

Kemudian, mengajar juga merupakan salah satu sumber kebahagian dalam hidup seorang Nuraeni dan seakan telah mendarah daging. Dengan rasa bahagia ini ia pun terus semangat menjalani sisa hidup dan siap untuk menghadapi masa selanjutnya sembari membekali diri dengan banyak menebar kebaikan di muka bumi.

Nuraeni juga merupakan sosok wanita yang taat akan ibadah, kegiatan setiap hari ia awali dengan ibadah solat subuh kemudian mengaji. Ia juga sosok yang dermawan sebab dirinya merawat salah satu lansia di Wisma Aman dalam menjalan aktivitas sehari-hari karena keterbatasan fisik.

“Alhamduliah, hidup disini itu tidak perlu banyak pikiran. Masak sudah dimasakkan, pakaian dicucikan semua dikerjakan kita tinggal hidup tenang, dan mencari kegiatan bermanfaat,” jelasnya.

Satu hal yang ditegaskan Nuraeni jika panti jompo bukan tempat pembuangan lansia yang tidak berguna dan bermanfaat dan panti jompo bukan tempat dimana para lansia hanya berdiam diri menunggu berkahirnya usia.

“Kami juga bisa dan masih dapat bermanfaat untuk orang lain melalui kegiatan seperti ini dan kegiatan lainnya, saya tidak memuji diri saya tapi kenyatannya adek liat sendiri,” tukasnya.

Nuraeni juga adalah sosok lansia yang memiliki daya ingat yang cukup kuat, sebab hingga saat ini ia masih mengetahui banyak hal tetang bahasa inggris ditengah usia yang kebanyakan orang sudah mulai pikun. Ia menegaskan salah satu kuncinya adala tetap belajar, setiapa akhir pecan ia menyempatkan diri mencari buku di salah satu gerai di kota ini.

Kegiatan Nuraeni ini mendapat apresiasi Kepala PSTW Minaula Syamsuddin. Sebab ini menjadi salah satu warna baru bagi panti tersebut, yang selaras dengan visi misi panti jompo dimana setiap lansia tetap berkontribusi bagi negara melalui kegiatan positif.

Menurutnya, lansia yang memiliki aktivitas positif dan aktif dengan masyarakat akan membuat semangat hidup mereka tingg. Dengan semangat hidup, kondisinya akan terus sehat dan tidak mudah pikun. Kendati demikian, ia tidak ingin keaktifan para lansia ini akan dinilai sebagai bentuk ekploitasi. Olehnya, setiap kegiatan itu adalah keinginan dari lansia sendiri dan pihaknya hanya mendukung dan melakuka pengawasan.

“Contoh nenek Nuraeni kita sama sama putuskan akan kegiatan beajar mengajar ini, dirinya setuju saya pertama carikan pelajar diwilayah sekitar panti dan akahirnya ada yang mau dan jadilah seperti sekarang,” kata Syamsuddin kepada zonasultra.

“Nenek Nuraeni sosok yang punya semangat yang tinggi untuk mengajar dan saya apresiasi itu. Kami juga berusaha tetap memperhatikan kebutuhan seluruh lansia di panti jompo ini, nenek nuraeni resmi masuk 29 Januari 2018,” jelasnya.

#Perjalanan Hidup Nuraeni Bausat

Nuraeni Bausat merupakan mahasiswa lulusan IKIP Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) jurusan Sastra Barat angkatan 1968 ia menyelesaikan studinya selama 7 tahun. Kariernya sebagai seorang guru bahasa inggris pertama kali ia lakukan saat mengajar di SMP Negeri Pancang, Pulau Sebatik, Kalimatan Utara (Kaltara).

Nuraeni Bausat, Lansia di Kendari yang Aktif Mengajar Bahasa InggrisKepeduliannya terhadap pendidikan di Pulau Sebatik muncul karena sekitar tahun 1989 disana hanya ada sekolah dasar, siswa yang telah tamat lebih memilih untuk berkebun. Salah satu penyebabnya tidak tersedia sekolah lanjutan tingkat pertama dan akhir.

Akhirnya ia berniinisiatif bersama Kepala Desa, Koramil dan Kepala Puskesmas melaukan pertemuan yang membuakan hasil untuk mendirikan mendirikan sekolah persiapan.

“Bagi saya pendidikan itu penting untuk generasi muda, kenapa bangsa kita susah untuk maju karena kualitas SDM yang tidak terpenuhi sejak dini akibat fasilitas pendidikan yang tidak merata,” katanya.

Selain aktif mengajar, ia pun memberdayakan masyarakat setempat dengan membentuk koperasi unit desa. Ia membantu masyarakat untuk membuat proposal pengadaan pupuk dan pestisida.

Saat itu, banyak petani kakao dan kelapa sawit di daerah itu membutuhkan produk tersebut. Tidak lama ia berada disana, hanya 1 tahun 8 bulan.

Selanjutnya ia pun pindah ke Tarakan dengan mengajar di sejumlah sekolah yakni SMA Tunas Kasih atau saat ini menjadi SMA 1 Karang Bali dan SMA Mulawarman. Ia juga pernah mengajar di salah satu sekolah internasional di Kuala Lumpur Malaysia.

Hidup di negeri orang rupanya tak seindah yang dipikirkan, akhrinya melihat kondisi hidupnya di sana kurang baik, tahun 2017 ia bertolak dari Malaysia via Kuala Lumpur Internasional Airport ke Sultan Hasanuddin Airpotrt Makassar, dan pulang ke kampong halaman menggunakan mobil sewa. Disana ia kembali aktif untuk mengajar dan merintis Bone Kampung Inggris.

Sayangnya hal itu ditentang oleh sang anak dan keluarganya, karena usianya yang tak lagi muda sehingga ia diminta untuk istirahat.

“Cerita ini jangan terlalu dibahas, cukup disini saja,” tukasnya menutup cerita penyebab ia meninggalkan kampung halamannya.

Tepat tanggal 28 Januari 2018 ia bertolak dari Bone menuju Kendari melalui Pelabuhan Bajoe- Kolaka. Kemudian melanjutkan perjalanan dari Kolaka- Kendari.

Kedatangannya di Kendari adalah pertama kali, ia tak tahu harus kemana. Dengan menggunakan kendaraan umum ia diantarkan di salah satu penginapan di Andounohu.

Tujuannya ke Kendari bukan tanpa alasan, melihat kondisi hidup sudah tidak memiliki apapun ia memutuskan untuk ke Dinas Sosial guna mendapatkan perhatian. Sebab, dalam undang-undang, dirinya memahami jika fakir miskin, yatim piatu dan lansia dipelihara oleh Negara.

“Itu salah satu alasan bagi saya kenapa kesini, dan saya juga sebelumnya mencari referensi jika salah satu panti jompo terbaik yang ada di Indonesia adalah di Kendari,” jelasnya.

Keesokan harinya tanggal 29 Januari 2018 memutuskan untuk ke Dinas Sosial. Sayangnya ia tersesat dan sampai ke Kantor Polisi. Di sinilah dia menceritakan permasalahnnya kepada salah satu personel kepolisian Kendari. Dan akrhirnya dia diantarkan ke PSTW Minaula.

“Sesampainya di sini, saya ketemu pimpinan saya banyak bercerita. Eh, ternyata pimpinan fasih berbahasa inggris, akhirnya kami bercakap dan mencairkan suasana waktu itu, and now I’m stay here,” tukasnya sembari tersenyum menutupi kesedihannya.

#Kehidupan Keluarga

Tak banyak hal yang bisa ia ceritakan perihal keluarganya. Nuraeni merupakan janda dengan dua orang anak. Kedua anaknya tinggal di tempat yang berbeda. Anak bungsu tinggal di Bone, Sulsel dan satunya tinggal di Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim) ia sendiri sudah memiliki dua orang cucu.

Meski tinggal jauh dari kedua anaknya, ia tak lupa menafkahi mereka saat masih muda dan aktif mengajar sebelum masuk ke panti jompo. Baginya, mereka adalah salah satu penyemangat hidup dan harta berharga dalam hidup Nuraeni.

“Sekarang saya masih telponan dengan anak saya, meskipun kadang rindu, namanya juga orang tua. Tapi saya berusaha untuk menjaga kesedihan saya dengan mengajar bahasa inggris,” tutupnya. (A)

 


Penulis: Ilham Surahmin
Editor: Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib