iklan zonasultra

Parade Ogoh-Ogoh di Koltim, Ratusan Warga Antusias Menonton

Parade Ogoh-Ogoh di Koltim, Ratusan Warga Antusias Menonton
PARADE - Menjelang Hari Raya Nyepi 2019, masyarakat Hindu yang ada di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar parade ogoh-ogoh, Minggu (3/3/2019). Rute pawai ogoh-ogoh mengambil star dari depan SD 1 Lamoare, dan terpusat di lapangan sepak bola Kecamatan Loea. (Samrul/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, TIRAWUTA – Menjelang Hari Raya Nyepi 7 Maret 2019, masyarakat Hindu yang ada di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) menggelar parade ogoh-ogoh, pada Minggu (3/3/2019). Ratusan warga di sekitar Kecamatan Loea tampak antusias untuk melihat ritual itu kendati suasana langit terlihat mendung.

Rute pawai ogoh-ogoh mengambil star dari depan SD 1 Lamoare, dan terpusat di lapangan sepak bola Kecamatan Loea. Parade ini juga mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Parade ogoh-ogoh merupakan bagian dari tradisi ritual Buta Yadnya (tradisi sebelum nyepi) guna menghalau kehadiran Buta Kala (nama patung ogoh-ogoh) yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dan dianggap dapat mengganggu kehidupan manusia.

Buta Yadnya terdiri dari dua tahapan, yaitu ritual mecaru (pecaruan) dan ngrupuk (pengerupukan). Mecaru merupakan upacara persembahan aneka sesajian (caru) kepada Buta Kala. Ngrupuk adalah ritual berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai-ramai.

Ogoh-ogoh sendiri merupakan boneka atau patung beraneka rupa yang disimbolisasikan sebagai unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia. Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung berminggu-minggu sebelum Nyepi.

Waktu pembuatan sebuah ogoh-ogoh dapat bervariasi bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah sumber daya manusia (SDM) yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut.

Parade Ogoh-Ogoh di Koltim, Ratusan Warga Antusias Menonton
Parade barisan wanita yang menjunjung pajegan (sesajen berisi aneka buah-buahan).

Biasanya pembuatan itu dikelola dalam sebuah kepanitiaan yang dibentuk oleh Sekaa Teruna Teruni (semacam karang taruna) di masing-masing desa. Kalangan remaja di suatu desa umumnya menginginkan agar ogoh-ogoh milik desanya lebih unggul dari ogoh-ogoh desa lain.

Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Koltim, Gusti Ngurah Suputra mengatakan pawai ogoh-ogoh itu diikuti oleh tujuh desa adat yang masuk dalam 12 desa dinas. Desa desa adat itu antara lain, Desa Adat Mandala Giri (Desa Roko-roko), Desa Adat Asrama Sari (dari desa Tasaheya dan Tirawuta), Desa Adat Dwitawana (terdiri desa Lamoare, Tinomu, Mataiwoi dan desa Teposua).

“Selanjutnya dari Desa Adat Dwi Eka Darma yaitu dari Kelurahan Atula dan Kelurahan Welala. Desa Adat Udaya Giri yaitu desa Wia-wia, dari Desa Adat Merta Sari yakni dari Desa Mekar Jaya, dan terakhir dari Desa Adat Eka Buana yaitu dari Desa Putemata dan Lalowosula, ” terangnya.

Gusti Ngurah Suputra mengharapkan agar parade ogoh-ogoh itu bisa menjadi salah satu objek wisata lokal di Kabupaten Koltim.

Parade Ogoh-Ogoh di Koltim, Ratusan Warga Antusias Menonton
Tarian kolosal rejang renteng yang dilaksanakan oleh 204 penari wanita hindu dharma Indonesia Koltim. Uniknya, tarian sakral ini harus dilakukan oleh wanita yang sudah menikah (tua) dan sedang tidak menstruasi.

Sementara itu, Ketua panitia pawai ogoh-ogoh, Ketut Julianto menyampaikan, kegiatan ini dilatarbelakangi pemikiran generasi muda sebagai agen perubahan dan pembangunan yang senantiasa mengembangkan kreativitas diri. Kegiatan ini juga salah satu tujuannya untuk meningkatkan dan memelihara kemajemukan.

“Pawai yang dilakukan setiap dua tahun itu adalah sebagai sarana untuk memelihara kebhinekaan, mengukuhkan tali persatuan dan saling menjaga silahturahmi antara umat beragama yang ada di Koltim,” tutur Julianto.

Pantauan awak zonasultra. com, pawai ogoh-ogoh diawali dengan parade barisan wanita yang menjunjung pajegan (sesajen berisi aneka buah-buahan). Desain ogoh-ogoh yang dipawaikan antara lain, sangkala geni, kala sakti karas-karas, bharata kala amri bapa, sapuh leger, sang hiyang siwermas, maya danawa dan kereta kencana khirisna.

Parade Ogoh-Ogoh di Koltim, Ratusan Warga Antusias Menonton

Pembuka parade diawali dengan tarian kolosal rejang renteng yang dilaksanakan oleh 204 penari wanita Hindu Dharma Indonesia Koltim. Uniknya, tarian sakral ini harus dilakukan oleh wanita yang sudah menikah (tua) dan sedang tidak menstruasi. Selanjutnya, dilakukan atraksi ogoh-ogoh menarik dari masing-masing peserta desa adat.

Hujan sempat mewarnai pelaksannaan atraksi ogoh-ogoh itu. Meski demikian warga yang datang menonton tetap tak mau berpindah dari tempatnya. Lapangan sepak bola Kecamatan Loea tampak begitu dipadati masyarakat.

Sekretaris Daerah (Sekda) Koltim, Eko Santoso Budiarto Suala menyampaikan, acara pawai ogoh-ogoh dalam menyambut hari raya nyepi sekiranya dapat menjadi semangat dan jiwa baru bagi umat Hindu yang ada di Koltim.

“Semoga pula dengan kegiatan ini semakin memperkokoh persatuan antar umat beragama di Koltim, semakin tentram, harmonis dalam membangun bangsa dan negara serta Koltim secara khusus,” katanya. (A)

 


Kontributor : Samrul
Editor : Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib