iklan zonasultra

Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Muna-Buton di Buteng Masih Dicari Konsep Terbaik

Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Muna-Buton di Buteng Masih Dicari Konsep Terbaik
KONSEP JEMBATAN - Hingga saat ini, pemerintah belum menemukan konsep terbaik terkait rancangan pembangunan jembatan yang menghubungkan Baruta, kabupaten Buton Tengah (Buteng) di Pulau Muna dengan Kolagana di Buton di Sulawesi Tenggara (Sultra). (Aisyah/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA. COM, LABUNGKARI – Hingga saat ini, pemerintah belum menemukan konsep terbaik terkait rancangan pembangunan jembatan yang menghubungkan Baruta, kabupaten Buton Tengah (Buteng) di Pulau Muna dengan Kolagana di Buton di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Walau usulan rancang bangun proyek itu mendapat respon positif dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), namun hasil studi kelayakan pembuatan jembatan layang yang diusulkan oleh Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Dinas PUPR Kabupaten Buteng itu memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

“Responya, tingkat kesulitan pembuatan jembatan penghubung kedua pulau tersebut menjadi tantangan besar dan pengalaman baru bagi kementrian PUPR dari sisi desain dan konsep, ujar Muhammad Said, Kepala Bidang Frispa Dinas PUPR Buteng, Rabu (19/9/2018).

iklan zonasultra

Kata dia, tangtangan tersulit yang dihadapi dalam pembangunan jembatan itu salah satu tantangannya adalah tingkat kedalaman selat antara Baruta dan Kolagana yang mencapai 80 meter.

Sebab sampai saat ini, pihak Kementrian PUPR sendiri belum memiliki referensi bagaimana membuat tiang penyangga jembatan di atas dasar laut dengan kedalaman 80 meter itu.

“Walaupun secara geologi, kontur tanahnya keras, tapi arusnya juga keras dan langsung menuju palung laut,” ujar Said melanjutkan.

Alternatif lain adalah membuat jembatan di zona berbeda dengan menancapkan tiang penyangga masing-masing di daratan Pulau Muna dan Buton, bukan di tengah teluk.

Namun solusi ini juga memiliki tingkat kerawanan yang tinggi. Karena desain ini akan menghasilkan bentangan jembantan yang cenderung lebih panjang, sekitar 780 meter.

“Belum ada referensi di Indonesia membangun bentang jembantan dengan panjang seperti itu. Kita di Indonesia, menurut teman-teman Kementrian PU, bentang jembatan terpanjang itu hanya 240 meter,” ungkap Said.

“Tapi kalau di negara-negara lain, refensi pembangunan dengan bentang 780 meter itu sudah banyak,” imbuhnya.

Di terpisah, Bupati Buton Tengah, Samahuddin yang dimintai tanggapannya terkait rencana pembangunan jembatan itu menyatakan dukungannya secara penuh.

“200 persen saya setuju. Untuk memperlancar ekonomi kedepan supaya masyarakat lebih sejahtera, itu yang saya inginkan,” tandasnya. (B)

 


Reporter : CR4
Editor : Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib