iklan zonasultra

Pemprov Sultra Imbau Perpustakaan Desa Dimaksimalkan

Desember 2020, Perpustakaan Internasional Ditargetkan Rampung
PERPUSTAKAAN - Pembangunan fisik perpustakaan bertaraf internasional tahap dua, bakal segera dilaksanakan. Untuk tahap dua ini, bakal menelan anggaran senilai Rp70 milliar yang bersumber dari APBD Sultra. (RANDY ARDIANSYAH/ZONASULTRACOM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui dinas perpustakaan dan kearsipan mengimbau kepada seluruh pemerintah desa untuk memaksimalkan program perpustakaan desa yang telah dibangun pemerintah.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sultra, Wagola mengungkapkan dari pengamatannya sejauh ini, minat baca di Sultra cukup meningkat. Pihaknya juga terus memberi motivasi kepada pemerintah kabupaten/kota hingga desa untuk menyediakan wadah yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakatnya menambah wawasan dengan bacaan.

(Baca Juga : Perpustakaan Modern, Calon Destinasi Wisata Edukasi di Sultra)

iklan zonasultra

“Jadi kita membangun perpustakaan modern ini untuk nantinya disinkronkan dengan kabupaten/kota, terutama desa. Jadi di desa itu ada namanya perpustakaan desa. Sudah ada juga anggarannya termasuk untuk koleksi buku, dan tenaga pengelola,” kata Wagola di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, untuk perpusatakan desa sendiri sudah lebih dari 1000 desa memilikinya. Namun, untuk perpustakaan modern yang berbasis digital masih sangat kurang.

“Yang sudah ada perpustakaan modern itu di Wakatobi. Dia bersinergi dengan wisatanya. Gedungnya juga sudah modern. Saya ingin desa lain bisa mencontoh itu,” kata dia.

(Baca Juga : Diperkirakan Rampung Desember, Begini Gambaran Perpustakaan Modern Sultra)

Harapnya, pemerintah kabupaten/kota bisa membangun perpustakaan modern di masing-masing desa, yang menyediakan bacaan yang memang berhubungan dengan profesi kebanyakan masyarakat di desa, misalnya untuk dimanfaatkan oleh para petani mencari tahu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pertanian.

“Saya ingin perpustakaan modern itu, setiap rapat dengan petani itu di perpus. Mereka bisa baca buku yang sesuai dengan mata pencahariannya dan bisa menghasilkan produk yang bisa bernilai ekonomi,” ujarnya. (B)

 


Kontributor: Sri Rahayu
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib