iklan zonasultra

Perdana, Sultra Ekspor 18 Ton Serabut Kelapa ke China

Perdana, Sultra Ekspor 18 Ton Serabut Kelapa ke China
EKSPOR - Gubernur Sultra, Ali Mazi saat melepas ekspor serabut kelapa ke Wheifang, China, di Pelabuhan New Port Kendari, Selasa, (7/7/2020). (Randi Ardiansyah/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Sekitar 18 ton serabut kelapa, diekspor ke Weifang, China. Adalah perusahaan PT Weida Indocoir Prima, yang akhirnya untuk pertama kali melakukan ekspor serabut kelapa ke Negeri Tirai Bambu itu.

Serabut yang diekspor dari Sulawesi Tenggara (Sultra) ke China itu, nantinya akan digunakan sebagai bahan pembuatan jok mobil dan matras atau springbad.

Iklan Zonasultra

Direktur PT Weida Indocoir Prima, Irwan Ponto, mengungkapkan, pengelolaan serabut kelapa itu berawal dari keresahannya, yang melihat banyaknya serabut kelapa dibiarkan menjadi limbah atau dibakar percuma.

Berangkat dari situ, ia pun memutuskan untuk mengumpulkan seluruh serabut kepala dari sejumlah daerah di Sultra, seperti di daerah Kecamatan Kolono, Moramo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dan dari kabupaten Konawe Utara (Konut).

“Artinya begini, saya melihat ada potensi ekonominya. Daripada dibakar oleh masyarakat, daripada jadi limbah lebih baik kita kelola. Ini dikumpulkan dari pos-pos kita sendiri, yang kita beli dari masyarakat, dengan harga Rp5 ribu perkubik,” terang Irwan Ponto saat ditemui awak media, di Pelabuhan New Port Kendari, Selasa (7/7/2020).

Irwan mengaku, untuk harga beli 18 ton serabut kelapa yang dikirimnya ke China itu, dihargai sekitar Rp54 juta. Biaya pengiriman ditanggung oleh pemesan. Dengan adanya ekspor perdana ini, ia berharap pemanfataan serabut kelapa bisa meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat.

Ia pun menargetkan, akan melakukan ekspor serabut kelapa ke China, dengan total minimal 2 kontainer per harinya. Selain serabut kelapa, pihaknya juga tengah mengembangkan produk lain berupa bubuk sabut kelapa (cocopeat) yang biasa digunakan sebagai pupuk kompos dalam media tanam.

Perdana, Sultra Ekspor 18 Ton Serabut Kelapa ke China

Proses ekspor pun, dilakukan dari Pelabuhan New Port Kendari, yang dilepas langsung oleh Gubernur Sultra Ali Mazi, dan disaksikan oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sultra, Selasa (7/7/2020).

Gubernur Sultra, Ali Mazi, dalam kesempatan itu mengaku, sangat mendukung adanya ekspor produk asli dari Sultra itu. Terlebih, katanya, dengan adanya ekspor ini dapat meningkatkan ekonomi di Sultra.

“Kita kan juga di samping ekspor, kebutuhan di dalam negeri juga penting. Misalkan tadi untuk springbad, bikin dulu untuk kebutuhan kita, kemudian untuk kebutuhan daerah kita. Nantinya sisanya baru kita ekspor,” ujarnya.

Ia berharap, nantinya produksi serabut kelapa bisa mencapai 3 juta per bulannya. Hal itu untuk mendukung dan memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri. Dalam waktu dekat, ia pun akan bersurat ke Presiden RI untuk pengembangan produk lokal.

“Untuk menumbuhkan ekonomi ekspor, tapi untuk sarana dan prasarananya harus kita perbaiki. Kita tidak bisa kerja seperti ini, jadi tugas pemerintah provinsi ini untuk dikembangkan sehingga gairah ekonomi kita itu menjadi naik,” jelasnya.

Ali Mazi mengaku, akan menggelar pertemuan dengan para bupati dan wali kota untuk mengumpulkan seluruh pengusaha di Sultra, yang memiliki potensi untuk melakukan ekspor. Nantinya, produk-produk milik pengusaha lokal yang memiliki potensi ekspor itu, akan didorong untuk melakukan proses ekspor melalui Pelabuhan New Port Kendari.

Perdana, Sultra Ekspor 18 Ton Serabut Kelapa ke China“Semua administrasi sudah melalui Kendari, dukungan kita kalau ada kebutuhan infrastruktur akan kita berikan semua. Seperti di sana (areal pelabuhan) ada pembuatan jembatan, itu akan saya support sehingga seluruh akses menuju pelabuhan bisa menjadi mudah,” tutupnya.

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Wilayah IV, Makassar, Andi Yusmanto mengungkapkan, sebelumnya Sultra memiliki komoditas ekspor unggulan cocoa butter. Namun adanya pandemi Covid-19, membuat produksi komoditas tersebut terhenti.

Menurutnya, selain cocoa butter, wilayah Sultra memiliki beberapa komoditas yang dapat dijadikan komoditas unggulan, di antaranya kopra, kakao, beras, jambu mete, cengkeh, jagung, lada, kemiri dan sarang burung walet.

“Namun saat ini komoditas dari Sultra ini lebih banyak dikirim di pasar domestik, terlebih dahulu dan baru diekspor dari wilayah lain sebagai contohnya jambu mete. Untuk memenuhi persyaratan ekspor dari negara tujuan serabut kelapa ini, telah diperiksa dan dinyatakan bebas organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pemeriksaan fisik dan administrasi juga dilakukan terhadap serabut kelapa ini,” ungkapnya.

Pihaknya pun telah melakukan pemeriksaan sampel, yang dilakukan di laboratorium karantina tumbuhan, dengan pengujian secara mikroskopis untuk mengetahui adanya OPT pada serabut kelapa.

“Tidak ada serangga spesifik yang dipersyaratkan negara tujuan, kita hanya menjaga komoditas harus bebas dari hama gudang necrobia rufipes atau alphitobius spp,” katanya.

Sementara, Direktur Utama PT Pelindo IV, Prasetyadi berharap, dengan fasilitas penunjang Pelabuhan New Port Kendari sebagai pelabuhan bertaraf internasional, dapat memberikan kemudahan bagi para pengusaha dalam melakukan proses ekspor langsung dari Sultra ke luar negeri.

“Kami mempersembahkan terminal kontainer berskala internasional, inilah yang bisa kami persembahkan untuk Sultra. Menunjang perekonomian di Sultra, dan pelabuhan ini bisa menampung, mendatangkan kapal dengan kapasitas 10 ribu teu (kontainer),” ucapnya.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengatakan, saat ini Sultra butuh banyak dorongan agar komoditas ekspor yang bisa diekspor langsung bisa bertambah. Karantina Pertanian Kendari mencatat, hasil pertanian di Sultra lebih banyak dikirim ke daerah lain, dan kemudian di reekspor.

“Sangat disayangkan karena potensi pertanian di Sultra termasuk tinggi. Dan berdasarkan data IQFAST di Karantina Pertanian Kendari di semester awal tahun 2020, tercatat lalu lintas domestik 9 produk pertanian unggulan asal Sultra sebanyak 50.157,4 ton dengan nilai Rp861,7 miliar,” bebernya.

Komodits tersebut, sambungnya, masing-masing kopra sebanyak 24.282 ton, kacang mede sebanyak 4.424 ton, kakao 1.150 ton, Jagung sebanyak 5.417 ton, cengkeh sebanyak 6.938 ton, lada sebanyak 642 ton, pala 68 ton, kemiri sebanyak 1.431 ton dan beras sebanyak 10.984 ton.

Jamil mengatakan, di tiap unit pelaksana karantia pertanian, termasuk Kendari siap memberikan pendampingan jika ada masyarakat yang ingin melakukan ekspor produk pertanian. Layanan Klinik Ekspor di Pelabuhan Kendari New Port (KNP) akan siap menerima pengguna jasa setiap hari.

“Pendampingan Karantina Pertanian ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian untuk meningkatkan ekspor produk pertanian hingga tiga kali lipat, terlebih di masa pandemi ini sektor pertanian menjadi salah satu andalan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi Indonesia,” tutupnya. (*)

 


Reporter: Randi Ardiansyah
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib