Honda

Perjuangan Siswa di Koltim, Menyeberang Sungai Demi Mendapatkan Ilmu Agama

Koltim

ZONASULTRA.COM, TIRAWUTA – Menyeberangi sungai menjadi pilihan satu-satunya bagi tiga siswa dari desa Lere Jaya, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk bisa sampai di Madrasah Tsanawia Negeri (MTsN) Al-Barkah desa Sumber Jaya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Itulah yang dialami Sarifah Is Jumarnaini (15) siswi kelas III, Muhammad Takdir (13) siswa kelas I dan Jusriani (15) siswi kelas III setiap waktu sekolah tiba.

Tatkala air sungai lagi tinggi, mereka terpaksa naik rakit buatan. Dikala air sungai sedang surut mereka harus berjalan kaki menyeberangi sungai. Kadang kala sepatu atau seragam sekolah sampai basah kuyup.

iklan zonasultra

Jembatan kayu yang menghubungkan antara desa Lere Jaya dan desa Lambandia, Kecamatan Lalembu, Konsel kini sudah tak ada lagi. Semuanya rusak setelah dihantam banjir pada bulan Juni 2019 lalu.

Ada rasa ketakutan di raut wajah ketiga siswa ini saat menyeberang sungai. Ketakutan akan munculnya hewan predator secara mendadak, seperti buaya. Perasaan itu hilang ketika mereka berhasil lolos melewati sungai (sampai di tepi).

“Selama ini kami tidak pernah bertemu buaya di sungai. Tetapi kami tetap takut jangan sampai tiba-tiba buayanya muncul,” kata Sarifah saat dihubungi via telepon, Selasa (13/8/2019).

Wajar bila Sarifah, Takdir serta Jusriani dibayangi oleh rasa ketakutan yang demikian mendalam. Sebab di tahun 2005 lalu, warga setempat pernah mendapati seekor buaya di sungai bahkan sampai naik ke daratan.

Bersekolah di sekolah MTsN Al-Barkah adalah pilihan yang tepat bagi ketiganya. Sebab jarak tempuh sekolah dengan rumah mereka hanya satu kilometer saja. Itu lebih dekat jika dibandingkan dengan harus bersekolah di MTsN desa Bou, Kecamatan Lambandia yang berjarak 7 kilometer dari rumah mereka.

Menurut Suhardi (25), kakak kandung Saripah, Ia berinisiatif menyekolahkan adiknya ke MTsN Sumber Jaya Konsel lantaran di Lere Jaya sampai saat ini belum ada sekolah MTsN. Hanya gedung SMP biasa saja yang tersedia.

“Di MTsN banyak pelajaran agamanya, sampai 5 kali dalam seminggu dibandingkan dengan sekolah sederajatnya. Sangat baik untuk membentuk ahlak adik-adik kami. Sebenarnya banyak anak-anak dari desa Lere Jaya yang mau sekolah di sana, hanya karena faktor jalan maka sisa tiga orang saja yang bersekolah,”ujar Suhardi.

Suhardi berharap agar jembatan kayu yang selama ini digunakan bisa segera dibangun atau diperbaiki kembali oleh pemerintah desa, kecamatan maupun pemerintah kabupaten Koltim.

Sebab, bukan hanya siswa sekolah yang membutuhkan jembatan tersebut melainkan sebagian besar warga desa Lere Jaya khususnya dusun IV Sumalinggasu dan warga dusun V Camba.

“Warga dua dusun ini sangat aktif menyeberangi sungai. Ada yang hendak membeli kebutuhan memasak di pasar, ada pula yang menjual hasil perkebunannya di desa Sumber Jaya. Apalagi jarak dari Lere Jaya ke desa Sumber Jaya dekat,” ucap Suhardi.

Jalur sungai juga dibutuhkan oleh warga dari desa Lambandia dan Sumber Jaya. Terutama bagi mereka yang bertani atau berkebun di desa Lere Jaya.

“Pernah ada petani Sumber Jaya yang mau lihat sawahnya di Lere Jaya terpaksa harus memikul sepeda motornya ketika menyeberang sungai. Ada juga menyeberangi sungai sambil memikul pupuk. Untungnya saat ini ketinggian air sungai mencapai lutut orang dewasa,”tuturnya.

Sungai perbatasan antara desa Lere Jaya dengan desa Lambandia kondisinya cukup mengkhawatirkan. Sejak dihantam banjir bulan Juni kemarin, tepi sungai banyak longsor. Kini luas sungai sudah mencapai kurang lebih 20 meter.

“Makanya setiap pagi, saya selalu mengantar adik kami sampai ke sungai. Setelah mereka menyebrang, baru saya pulang lagi ke rumah. Kalau mereka pulang sekolah, kami harus tunggui lagi di tepi sungai. Kami merasa khawatir dengan adik-adik kami,”ungkap Suhardi. (A/SF)

 


Penulis: Samrul
Editor: Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib