iklan zonasultra

Permandian Air Panas dan Jejak Kerajaan Wawolesea

Permandian Air Panas dan Jejak Kerajaan Wawolesea
AIR PANAS WAWOLESEA - Permandian air panas Wawolesea, salah satu destinasi wisata populer di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Lokasinya tepat berada di Desa Wawolesea, Kecamatan Wawolesea, Konut. (Mardin/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Berada di antara perbukitan kapur, ratusan mata air membentuk gelembung seolah mendidih, dan tiada hentinya memuncratkan air panas dari perut bumi. Meski terpisah dengan lautan, air di tempat ini rasanya asin dan mengeluarkan aroma belerang.

Tempat itu bernama permandian air panas Wawolesea, kerap disebut Wales, salah satu destinasi wisata populer di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Lokasinya tepat berada di Desa Wawolesea, Kecamatan Wawolesea, Konut.

Air panas Wawolesea membentuk sebuah sumur yang mengalir ke kolam-kolam menyerupai sengkedan persawahan, makin menambah indahnya pemandangan. Dasar kolam-kolam yang tersusun dari bebatuan kapur itu berwarna putih memantulkan cahaya. Jika beranjak sedikit lebih jauh, mata akan disuguhi pemandangan gradasi air yang membiru.

Permandian ini berjarak sekitar 18 kilometer dari arah Wanggudu, ibukota Konawe Utara. Begitu memasuki kawasan air panas Wawolesea, deretan puluhan pohon pinus yang berjejer rapi bakal menyejukkan pandangan, apalagi ditambah hembusan angin sepoi-sepoi. Sungguh penat tak akan begitu terasa.

Masyarakat di sekitar permandian ini meyakini air panas Wawolesea berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit. Mereka tidak hanya memanfaatkannya sebagai tempat rekreasi dan melepas penat, tapi juga alternatif untuk berobat.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konut pun terus memoles permandian air panas Wawolesea dengan menambah fasilitas agar para pengunjung dapat menikmati objek wisata ini dengan nyaman. Seperti kolam-kolam kecil tempat berendam para pengunjung, gazebo dengan ukuran bervariasi, serta jalan setapak yang mengarahkan pengunjung ke lokasi kolam permandian.

Pada 2017, Dinas Pariwisata Konut bahkan menganggarkan Rp1 miliar untuk memoles objek wisata tersebut.

Jejak Kerajaan Wawolesea

SAWUNGA, merupakan tempat arena sabung ayam di masa kerajaan Wawolesea
SAWUNGA, merupakan tempat arena sabung ayam di masa kerajaan Wawolesea

Dibalik keindahan permandian air panas Wawolesea, terselip sebuah cerita sejarah Kerajaan Wawolesea.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Wawolesea, Burhanuddin menceritakan, Kerajaan Wawolesea merupakan kerajaan kedua tertua yang pernah berdiri di tanah Konawe sekitar abad ke-6 Masehi, setelah Kerajaan Padangguni yang diperkirakan berdiri pada abad ke-2 Masehi. Dan raja (Mokole) pertamanya adalah Arimatisima, seorang bangsawan dari kerajaan Kediri.

Singkat cerita, Arimatisima melakukan pelayaran dan akhirnya menetap di Wawolesea. Ia pun menjadikan wilayah tersebut sebagai satu kerajaan.

Burhanuddin juga menceritakan asal mula munculnya air panas tersebut. Saat itu pangeran dari Luwuk Banggai (Sulawesi Tengah) datang ingin mempersunting putri dari Raja Wawolesea. Namun lamaran sang pangeran ditolak oleh sang putri. Tidak terima dengan penolakan itu, pangeran pun marah dan menghentakkan tongkatnya ke tanah yang langsung memunculkan titik-titik mata air panas.

Namun cerita itu, seperti legenda-legenda lainnya di Tanah Air, masih perlu dikaji kebenarannya. Diduga di Wawolesea terdapat gunung aktif yang mengakibatkan mata air panas bermunculan.

Wawolesea sendiri terdiri atas dua suku kata. Pertama Wawo artinya atas dan Lesea artinya lintasan. Wawolesea berarti tempat persinggahan atau lalu lintas perdagangan sehingga semakin menguatkan Wawolesea sebagai suatu kerajaan dengan corak maritim agraris.

Jejak-jejak kerajaan di Wawolesea pun semakin kuat dengan berbagai temuan jejak arkeologi. Seperti tempat berdirinya tugu permandian Wales yang konon merupakan sawunga, tempat arena sabung ayam di masa Kerajaan Wawolesea. Di dekat tugu Wales, terdapat puluhan anak tangga kecil yang merupakan tempat duduk para penonton sabung ayam.

Tampak depan dari kapal besar yang disebut bangga ndaumo

Selanjutnya di sekitar tugu tampak kapal besar yang disebut bangga ndaumo. Kapal ini konon dipakai Raja Arimatisima saat berperang maupun bepergian jauh. Kemudian ditemukan juga tempat dililitkannya tali jangkar kapal bangga ndaumo.

Tempat dililitkan tali jangkar kapal Bangga ndaumo

Jika berjalan ke arah selatan terdapat bukit batu. Di bukit tersebut terdapat serpihan bebatuan kecil berbentuk kuburan kuno, di tengah-tengahnya terdapat pohon kecil yang dililitkan kain kafan. Warga sekitar percaya itu adalah kuburan Raja Wawolesea.

Kuburan kuno diduga makam Mokole Wawolesea

Jejak kerajaan juga terlihat dari kumpulan batu yang hancur dalam satu tempat. Menurut Burhanuddin, tempat itu dulu adalah sopura, sebuah patung yang sedang memegang palu atau menempa besi. Sehingga disimpulkan tempat tersebut merupakan pusat kegiatan masyarakat kerajaan Wawolesea membuat alat-alat tajam, baik untuk kebutuhan perang maupun kebutuhan ekonomi lainnya.

Tidak jauh dari patung sopura terdapat jembatan gantung, namun belum ada yang tahu kegunaan jembatan itu pada masa Kerajaan Wawolesea.

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Aswati mengatakan, berdasarkan jejak-jejak arkeologis yang terdapat di Desa Wawolesea membuktikanp pernah ada kehidupan kerajaan di sana.

Jembatan gantung, namun belum ada yang tau jembatan tersebut menghubungkan apa

Ketua Jurusan Ilmu Sejarah ini mengatakan, dahulu terdapat tiga kerajaan di tanah Konawe yaitu Kerajaan Wawolesea di Desa Wawolesea, Kerajaan Besulutu di Desa Pondidaha, dan Kerajaan Padangguni di Desa Abuki.

Ketiga kerajaan ini saling bertikai dan akhirnya disatukan menjadi satu kerajaan besar yaitu Kerajaan Konawe yang dipimpin oleh Wokoila (raja pertama Konawe). Menurut sejarah, tiga kerajaan tersebut yang menjadi cikal bakal terbentuknya Konawe.

Sopura yang artinya dahulu disitu terdapat sebuah patung yang sedang memegang palu atau sedang menempa besi.

“Kalau ada kerajaan berarti ada aktivitas manusia, terbukti dengan penemuan jejak arkeologisnya, seperti kuburan dan gua yang berada di Taipa. Jadi itu sudah membuktikan pernah ada kehidupan di sana,” ujar Aswati ditemui akhir Maret 2019 lalu.

Ketua Jurusan Arkeologi FIB UHO Syahrun menambahkan, kehidupan kerajaan di suatu wilaya dapat dijelaskan melalui peninggalan artefak-artefak, seperti benteng di Buton, ataupun gudukan tanah yang menunjukan unsur budaya Islam

“Artinya dari tempat terdapatnya kuburan secara arkeologi sudah bisa, karena kuburan masa lalu ciri-cirinya adanya gundukan tanah. Jadi ini sudah memenuhi syarat bahwa di Wawolesea pernah berdiri kerajaan,” ucapnya. (SF/*)

 


Penulis: M1
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib