iklan zonasultra

Potret Keindahan Tenun Masalili Muna dalam Balutan Busana Muslimah

TENUN MASALILI - Tampilan outfit dari kiri kekanan karya Irma Intan, Wignyo Rahadi, Agista Aryani Ali Mazi dan Herman. Busana ini ditampilkan dalam acara Fashion Show Busana Muslimah Tenun Masalili Tahun 2019 di Kota Kendari, Selasa (22/5/2019). (DOKUMENTASI BI)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Tenun Masalili dari Kabupaten Muna telah menginspirasi empat desainer untuk menciptakan busana muslimah dengan karakter dan ciri khas masing-masing, karya mereka sukses ditampilkan dalam acara Fashion Show Busana Muslimah Tenun Masalili Tahun 2019 di Kota Kendari pada Selasa (21/5/2019).

Keempat desainer ini adalah istri dari Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Agista Aryani Ali Mazi, desainer nasional Wignyo Rahadi, Irma Intan serta desainer Dekranasda Kabupaten Muna Herman. Agista menampilkan 5 outfit, Wignyo Rahadi 9 outfit , Irma Intan 10 outfit dan Herman 5 outfit.

Mereka mengusung tema berbeda, dalam kesempatan Talk Show sebelum peragaan busana oleh 10 model yang telah disiapkan. Keempatnya diberi kesempatan untuk memaparkan secara singkat koleksi apa yang bakal ditampilkan.

iklan zonasultra

Agista mengungkapkan, dirinya membuat gamis dengan detail yang tidak singkron tetapi penempatan warna selalu serasi. Kain yang digunakan perpaduan tenun Masalili dan kain umum untuk bahan gamis. Sasaran busana tersebut adalah untuk kalangan ibu kekinian.

TALK SHOW – Dari kiri kekanan Irma Intan, Agista Aryani, Wignyo Rahadi dan Herman. (Istimewa)

“Waktunya mepet, jadi saya kerja cepat dua minggu saja ini, diminta 10 saya buat lima saja,” kata Agista.

Sementara itu, Wignyo membuat busana muslim modern dengan kuning sebagai warna dominan sehingga memberikan kesan cerah. Sasaranya lebih untuk kalangan ibu muda.

Rangkaian koleksinya bertema Re-Masalili. Ragam motif tenun yang digunakan adalah motif Kaholeno Ghunteli dan Panino Toghe, yaitu motif tenun yang biasa dipakai masyarakat umum untuk aktivitas keseharian; motif Bhia Bhia yang kerap dipakai perempuan yang belum menikah; motif Dhalima yang umumnya dipakai kalangan bangsawan untuk upacara adat perkawinan.

Koleksi Re-Masalili dikembangkan dari inspirasi gaya busana Retro dengan menonjolkan permainan cutting yang bervolume, seperti model lengan setali, celana harem, rok draperi, dan dress aksen tumpuk, dilengkapi hijab model capuchon.

Karya Wignyo Rahadi

Kemudian Herman, dalam busana rancangannya ini mengusung tema Wuna The Low City dengan bahan busana kapododo tenun garis atau kain basic tenun Masalili.

Tambahan aksen bunga merah pada baju-bajunya itu memberikan makna Wuna yang artinya bunga serta membuat busana muslimah yang didominasi warna perak dan hitam jadi nampak lebih hidup. Sasaranya bagi kalangan ibu muda yang badannya berisi.

Kesan busana muslimah glamour dan lebih kuat pada warna hitam ditambahkan sentuhan potongan motif tenun Masalili berwarna merah, biru, hijau tosca, ungu dan cokelat disetiap detail baju adalah karya dari Irma Intan.

Karya Agista Aryani

Dalam ajang fashion ini ia menamakan koleksinya himeka dalam bahasa Sansekerta artinya sorot mata yang bercahaya dengan tampilan line siluet.

“Suatu kebanggaan bagi saya membuat baju muslimah dengan bahan tambahan tentun Masalili, dan itu sangat cantik motifnya bagus,” ungkapnya.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Sultra Suharman Tabrani mengungkapkan peyelenggaraan fashion show ini merupakan salah satu bentuk komitmen BI untuk ikut mengembang ekonomi kreatif daerah salah satunya tenun masalili yang berasal dari Kabupaten Muna.

Karya Herman

Sebagai langkah konkrit, pada bulan Oktober 2018 lalu BI Sultra telah bersama dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Muna, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Muna, Dinas Pariwisata Kabupaten Muna serta Bank Sultra Cabang Raha menandatangani MoU Local Economic Development Pengembangan Tenun Masalili di Kabupaten Muna. MoU tersebut mencakup antara lain sisi penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas, motif, desain dan pemasaran.

Berbagai kegiatan sudah dilakukan antara lain pelatihan penguatan kelembagaan, pelatihan peningkatan kualitas, motif dan desain oleh desainer nasional, mengikutsertakan tenun Masalili pada kurasi internasional yang hasilnya kain tenun Masalili lolos kurasi dan layak dijual hingga pasar internasional.

Karya Irma Intan

“BI Percaya langkah ini adalah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan inflasi didaerah khsusunya di Kabupaten Muna.Cita-cita besar bagaimana nantinya produski tentun ini akan menjadi besar dan diterima di pasaran,” jelasnya.

Kemudian, mengikutsertakan kain Masalili pada pameran-pameran skala nasional seperti Karya Kreatif Indonesia tahun 2017 dan 2018 di Jakarta, Festival Ekonomi Syariah (Fesyar 2018) di Balikpapan dan Gebyar UMKM 2018 di Kendari serta bekerjasama dengan pakar tenun sekaligus desainer senior Wignyo Rahadi untuk pengembangan kualitas, motif, desain, pengembangan produk dan pemasaran.

Tantangan Pengembangan Tenun Masalili

Upaya pengembangan tenun Masalili untuk dikenal seperti saat ini bukanlah pekerjaan mudah. Banyak tantangan dan masalah dihadapi para desainer terutama Wignyo Rahadi dan Herman yang memang sudah lebih lama berkecimpung dalam peningkatan kualitas tenun Masalili.

Menurut Wignyo, jenis kain tenun Masalili yang tebal dan harganya cukup mahal serta penggunaannya yang belum nyaman dipakai pencinta tenun menjadi kendala saat ini.

Padahal bagi Pengurus Dekranas Pusat Bidang Daya Saing Produk itu menyebutkan, potensi tenun Masalili untuk dikembangkan menjadi busana, sangat besar. Pasalnya, tenun Masalili memiliki ciri khas motif dan corak yang indah.

“Kalau mau membandingkan tenun yang ada disini dan diluar mana yang lebih bagus terlalu naif, soalnya setiap daerah itu punya tenun yang dan ciri khas masing-masing, dan tenun maslili punya peluang besar di dunia fashion,” ungkapnya.

Senada dengan Wignyo, Irma Intan menemukan kesulitan pada jenis kain tenun Masalili yang tebal, kemudian warna motif yang cukup rumit untuk dipadukan dengan material yang ringan. Terlepas dari hal tersebut, baginya pengembangan tenun Maslili menjadi tantangan tersendiri.

Karya dengan bahan tenun Masalili yang ditampilkan Irma dalam Fashion show ini, perdana dilakukan dan menjadi kebanggaan bagi Irma. Karena ia dapat mempromosikan budaya tenun Masalili di daerah kelahirannya.

“Saya bangga dan terharu. Saya adalah putri daerah yang lahir disini, tapi besar di Jakarta. Doa saya bisa terkabul berkarya dari budaya yang ada di Sultra,” tukasnya.

Selain itu, Herman juga menjelaskan, persoalan kain tenun Masalili yang dikatakan tebal baginya itu adalah ciri khas dan bagian dari budaya yang sudah ada di Muna sejak dulu.

Berbicara soal budaya, lanjutnya, harus tetap bisa dikembangkan dan dipertahankan tanpa harus menghilangkan nilai heritagenya.

“Kalau saya sih kendalanya lebih ke ketersedian bahan baku di masyarakat terutama benang, jadi saran ke BI lebih meniti beratkan penyelesaian masalah disitu,” ungkapnya.

Arah Pengembangan Tenun Masalili

Terlepas dari permasalah tersebut, BI Provinsi Sultra telah mengupayakan penyediaan sarana dan fasilitas pembuatan tenun Masalili agar proses produksinya bisa lebih cepat mudah. Sehingga, kebutuhan fashion akan tenun Masalili dapat terpenuhi.

Suharman mengutarakan, pihaknya akan memberikan bantuan berupa alat tenun bukan mesin (ATBM), mesin jahit dan alat-alat tenun lainnya kepada pengrajin tenun di Desa Masalili.

Menurut Wignyo, tenun Masalili harus jelas seperti apa proses pengembangan produksi bisnisnya dari hulu ke hilir. Konsep pengembangan ini tidak hanya secara teknis, melainkan dapat mengundang mindset berjiwa usaha atau berwirausaha para pembuat tenun, agar ekonominya bisa lebih cepat tumbuh.

Pasalnya, selain menjaga nilai budaya, harus pula dipikirkan bagiamana tenun Masalili dapat menjadi andalan pendapatan masyarakat setempat.

“Saya sudah cukup lama berkecimpung di desainer dan paham bidang tentun dan memperdalam seperti apa kain tenun dan mau diapakan kedepan,” jelasnya.

Sedangkan Herman berpendapat lain, bahwa pengembangan bisnis dari tenun Masalili tidak boleh menghilangkan atau mengubah nilai heritage pada kain tenun. Karena apa yang telah ada merupakan budaya yang telah dipertahankan secara turun temurun.

Mengembang konsep basic tenun Masalili yang ada saat tanpa harus mengubahnya, bagi Herman adalah cara awal yang bisa dilakukan sebelum benar-benar mengeksplore lebih jauh tenun masalili sampai ke skala industri busana.

“Kalau yang basic kita sudah kuasai, maka akan lebih mudah kita eksplore lebih jauh lagi mau diapakan tenun masalili ini di dunia industri fashion,” jelas Herman.

Menilai hal itu, Wignyo Rahadi menegaskan setiap desainer memiliki konsep berbeda dalam pengembangan busana salah satunya tenun.

Ia sendiri lebih mengedepankan konsep passion industri, tentang bagaimana agar produksi dari tenun Masalili sebagai pakaian yang nyaman dipakai dapat diterima di pasaran. Tentu, hal ini akan membantu pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

“Tapi tetap kita tanpa menghilangkan budaya dan nilai heritage,” tukasnya.

Irma Intan pun sependapat dengannya, bahwa ia berencana akan menampilkan tenun Masalili dalam balutan busana moderen di Moskow. Selain itu, ia juga memiliki keinginan untuk membuat baju kaos yang bermotif tenun Masalili.

Ia menilai kendala saat ini penggunaan tenun Masalili dalam kehidupan sehari-hari belum maksimal karena belum ada busana yang cocok dipakai dan nyaman.

Untuk diketahui, salah satu daerah penghasil tenun terbaik Sultra adalah Desa Masalili. Terletak di Kabupaten Muna, sebagai desa yang memiliki penduduk sebanyak 1.313 jiwa dari 353 kelapa keluarga, Desa Masalili memiliki kurang lebih 250 perempuan yang memiliki keterampilan dan berprofesi sebagai penenun.

Kegiatan menenun sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh ibu maupun gadis di Desa Masalili. Sejarah yang ada dipadukan dengan perkembangan zaman membuat tenun Desa Masalili terus diminati oleh masyarakat di Kabupaten Muna, bahkan Provinsi Sultra. Pemerintah Kabupaten Muna sendiri telah menetapkan Desa Masalili sebagai salah satu destinasi pariwisata kerajinan kain tenun melalui pengembangan program Kampung Tenun.

Dengan pengembangan tenun Masalili, diharapkan kearifan lokal dapat lebih dikenal dan diteriman oleh masyarakat luas, sehingga keragaman budaya Bumi Anoa berupa tenun dapat menambah warna di level nasional maupun internasional.

 


Reporter : Ilham Surahmin
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib