iklan zonasultra

Potret Kemiskinan di Bombana, Keluarga ini 20 Tahun Numpang di Gubuk

Potret Kemiskinan di Bombana, Keluarga ini 20 Tahun Numpang di Gubuk
RUMAH KELUARGA MANSUR - Kondisi rumah keluarga Mansur di lingkungan II, Kelurahan Boeara, Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini tak layak huni (MUHAMMAD JAMIL/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, RUMBIA – Potret kemiskinan di Kabupaten Bombana terlihat pada keluarga Andi Masyur (50). Sudah 20 tahun Mansyur dan keluarganya tinggal di gubuk berukuran 4 x 8 meter. Mereka pun hanya numpang di gubuk itu.

Gubuk di Kelurahan Boeara Kecamatan Poleang itu tampak atapnya terbuat dari daun rumbia (sagu) yang kerap bocor saat hujan, begitu pula dinding rumah yang rapuh dimakan rayap sehingga ada cela tembus pandang. Gubuk itu juga tak punya kamar mandi dan WC. Lantainya kerap dimasuki air saat hujan deras.

Mansur dan istrinya Rahmawati (45) berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. 30 tahun lalu mereka datang di Bombana, tepatnya di Kelurahan Barangga, Poleang. Di Kelurahan inilah Mansyur dan Istrinya menikah pada 23 tahun lalu.

3 tahun setelah menikah, keluarga ini pindah rumah dengan numpang di rumah milik saudara Rahmawati, di Kelurahan Boeara, Kecamatan Poleang. Rumah gubuk itulah yang mereka tinggali sampai sekarang ini. Dalam gubuk diisi Andi Mansyur, istrinya, 6 orang putrinya, dan seorang cucu.

(Baca Juga : Perjuangan Anak-Anak di Pelosok Bombana Demi Pendidikan)

Perekonomian mereka yang tak kunjung membaik, membuat mereka tak dapat memiliki rumah sendiri, hidup apa adanya dan serba kekurangan. Pria yang disapa Mancing itu sehari-hari hanya bekerja sebagai seorang petani (pekebun).

“Beginilah kehidupan kami, maklum saja, kami tak punya apa-apa, makan saja susah,” ujar Andi Mansyur di kediamannya awal pekan lalu, Senin (15/4/2019).

Potret Kemiskinan di Bombana, Keluarga ini 20 Tahun Numpang di Gubuk

Mansyur hanya terdiam dan menunduk saat mendengar pertanyaan tentang cara menghidupi keluarga, dan bantuan apa yang diberikan pemerintah untuk mereka. Tak ada bantuan apapun yang mereka dapatkan, baik bantuan beras sejahtera (rastra), bantuan rumah (Baruga Moico), bantuan program keluarga harapan (PKH) dan lainnya.

“Yaa begini saja, kadang anak-anak hanya makan kacang saja kalau lapar, kadang juga kalau ada beras mereka bisa makan enak. Belum lagi ada anak yang sekolah, sangat susah kalau sudah bilang mau bayar ini dan itu,” tutur Mansur.

Untuk menghidupi istri dan anaknya, Mansur sering menggunakan waktunya untuk bekerja di kebun bersama istrinya. Pasangan ini mengolah lahan milik orang lain dengan status bagi hasil.

Melalui lahan itu, Mansyur memanfaatkan dengan menanam kacang tanah dan merawat kebun coklat yang juga milik orang lain. Hasil kebun itu dijual seadanya untuk kebutuhan hidup keluarga.

(Baca Juga : Kisah Aco, Buruh Serabutan di Kendari yang Berkurban Sapi)

“Biasanya kalau dari bagi hasil itu untuk kacang tanah saya dapat Rp 10 ribu dari harga Rp 20 ribu per kilogram, kadang paling banyak itu setiap panen hanya 30 kilogram jadi itu kami andalkan untuk bertahan sampai musim panen berikutnya tiba,” jelas Mansyur.

“Ada juga coklat (kakao), tapi tidak banyak hasilnya. Pembagiannya juga sama, hanya itu yang kami harapkan,” tambahnya.

Anak-anaknya Putus Sekolah

Keluhan hidup tak hanya terungkap dari kepala keluarga itu. Putri bungsu Mansyur bernama Lilis menghampiri awak media ini dan mencurahkan derita yang kerap dialaminya di bangku pendidikan.

Lilis yang saat ini mengenyam pendidikan di bangku kelas 6 SD menjadi satu-satunya anak Mansyur yang bertahan untuk sekolah. Semua kakaknya memilih untuk putus sekolah karena hidup yang serba kekurangan.

“Tinggal saya yang sekolah, semua saudaraku tak lagi sekolah, kakakku yang pertama juga berhenti sekolah sejak tamat SMA dan lainnya bekerja membantu ayah ibuku di kebun,” ungkap Lilis.

“Kak, saya mau sekolah dan sebentar lagi saya akan masuk di SMP. Tapi saya belum membayar komite, baju sekolahku sudah sobek, tapi ayah ibuku tak punya uang,” keluh gadis kecil ini dengan raut sedih.

Selain itu, Fitri (22) putri sulung Mansyur juga mengungkapkan, dirinya terpaksa putus sekolah lantaran tidak mau membebani orang tua. Fitri awalnya berkeinginan besar untuk sekolah dan bekerja membahagiakan orang tuanya, tapi kondisi ekonomi yang sangat menghimpit keluarga jadi kendala.

“Sejak saat itu saya hanya tinggal di rumah bantu ibu, kadang juga di kebun. Kami juga pengen dapat bantuan seperti mereka-mereka dikampung ini, tapi saya juga tidak paham mengapa tidak ada,” terang Fitri.

*Pemerintah Terkendala Kartu Identitas

Secara terpisah, Kepala Lurah Boeara, Masjati mengaku pihaknya kebingungan untuk memberi bantuan pada keluarga Mansyur. Sebab, identitas keluarga ini menjadi kendala sejak beberapa tahun terakhir.

“Kami mau masukkan dalam data penerima bantuan, tapi tidak ada KTP (Kartu Tanda Penduduk). Keluarga ini sebelumnya tinggal di Kelurahan Barangga, Kecamatan Poleang dan pindah di Kelurahan Boeara,” kata Masjati.

Sepengetahuan Masjati, keluarga itu tinggal di Kelurahan Boeara dengan meminjam rumah saudara istri Mansyur. Rumah itu telah mereka tinggali lebih dari 10 tahun lamanya.

(Baca Juga : Getir Hidup La Ode Pomusu, Sang Juara Internasional Layang-Layang Tradisional)

“Rumah itu kan milik saudaranya yang saat ini sudah mempunyai rumah batu di Kelurahan Barangga. Jadi, mungkin karena bukan rumahnya, makanya rumah itu tidak terurus. Mereka juga biasanya di kebun dan jarang tinggal di rumah itu,” katanya.

Masjati beralasan, pihaknya pula kerap mencari tahu identitas keluarga itu untuk dilakukan pendataan. Namun, setiap kali disambangi, tak ada KTP dan juga jarang ada di rumah.

“Yang jelasnya, kami akan segera menemui keluarga tersebut untuk pendataan penduduk, dan diupayakan bisa dimasukkan dalam daftar penerima bantuan,” ujar Masjati.

Soal kartu identitas ini, Mansyur mengaku telah mengurusnya di pihak Kelurahan Boeara namun tak kunjung didapatkannya.

 


Kontributor : Muhammad Jamil
Editor : Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib