iklan zonasultra

iklan zonasultra

Refleksi Akhir Tahun: Melongok 2017, Mengintip 2018

52
Rekha Adji Pratama, MA. Penulis adalah Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI
Rekha Adji Pratama

Pertarungan kontestan politik terutama di Jakarta telah menorehkan luka batin cukup dalam terutama yang berhubungan dengan relasi agama, suku, toleran dan intoleran serta munculnya gap- gap baru yang diciptakan manusia entah di media sosial maupun di ranah publik.

Rekha Adji Pratama, MA. Penulis adalah Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI
Rekha Adji Pratama

Banyak sekali sampah-sampah visual yang menjajah mata dengan ujaran-ujaran kebencian seakan-akan membangun opini publik bahwa ada friksi antar pemeluk agama, pengelompokan orang berdasarkan tokoh yang sedang maju mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah. Penulis melihat dan mengamati Jakarta yang paling parah.

Akibat kontestasi politik muncul istilah kecebong, bumi datar, kaum cingkrang, onta, komunis dan sebutan yang mengarah pada perbedaan ras dan suku, agama yang dipertajam oleh komentar-komentar manusia yang membuat sampah kata-kata di media sosial. Kata makian, argumen sempit tentang agama, egoisme yang terbangun akibat kekecewaan karena jagoannya kalah atau mereka yang mabuk kemenangan. Semuanya masih terbawa dan selalu menimbulkan polemik ramai di portal berita Internet. Pun kadang Pesohor agama ikut-ikutan membuat panas suasana dengan khotbah yang memprovokasi alih-alih memberi kesejukan jiwa.

Perbedaan sengaja dibangun dan masyarakat dibuat bimbang dengan situasi kerukunan yang sedang berada di ujung tanduk. Di sisi lain kebudayaan yang menjadi andalan Indonesia untuk bisa bersaing ditingkat global rasanya masih sepi-sepi saja. Geliat kesenian, pameran seni, kegiatan-kegiatan yang membangun kepedulian dan nasionalisme masih kalah seru dengan gegap gempita politik yang mengaru biru. Padahal jika kebudayaan maju, kesenian menjadi andalan masyarakat untuk bersatu melestarikan warisan luhur bangsa bukan mungkin politikpun tak mampu memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Lihat saja betapa manusia telah terkotak-kotak dalam jebakan diskusi menyesatkan tentang agama, tentang ideologi, tentang ekonomi. Negara lain sudah melesat mencari kreasi untuk memajukan bangsa dengan inovasi digital dan bisnis kreatif yang bisa dibanggakan, sementara Indonesia masih sibuk dengan jargon-jargon agama yang kontraproduktif.

Apakah selamanya Indonesia tidak mampu bersama-sama bangkit satu suara untuk memajukan bangsa. Lihat saja Presiden sudah jungkir balik memberi contoh tentang bagaimana membangun mental tangguh dengan prinsip kerja-kerja, kerja. Tapi banyak generasi muda yang sibuk mencari celah memecah belah masyarakat dengan ujaran-ujaran kebencian yang tidak mendukung sama sekali percepatan pembangunan.

Tahun 2017 di sepanjang tahun itu ujaran kebencian bermunculan bahkan banyak video-video di Youtube yang akhirnya memicu polemik termasuk video “penistaan” agama yang sengaja disebar dan diedit sehingga terkesan pelaku video tersebut dengan sengaja melecehkan agama. Akhir kisah dramatis video tersebut akhirnya membawa pemimpin fenomenal yang dikagumi dunia harus meringkuk di penjara. Dan meskipun sudah dipenjara ujaran-ujaran kebencian terus bergema, sampai spanduk”panas”pun muncul sampai ke pelosok daerah yang masyaraktnya belum bisa mencerna utuh ujaran-ujaran yang memprovokasi sehingga akhirnya hanya ikut-ikutan dengan fitnah visual yang terus membobardir mata.

Penulis tidak bilang banyak orang Indonesia bodoh, tapi budaya literasi rupanya belum mengakar dalam kehidupan. Ketika melihat berita di media sosial misalnya banyak orang langsung emosi hanya karena judul yang terkesan provokatif. Padahal isi dan judulnya belum tentu sama. Tapi karena budaya membaca belum terbangun dengan cepat emosi menyambar dan menganggap bahwa dengan hanya membaca judul makan spontan mereka langsung mencecar dan mencerca penulisnya sampai harus perang opini yang bisa dikatakan Joko Sembung Bawa Golok (gak nyambung G*bl*k).

Tapi penulis sih masih optimis bahwa suasana di media sosial itu tidak signifikan dengan realita sebenarnya. Di lingkungan RT (tempat penulis tinggal) suasana panas masalah keyakinan itu tidak terlihat. Kerukunan masih terasa, toleransi masih terasa, meskipun berbeda jauh ketika ingat masa kecil penulis di kampung halaman. Dulu relasi antar agama baik sekali bahkan kami bisa dengan entengnya ikut gotong royong membangun Masjid, gereja bersama-sama. Dan ketika masih ada ritual kenduri perbedaan agama tidaklah menjadi masalah. Kami biasa duduk bersama berdoa menurut keyakinan masing-masing meskipun harus dipimpin oleh pemuka agama dan kami sama sama khidmad untuk mengikuti tradisi tersebut.

Tahun 2017 memang penuh gejolak, tapi mau tidak mau pemerintah sudah berusaha keras membangun infrastruktur (jalan, jembatan, waduk, sarana prasarana listrik, perumahan murah, pengerukan sungai dan antisipasi bencana kebakaran hutan yang suda mendapatkan progress positif.

Rasa optimis terbangun jika masyarakat optimis mendukung niat baik pemimpin. Jika tidak ada kepercayaan terhadap pemimpin dan penguasa maka akan sia-sia saja berharap negara akan maju dan bisa mengejar ketertinggalan teknologi dengan negara lain. Sebetulnya potensi SDM Indonesia amat luar biasa. Banyak generasi muda cerdas yang mampu berpikir out of the box yang menjauh dari zona nyaman, contohnya membangun startup. Menerobos mitos dengan bekerja mandiri dengan memanfaatkan teknologi.

Indonesia patut berbangga bahwa banyak anak muda yang mempunyai bekal cukup untuk bersaing ditingkat Internasional. Banyak desainer, komikus bertaraf internasional, banyak sineas yang mampu berbicara dan menghasilkan karya film begitu dihargai di luar negeri. Dalam bidang teknologi penerbangan pun Indonesia tidak kalah dengan luar negeri, terbukti dengan PT DI yang sudah sering menerima pesanan pesawat dari luar negeri dan dalam negeri.

Indonesia banyak menggantungkan harapan pada kaum muda yang mempunyai visi jauh ke depan untuk membangun bangsa, bukan mereka yang terlalu sibuk nyinyir di media sosial mengolok-olok pemerintah dan hobi debat kusir tentang ideologi dan agama. Indonesia butuh pemimpin politisi yang mendamaikan, menyejukkan bukan yang selalu memprovokasi masyarakat dengan kata-kata “preman” yang cenderung menyudutkan dan menyerang pribadi pemimpin dan pemerintahan. Indonesia butuh manusia pekerja yang lebih banyak berkarya daripada hanya berkoar-koar di media, debat sana debat sini hingga melahirkan kaum Nyiyirisme.

Mengintip Tahun 2018
Tahun 2018 akan bertambah seru karena sejumlah daerah (171 daerah serentak menggelar pemilu pada tanggal 27 Juni 2018) secara serentak akan memilih pemimpinnya. Belajar dari DKI Jakarta. Kontestasi politik hendaknya lebih fair. Adu program, adu prestasi, adu rekam jejak. Itu yang diharapkan masyarakat. Menang kalah dalam kontestasi itu hal biasa tapi menyimpan luka karena kekalahan dengan aksi “Nyinyir” dan balas dendam tidak baik. Masyarakat harus belajar sportif dan legowo.

Kalah dan menang adalah itu resiko sebuah persaingan dan kontestasi. Ketika menang hendaknya pemimpin bersama-sama merajut persatuan dan bekerjasama membangun daerahnya tanpa perlu mengusung isu-isu yang mengundang perpecahan. Partai harus belajar menjadi corong masyarakat, bukan sibuk sendiri mecari proyek setelah terpilih menjadi wakil rakyat.

Jangan sampai masyarakat apatis dengan politik dan selalu berpikir bahwa dunia politik itu dunia yang gelap, licik dan sarat kepentingan. Ilmu politik itu diciptakan untuk menjembatani kepentingan masyarakat dengan diplomasi wakilnya di parlemen untuk menyuarakan kemauan rakyat bukan mengibuli rakyat dengan rekayasa-rekayasa yang ujung-ujungnya masyarakat atau rakyatlah yang menjadi korban dari “intrik-intrik para wakil rakyat” yang hanya ingin menggelembungkan isi perutnya sendiri.

Resolusi 2018
Semoga Tahun 2018 menjadi tahun teduh, tahun tenang. Masyarakat tidak lagi disibukkan dengan debat kontraproduktif di media sosial. Era digital saat ini bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai cara efektif mengembangkan bisnis dan mengembangkan komunikasi cepat dan tepat, sehingga masyarakat semakin terhubungkan tanpa sekat jauh dekatnya jarak. Masyarakat bisa memanfaatkan kemajuan era digital untuk membangun relasi positif bukan saling menebarkan ujaran kebencian. Salam damai. Selamat Natal dan Tahun baru bagi yang merayakannya. Damai di Hati damai di Bumi.

 

Oleh : Rekha Adji Pratama, MA.
Penulis adalah Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib