iklan zonasultra

Tangis Haru Keluarga Warnai Upacara Pelepasan Prajurit 725 Woroagi

Tangis Haru Keluarga Warnai Upacara Pelepasan Prajurit 725 Woroagi
UPACARA - Salah satu anak dari prajurit Batalyon 725 Woroagi yang menangis di pundak ayahnya, Kamis (8/11/2018). Para prajurit ini akan ditempatkan di perbatasan Papua Nugini yakni Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang. (LUKMAN BUDIANTO/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Tangis haru ibu-ibu maupun anak-anak terdengar di Pelabuhan Nusantara Kendari, Kamis (8/11/2018) pagi. Mereka adalah keluarga prajurit Batalyon Infanteri 725 Woroagi yang pagi tadi dilepas untuk bertugas di daerah perbatasan Indonesia – Papua Nugini.

Seperti yang dirasakan Yulianti, salah satu istri dari prajurit yang diberangkatkan. Dengan menggendong anak laki-lakinya yang masih berusia 9 bulan, ia mengaku ikhlas berpisah sementara waktu dengan suaminya.

Iklan Zonasultra

Yulianti tidak banyak bicara, ia lebih banyak diam. “Anak saya 8 bulan. Iya di situ ada suami saya,” kata Yulianti.

Banyak pemandangan haru di sana. Ada beberapa anak yang ingin terus berada di sisi ayahnya, ada pula anak yang tidak berhenti menangis.

Prajurit yang akan mengemban tugas di daerah perbatasan Papua Nugini secara keseluruhan berjumlah 450 oranf. Sebanyak 161 diantaranya sudah berkeluarga, dan sisanya masih bujang.

Mereka akan bertugas selama 9 bulan di daerah perbatasan dengan menyebar di 17 posko yang sudah dipetakan di daerah perbatasan Papua Nugini yakni Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang.

Komandan Batalyon 725 Woroagi Letkol Hendry Ginting yakin pasukannya mampu mengemban tugas negara dengan baik.

“Ada pelatihan tambahan kepada mereka jadi saya yakin pasukan saya mampu menjalankan tugas dengan baik di tempat tugasnya,” ucap Ginting.

Gubernur Sulawesi Tenggara Alimazi bertugas sebagai inspektur upacara dalam pelepasan prajurit TNI itu. Sesuai jadwal, seluruh pasukan akan berangkat pukul 15.00 Wita sore nanti dengan menggunakan KRI Teluk Parigi.

Ditaksir mereka akan berada di lautan selama delapan hari sebelum sampai di tempat tujuan. (B)

 


Kontributor: Lukman Budianto
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib