iklan zonasultra

Tenaga Kesehatan Sultra punya Peluang Besar Kerja di Luar Negeri

Tenaga Kesehatan Sultra punya Peluang Besar Kerja di Luar Negeri
SEMINAR- Yayasan Alkobar Kendari menggelar seminar nasional pemanfaatan peluang dan perkembangan karir pekerja migran Indonesia khsusnya tenaga kesehatan perawat dan bidan, Minggu (29/12/2019) di Aula Poltekkes Kendari. (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM).

ZONASULTRA.COM, KENDARI– Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mengatakan bahwa lapangan kerja untuk tenaga kesehatan di luar negeri peluangnya sangat besar. Terutama di negara maju seperti Belanda, Jepang dan beberapa negara di Timur Tengah serta Eropa.

Edy menjelaskan, saat ini tenaga kesehatan seperti perawat dan bidan sudah mulai jenuh, pasalnya jumlah perguruan tinggi yang setiap tahun terus bertambah dan dinilai terlalu banyak. Di Indonesia ada sekitar 700 perguruan tinggi untuk perawat dan bidan ada 500 perguruan tinggi. Semua perguruan tinggi ini pun telah mewisuda ribuan tenaga kesehatan perawat dan bidan setiap tahun.

“Sultra termasuk salah satu yang banyak, hampir di setiap kabupatennya juga ada perguruan tinggi,” katanya dalam acara seminar nasional pemanfaatan peluang dan pengembangan pekerja migran tenaga kesehatan, Minggu (29/12/2019) di Aula Poltekkes Kendari.

Namun, lanjut Edy, yang menjadi permasalahan adalah lapangan pekerjaan, padahal mereka telah menginvestasi waktu dan biaya untuk menyelesaikan studinya. Artinya, tidak seimbang antara produksi tenaga kesehatan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia dalam negeri.

Menurutnya, ini akan menjadi konsen Komisi IX DPR RI agar para perawat dan bidan serta tenaga kesehatan lainnya dapat melanjutkan jenjang karirnya sebagai tenaga migran kesehatan di luar negeri. Apalagi peluang di sejumlah negara maju kebutuhan untuk posisi pekerjaan tersebut sangat tinggi.

Edy menyebutkan di negara maju yang ada di Timur Tengah, Eropa, Jepang, Taiwan banyak warganya enggan menjadi tenaga kesehatan seperti perawat dan bidan. Sehingga kebutuhan untuk tenaga pelayan kesehatan itu sangat tinggi. Nah, Indonesia sebagai negara berkembang pun melihat peluang ini. Tapi bukan hanya di Indonesia negara lain seperti Filipina, India, Nigeria dan Bangladesh pun menjadi negara penyuplai tenaga migran kesehatan tersebut.

“Jadi untuk hal ini juga kita harus bersaing dengan negara yang siap mensuplai tenaga kesehatan yang mempunyai skill dan pengetahuan mempuni. Mau tidak mau ini era globalisasi,” ujarnya.

Untuk itu, Komisi XI DPR RI pun telah mengusulkan peningkatan anggaran untuk pelatihan tenaga kesehatan migran asal Indonesia melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tahun 2020. BNP2TKI pun menjalin kerjasama dengan beberapa perusahan swasta pengelola peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya tenaga kesehatan.

Senior Consultant Concorsium Indonesia Migrant Workers (CIMW) Sudiharto James menjelaskan bahwa Jepang merupakan negara yang membutuhkan tenaga kesehatan sekitar 60.000 orang hingga tahun 2025 mendatang. Namun, Jepang merupakan negara dengan standar kualifikasi pekerja yang cukup tinggi, terutama bagi tenaga kerja yang berasal dari luar Jepang.

Sehingga, dengan persyaratan tinggi itu pihaknya bersama BP2NTKI berkomitmen melahirkan pekerja migran kesehatan yang memiliki skill dan pengetahuan. Tentunya, melalui kerjasama tersebut pihaknya berencana mendirikan sebuah Bank Pekerja Migran Indonesia guna melahirkan tenaga migran yang siap bekerja di luar negeri.

“Kami hadir untuk meningkatkan kompetensi melalui review, retraining dan sertifikasi. Kalau sudah melalui tiga tahap itu artinya mereka sudah siap 50 persen tinggal mengasah lagi bahasa negara tujuan bekerja,” ungkapnya.

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto
Edy Wuryanto

Pembina Yayasan Alkobar Muhammad Alkobar selaku pelaksana kegiatan seminar mengungkapkan bahwa kegiatan ini digelar untuk membuka peluang pekerja bagi perawat dan bidan yang ada di Sultra. Dirinya cukup perihatin dengan kondisi tenaga kesehatan saat ini, karena mereka tidak mampu diserap tenaganya di fasilitas kesehatan yang ada.

Padahal untuk menyelesaikan studi kesehatan membutuh biaya yang tidak sedikit, dan banyak harapan dari keluarga mereka saat lulus bisa langsung mendapatkan pekerjaan.

“Saya cukup perihatin saja, artinya melalui kegiatan ini kita harus bersama-sama memikirkan nasib dari perawat dan bidan kita,” ujarnya.

Kobar juga menambahkan bahwa mereka ketika bekerja di luar negeri akan mampu memeroleh penghasilan yang lebih besar sehingga mampu perekonomian dirinya sendiri dan keluarganya.

Untuk diketahui, Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNI ) Sultra mencatat alumni perawat di Sultra khususnya di Kota Kendari tiap tahunnya mampu mencetak tenaga kerja keperawatan kurang lebih dari 1.000 orang.

Namun kondisi yang memperihatikan adalah peluang kerja untuk perawat di Sultra sangat tidak mampu menyerap mereka. Bahkan ada yang mengabdi atau bekerja sebagai pegawai kontrak dengan gaji Rp400 ribu. (a)

 


Reporter: Ilham Surahmin
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib