Tampilan Desktop



Terbenamnya Matahari PAN: Malin Kundang Politik dan Hengkangnya Nur Alam
173 Dibaca

kaleidoskop_pan

Kaleidoskop 2016 Berita zonasultra.com

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Nur Alam, nama yang begitu lekat dengan Partai Amanat Nasional (PAN), berlambang matahari putih. Sinar menyilaukan si Matahari Putih di Sulawesi Tenggara (Sultra) tak lepas dari jejak langkah gerakan politik Nur Alam yang menghentak.

Titik tolaknya adalah ketika Nur Alam bersama PAN sukses mengenggam jabatan gubernur pada awal 2008, usai menumbangkan calon gubernur incumbent Ali Mazi. Sejak saat itu PAN mulai melakukan lompatan-lompatan kuantum di bawah komando Nur Alam sebagai ketua partai.

Perlahan tapi pasti, kader-kader PAN mulai didudukkan di legislatif dan eksekutif, mendominasi di antara partai-partai yang ada. Bahkan Golkar, beringin yang rindang dan mengakar sejak orde baru dikikis pelan secara permanen. Hingga 2012 Nur Alam kembali mempertahankan kursi gubernur untuk periode kedua, si Matahari Putih terus bersinar.

4 Lawan 1, Asrun Mustahil Pimpin PAN Sultra

MUSWIL PAN SULTRA – Ketua Umum DPP PAN Zuklkfli Hasan (tengah) didampingi Nur Alam, Ketua DPRD Sultra, Abdurahman Saleh dan sejumlah pengurus DPP dan DPW PAN Sultra pada Muswil IV yang digelar di Grand Hotel Clarion Kendari, Jum’at malam (18/2/2016). (MUHLIS/ZONASULTRA.COM)

 

Puncak kemilaunya adalah saat Pilcaleg 2014, kursi PAN mayoritas di parlemen kabupaten, kota dan provinsi. Legislator-legislator PAN di semua kabupaten kota se-Sultra menduduki kursi pimpinan DPRD termasuk DPRD provinsi. Tak terkecuali Istri Nur Alam, Asnawati Hasan yang kemudian resmi mengganti nama jadi Tina Nur Alam juga melenggang mulus ke Senayan.

Tak hanya itu, selama 6 tahun (2008-2014) taktik “perang” Nur Alam di bawah panji-panji PAN si Matahari Putih benar-benar tanpa tanding. Sejumlah kadernya berhasil menggenggam jabatan kepala daerah. Tersebutlah nama-nama seperti Asrun di Kendari, Umar Samiun di Buton, Kery Syaiful Konggoasa di Konawe, AS Thamrin di Bau-Bau, dr. Baharuddin di Muna, Tafdil di Bombana, dan Ridwan Zakaria di Buton Utara. Selain itu terdapat wakil bupati Arhawi di Wakatobi.

# Embrio Keretakan dan Malin Kundang

Kedekatan  dengan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa yang begitu karib merupakan salah satu faktor langgengnya Nur Alam menahkodai PAN. Bahkan ia mencatatkan rekor tiga periode menjadi 01 di PAN Sultra.

Hingga tahun 2014, PAN masih tampak kokoh dan terbentengi oleh Nur Alam, kader-kader berbaris rapi dalam satu barisan di belakang Nur Alam. Tak ada riak-riak, tak ada tunduk-tunduk menanduk.

Nur Alam Maju Lagi Ketua PAN Sultra, Zulkifli: Peluang Dia Terbuka

Zulkifli Hasan

Namun dibalik gegap gempita itu, tahun 2014 sesungguhnya adalah awal semua polemik di tubuh PAN Sultra. Di tahun emas tersebut, Hatta Rajasa yang maju jadi calon wakil presiden kalah. Bahkan di Sultra Hatta yang berpasangan dengan Prabowo tak bisa melampaui perolehan suara Jokowi-Jusuf Kalla.

Seolah air mancur yang tak bisa bertahan terlalu lama di udara sebagaimana matahari yang pasti terbenam. Begitu menyebrang di tahun 2015, kader-kader di bawah kendali Nur Alam mulai menunjukkan geliat perlawanan dan berani membelakangi Nur Alam.

Pemicunya ada di pusat. Hatta yang kalah Pilpres hendak mempertahankan kedudukannya di PAN dengan maju Ketua Umum PAN periode kedua. Saingannya, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.

Saat itu Nur Alam loyal berada di jajaran pemenangan Hatta. Namun sayang tak semua jajaran PAN di Sultra benar-benar mengekor pada Nur Alam. Hatta Rajasa kalah tipis 6 suara dan ada 4 suara rusak.

Awalnya kader-kader PAN Sultra tertutup dengan berpalingnya sejumlah suara dari Hatta Rajasa dan adanya suara rusak. Namun hal itu kemudian diakui oleh Ketua PAN Konawe Selatan Djainal, bahwa penyebab Zulkifli Hasan menang tipis karena suara dari Sultra.

Efek domino dari kemenangan Zulkifli tersebut terus bergulir dan kait-mengkait dengan kepentingan politik kader dan kepentingan Nur Alam di Bumi Anoa. Dalam perhelatan pemilihan kepala daerah (Pikada) 2015 mulai banyak kader yang unjuk gigi, secara terang-terangan berlawanan dengan Nur Alam. Diantaranya Ketua PAN Konawe Utara (Konut) Raup, Ketua PAN Kolaka Timur (Koltim) Farida dan Ketua PAN Konawe Selatan (Konsel) Djainal.

Di Pilkada Konut Nur Alam mendukung Aswad Sulaiman sedangkan Raup maju calon wakil bupati mendampingi Ruksamin dengan rekomendasi PAN. Di Pilkada Koltim Nur Alam mendukung Toni Herbiansyah sedangkan Farida maju calon wakil bupati berpasangan dengan Syamsu Alam juga dengan rekomendasi PAN. Sementara di Konsel Djainal menolak menandatangani SK rekomendasi PAN untuk Asnawi Syukur, yang tak lain kakak Nur Alam.

Langkah balik kanan para kader tersebut membuat Nur Alam yang dikenal sebagai sosok pemain tenang dan elegan, tiba-tiba murka. Kala berkampanye di Koltim untuk Toni, Nur Alam menyindir Raup dan Farida sebagai Malin Kundang. Tokoh cerita rakyat paling hina asal Sumatra Barat yang durhaka terhadap ibunya dan dikutuk jadi batu.

“Iya benar mereka (Malin Kundang) tidak melalui proses dan mekanisme kepartaian. Desk (tim penjaringan) Pilkada di daerah itu tidak pernah ada, gak pernah berkordinasi dengan DPW langsung ke pusat,” aku Nur Alam di kantor Gubernur Sultra, Kamis di medio 6  Agustus 2015.

Imbas perlawanan tersebut, membuat sejumlah calon kepala daerah yang didukung Nur Alam mengalami kekalahan, Asnawi kalah di Konsel, Aswad di Konut, Baharuddin di Muna, Ridwan Zakariah di Buton Utara, dan Nur Sinapoy di Konawe Kepulauan.

# Ambisi Asrun dan Hengkangnya Nur Alam

Eksistensi Nur Alam sebagai 01 PAN Sultra kembali terwacana akan dipertahankan dengan tampil kembali sebagai Ketua PAN Sultra untuk periode ke-empat. Namun ada kader lain yang juga berambisi, dialah Ketua PAN Kendari Asrun, menjabat walikota Kendari. Ia hendak mengambil tongkat estafet kepemimpinan Nur Alam, bukan saja sebagai Ketua PAN tapi juga sebagai gubernur pada 2018 mendatang.

Nur Alam ,gubernur sultra

Nur Alam

Langkah Asrun tersebut ternyata mendapat respon negatif dan memicu gejolak di internal PAN Sultra. Dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) yang berlangsung 18-19 Februari 2018 pentolan-pentolan PAN menginginkan Nur Alam kembali memimpin, bukan Asrun.

Pada 18 Februari 2016 di hadapan pewarta Ketua PAN Buton Syamsu Umar Abdul Samiun menegaskan dari 17 DPD kabupaten/kota 15 daerah masih menginginkan Nur Alam memegang kendali nahkoda PAN.

“Ternyata dari 17 kabupaten kota se-Sultra, 15 itu masih menginginkan Nur Alam. Kalau tidak kita semua 15 DPD akan mengundurkan diri dari PAN,” ujar  Umar saat  itu.

Panasnya gesekan politik kedua poros utama Nur Alam dan Asrun tersebut memuncak pada malam pembukaan Muswil yang dihadiri Zulkifli Hasan. Ketua PAN Konsel Djainal dan Ketua PAN Buton Umar Samiun terlibat kontak fisik di tengah-tengah keramaian peserta Muswil. Untungnya Nur Alam sendiri yang langsung melerai dan menenangkan keduanya.

Dalam Muswil terpilih 5 anggota formatur yang ditentukan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN. Kelimanya Yakni Nur Alam (Gubernur Sultra), Kery Saiful Konggoasa (Bupati Konawe), Umar Samiun (Bupati Buton), Asrun (Walikota Kendari) dan Abdurrahman Saleh (Ketua DPRD Sultra). Selama satu bulan, kelimanya diminta membulatkan kesepakatan untuk memilih satu yang menjadi ketua.

Tak mau berlama-lama, keesokan harinya, tepatnya 20 Februari 2016 rapat formatur langsung dilaksanakan dengan dipimpin Abdurrahman Saleh meskipun tak dihadiri Nur Alam. Hasilnya tiga formatur, Abdurrahaman Saleh, Kery Saiful Konggoasa, Umar Samiun sepakat memilih Nur Alam memimpin PAN untuk periode ke- empat, namun Asrun tetap berkeras memilih dirinya sendiri. Suara masih lonjong, Nur Alam pun kandas. Karena tak bulat maka dikembalikan ke DPP.

Tiga bulan kemudian tepatnya 19 Mei 2016, DPP PAN akhirnya mengumumkan nahkoda PAN ke depan, setelah  sempat tersiar kabar bahwa Kery Syaiful Konggoasa yang ditunjuk. Namun apalah daya, keputusan DPP di luar spekulasi dan tak masuk dalam cakar-cakaran politik regional. Umar Samiun jadi Ketua dan Sekretarisnya Adriatma Dwi Putra (ADP), putra kandung kedua Asrun.

Asrun

Asrun

Di permukaan, hal itu dianggap sebagai jalan tengah dan langkah bijaksana yang diambil DPP untuk meredam gejolak di PAN Sultra, dengan mengakomodir poros Asrun dan Nur Alam. Namun di sisi lain, munculnya ADP dinilai merupakan plan B Asrun yang ingin mengamankan pintu pencalonannya dalam pemilihan gubernur dan melihat peluang kelak Umar akan lengser karena diintai KPK.

Nur Alam pada akhirnya ditarik jadi Wakil Ketua Umum PAN dan Asrun tetap di PAN Kota Kendari. Namun berbeda dengan Asrun yang tampak santai dengan putusan itu, Nur Alam malah melancarkan protes.  Penunjukan tersebut tanpa persetujuanya.

“Tidak bisa ditempatkan begitu saya harus diminta kesediaan orang karena saya bukan pegawainya partai. Kalau pegawai itu siap ditempatkan dimana saja. Jadi kalau mau ditempatkan ditanya dulu. Jadi tidak otomatis apa yang menjadi keinginan mereka di Jakarta saya langsung terima,” ujar Nur Alam, Jumat, 20 Mei 2016.

Sebulan kemudian, 10 Juni 2016 Nur Alam meluapkan kekecewaannya dengan berucap di media massa bahwa telah hengkang dari PAN baik sebagai kader maupun pengurus. Namun pernyataan itu hanya sebatas lisan, secara tertulis dirinya masih resmi di bawah naungan si Matahari Putih.

# Terbenamnya Matahari PAN

Kilau gemilau matahari PAN di Sultra menunjukkan tanda-tanda redup dan sebentar lagi akan terbenam. Dua sosok sentral di PAN, Nur Alam dan Ketua PAN Sultra Umar Samiun dijerat oleh KPK.

Nur Alam ditetapkan tersangka pada 23 Agustus 2016 terkait kasus tambang. Tak lama berselang dalam kasus yang berbeda Umar juga jadi tersangka pada 19 Oktober 2016. Ia tersandung kasus suap Akil Mochtar dalam Pilkada Buton 2012.

Kedua kasus tersebut saat ini terus bergulir di KPK. Nur Alam pernah mengajukan pra peradilan namun kalah. Kini Nur Alam tentu tak akan fokus lagi membesarkan PAN. Begitu pula Umar, bahkan jika status hukumnya naik maka kemungkinan akan segera lengser dari 01 PAN Sultra.

Sosok alternatif di PAN saat ini adalah Walikota Kendari Asrun yang kini jadi poros utama. Terbukti Asrun dapat dengan dengan mudah meraih kembali jabatan Ketua PAN Kendari saat Musyawarah Daerah Juni 2016 lalu. Posisinya dikuatkan juga oleh putranya yang memegang kendali PAN Sultra sebagai sekretaris.

Muswil PAN Bergejolak, Umar Samiun: Kalau Asrun Terpilih Jadi Ketua, 15 DPD Keluar Dari Partai

Umar Samiun

Pembuktian lain Asrun jadi sosok sentral yakni putranya, ADP dapat dengan mudah mendapat rekomendasi PAN dalam pencalonan walikota. Padahal ada kader PAN lainnya juga menginginkan rekomendasi PAN yaitu Ketua DPRD Kendari Abdul Rasak.

Selain itu, loyalis-loyalis Nur Alam mantan tim formatur Abdurrahman Saleh dan Kery Saiful Konggoasa sejauh ini tak menunjukkan perlawanan. Keduanya malah mendukung ADP dalam kontestasi pemilihan walikota Kendari 2017.

Yang dapat menghalangi langkah Asrun hanyalah gerakan bawah tanah kader-kader PAN yang menolak dirinya. Kebijakan DPP yang tak menentu juga bisa jadi batu sandungan bagi Asrun yang kini memasuki perode kedua memimpin Kendari, ibu kota provinsi.

Namun melihat timbangan-timbangan politik jangka panjang, Asrun yang akan maju jadi gubernur paling berpeluang untuk dibesarkan dan membesarkan PAN. Apalagi jika ADP terpilih jadi walikota Kendari. Akan jadi duet pamungkas di tubuh PAN.

Kini, “bolanya” ada di DPP atau boleh jadi sudah dipegang Asrun. Bentuk bola yang bulat bundar, pergerakannya akan selalu keluar dari tebakan dan prediksi sebagaimana dinamika politik di Bumi Anoa yang berubah hanya dalam hitungan menit. Hanya kalkulasi politik yang tepat dan jitu yang akan membuat si Matahari Putih tak jadi terbenam atau terbit kembali dengan sinar yang lebih terang-benderang. (A*)

 

Penulis: Muhamad Taslim Dalma
Editor: Tahir Ose

Tagged with:
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0822 9264 2997

0853 4040 4947

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com