iklan zonasultra

Toronipa dan Pekerjaan Rumah Kita (2)

Andi Syahrir
Andi Syahrir

Judul tulisan pertama adalah “Toronipa dan Agen Khusus di Belakangnya”. Menjelaskan panjang lebar PT. SMI sebagai special mission vehicle (SMV). Ada satu yang tersisa. Bahwa perusahaan ini memperoleh opini positif dari lembaga pemeringkat keuangan nasional maupun internasional.

Masing-masing dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan peringkat AAA domestik. Maknanya, bahwa kemampuan PT SMI memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya adalah superior jika dibandingkan secara relatif terhadap obligor Indonesia lainnya.

Iklan Zonasultra

Pefindo menilai SMI sebagai entitas terkait pemerintah yang sangat penting, potensi pembiayaan infrastruktur yang sangat besar, profil permodalan yang sangat kuat, serta indikator likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang kuat.

Lalu dari Fitch Rating, sebuah lembaga pemeringkat global, memberi peringkat BBB internasional untuk risiko gagal bayar adalah stabil. Ini adalah peringkat kedua tertinggi setelah AAA.

Apa arti dari semua ini? Tulisan kedua ini akan mengulasnya. Bahwa pembangunan infrastruktur ruas jalan Kendari-Toronipa didukung oleh perusahaan pembiayaan nasional yang tangguh. Agen khusus yang benar-benar punya kualifikasi.

Bahwa pengajuan pinjaman Pemprov Sultra membangun ruas jalan Kendari-Toronipa dinilai bakal mendorong pembangunan infrastruktur yang membawa kemanfaatan sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

PT SMI menerima setidaknya empat argumentasi yang dibangun Pemprov Sultra, mengapa Toronipa masuk dalam prioritas pembangunan. Pertama, mendukung Teluk Kendari sebagai Kawasan Strategis Provinsi dari sudut kepentingan ekonomi.

Kedua, menghubungkan Kawasan Industri Konawe (KIK) di Morosi serta Kawasan Industri Morowali di Provinsi Sulawesi Tengah dengan Kendari New Port sebagai jalur logistik dan manusia yang lebih efisien.

Ketiga, mengembangkan kawasan pariwisata yang mengintegrasikan potensi wisata Pulau Bokori, Pulau Saponda, Pulau Saponda Laut, Pulau Hari, perkampungan Suku Bajo, dan Pantai Toronipa.

Keempat, sebagai jalur alternatif apabila jalur logistik utama Kolaka ke Kendari terputus dikarenakan bencana alam yang sering terjadi, seperti tanah longsor dan jembatan putus.

Memilih Toronipa sebagai kawasan prioritas pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari pembangunan ekonomi lokal. Dalam perspektif lokal, Toronipa merupakan bagian dari wilayah paling pinggir Kabupaten Konawe. Yang untuk menjangkaunya, akan lebih efisien jika melintasi Kota Kendari terlebih dahulu ketimbang melalui jalan-jalan milik kabupaten. Ini persoalan.

Pelayanan publik bagi warga Kecamatan Soropia dan sekitarnya menjadi kurang efisien, termasuk efektifitas pengelolaan Pantai Toronipa dan Pulau Bokori. Itulah juga sebabnya, kenapa Pemkot Kendari sempat mengutarakan agar kawasan Toronipa dan Pulau Bokori di bawah pengelolaan mereka.

Jadi sebenarnya, langkah Pemprov Sultra yang “mengambilalih” pengembangan kawasan Toronipa adalah “durian runtuh” bagi pemerintah kabupaten dan terutama masyarakat Konawe.

Itu akan dimulai dengan naiknya harga tanah milik masyarakat di sekitar kawasan itu. Sektor-sektor perekonomian, terutama usaha mikro dan kecil akan tumbuh. Baik jasa, barang, termasuk kuliner.

Pekerjaan rumah kita semua adalah memberikan masukan tentang konsepsi ideal pengelolaan Toronipa sebagai sentrum pengembangan kawasan ekonomi baru. Bagaimana mengoptimalkan empat manfaat utama pembangunan Toronipa yang dikemukakan di atas.

Kita tentu tidak ingin mengulang sejarah demi sejarah pembangunan yang tidak berkelanjutan. Mengulangi pembangunan aset-aset fisik lalu kemudian dibiarkan mangkrak tak terurus. Sehingga pertanyaan tentang mengapa harus Toronipa –bukan yang lain– menjadi tidak relevan lagi.

Pertanyaan kita berikutnya, bagaimana Toronipa dikelola? Pemprov Sultra sudah mengawalinya. Mengajak sektor swasta terlibat mengelola kawasan itu. Kita perlu merangkul entitas-entitas lokal yang ada. Agar berkelanjutan.

Seperti kata Direktur PT SMI Edwin Syahruzad, “coming together is a beginning. Staying together is progress, and working together is success”. Bersama adalah permulaan. Tetap bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah kesuksesan. Itu, kata Mario Teguh…ehh…***

 


Oleh : Andi Syahrir
Penulis merupakan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sulawesi Tenggara

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib