iklan zonasultra

TRC Provinsi Sebut Masih Banyak Kekurangan dalam Penanganan Banjir Konawe

BANJIR KONAWE - Bencana banjir yang merendam Desa Anggoro, Kecamatan Wonggeduku, Konawe. Ketinggian air di desa ini mencapai 3 meter. Selain pemukiman warga, banjir juga merendam ribuan hektar areal persawahan. (Restu Tebara/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, UNAAHA – Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyebut masih terdapat banyak kekurangan dalam penanganan bencana banjir yang menerjang Kabupaten Konawe.

Kepala Seksi Kesiap-siagaan BPBD Sultra, yang juga anggota TRC Pusat, Dodi Rizal Puuwawoa mengaku sangat menyayangkan tidak difungsikannya rencana kontingensi (renkon) yang telah disiapkan sejak 2017 lalu. Dalam renkon tersebut sudah dijabarkan terkait proses penanganan bencana banjir jika terjadi.

“Saya yang buat renkon itu. Harusnya Kabupaten Konawe itu lebih siap dalam hal penanganan bencana banjir karena sudah ada renkonnya,” kata Dodi di posko utama tanggap darurat bencana banjir, Sabtu (15/6/2019) malam.

iklan zonasultra

Baca Juga : VIDEO : Kondisi Terkini Banjir Konawe, Air Masih Merendam Rumah Warga

Dodi menyebut proses penanganan banjir di Kabupaten Konawe Utara (Konut) lebih cepat dibandingkan Konawe, sementara Konut sendiri belum memiliki renkon.

Kata dia, seandainya Kabupaten Konawe tidak akan pernah menggunakan renkon yang telah dibuat dan bahkan telah dilakukan uji renkon, pemerintah pusat pasti tidak akan menggelontorkan anggaran dalam jumlah besar.

“Percuma dilakukan uji renkon kalau renkonnya tidak difungsikan. Seharusnya Konawe ini lebih siap dibandingkan Konawe Utara karena kita sudah pernah melakukan uji renkon yang dihadiri penjabat tinggi yang ada di Konawe. Ini malah kebalik justru Konut yang lebih siap,” terangnya.

Baca Juga : Takut Kecurian, Warga Tiga Desa di Konawe Menolak Dievakuasi

Dalam renkon sudah dijabarkan hal-hal yang seharusnya dilakukan jika terjadi bencana banjir, mulai dari struktur posko tanggap darurat bencana, proses evakuasi, pendirian posko lapangan, rencana kegiatan operasi setiap harinya, papan informasi data pengungsi, proses pendistribusian logistik, sampai proses penanganan pascabanjir.

Saat ini proses pendistribusian logistik untuk para korban banjir disebut asal-asalan. Sebab BPBD Konawe tidak memiliki data valid jumlah bantun yang masuk maupun yang keluar dari posko. Bahkan Kapolres Konawe telah mewarning akan menyiagakan personel di tiap-tiap posko logistik. (b)

 


Kontributor: Restu Tebara
Editor: Jumriati
Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib