iklan zonasultra

Veteran Pejuang Kemerdekan Asal Sultra Alwi Mansyur Wafat

Mengenal Jejak Perjuangan Alwy Mansyur, Veteran Asal Sultra
VETERAN - Alwy Mansyur merupakan salah satu veteran asal Sulawesi Tenggara (Sultra) yang lahir di Walay, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe pada tahun 1926 silam. (Ilham Surahmin/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia asal Sulawesi Tenggara (Sultra) Alwi Mansyur menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Bahteramas Kendari, Senin (1/7/2019) pukul 06.55 Wita, di usia 93 tahun.

Pihak keluarga Alwi Mansyur, Sukanto Toding melalui pesan WhatsApp membenarkan kabar duka tersebut. Sukanto mengatakan, almarhum akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Watubangga Kendari, Selasa (2/7/2019) pukul 09.00 Wita.

“Semoga Almarhum diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dilapangkan jalannya, dan kembali dengan husnul khotimah,” ujar Sukanto.

Sosok Alwi Mansyur

Alwi Mansyur merupakan salah satu veteran asal Sultra yang lahir di Walay, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe pada 1926. Sosoknya dikenal menjadi salah satu anggota Tri Komando Rakyat (Trikora) yang membantu pejuang kemerdekaan Indonesia dalam misi pembebasan Irian Jaya dari genggaman Belanda.

Baca Juga : Mengenal Jejak Perjuangan Alwy Mansyur, Veteran Asal Sultra

Tepatnya Desember 1962 sampai dengan Juni 1978, Alwi memenuhi panggilan (Trikora) dengan mengikuti latihan militer yang bermula dari Kijantung, lalu pindah ke KLAPA II, pusat komandan Jon Pelopor selama tiga bulan. Kemudian September hingga November 1962, mengikuti persiapan bergerilya di Irian Jaya menghadapi bom waktu yang ditinggalkan Belanda.

Pada 7 Desember 1962 hingga 30 April 1963, dirinya bertugas di Perwakilan Pembina VRI Karesidenan Manokwari masa United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) sebagai Sekretaris Perwakilan.

UNTEA adalah organisasi bentukan PBB untuk mengatasi penyelesaian konflik Indonesia dan Belanda yang saling memperebutkan Irian Barat. Di mana berdasarkan perjanjian New York, Belanda harus menggangkat kaki dari Irian Barat selambat-lambatnya 1 Mei 1963.

Selain menjadi sekretaris perwakilan, dirinya juga merangkap pada urusan tugas pendidikan dan kebudayaan khusus bagi pemuda Irian Jaya yang ingin tugas belajar di Jawa. Dirinya dipercayakan untuk memiliki senjata api guna membantu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) serta menjaga rumah masing-masing.

Ia juga aktif sebagai pembina pramuka, pembina umat, veteran serta konsolidasi membina kesatuan bangsa dan keamanan terutama menjelang Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), sehingga kiat pemerintah RI waktu itu memenangkan PEPERA di Irian Jaya tahun 1969.

Sebelum melakukan perjuangan untuk pembebasan Irian Jaya, Alwy Mansyur juga telah melakukan perjuangan kemerdekaan pada September hingga Desember 1945 sebagai anggota kesatuan pemuda Luwu Palopo di masa pimpinan Andi Makkulau (Putra Datu Luwu), yang kemudian bersama kawan dan teman pimpinan Andi Hamid, Pakki, Andi Attas ikut usaha merampas senjata Jepang gudang SBHK Jepang, di Furukawa/Walenrang.

Riwayat Pendidikan

Alwy Mansur awalnya bersekolah di Volkssrhool selama tiga tahun di Tongauna tahun 1936, kemudian lanjut di sekolah VSS atau sekolah sambungan di Wawotobi tahun 1938. Setelah itu melanjutkan pendidikan di Kyoin Yoseisjo (Sek. Guru Jepang) Palopo, 1945.

Baca Juga : Mengenal Sosok Soroziduhu Faruwu, Bendahara Dinas Cipta Karya Sultra

Lalu, pada tahun 1950 ia bersekolah di Sekolah Normal (SGB) Makassar hingga 1952. Mendapatkan gelar sarjana muda Pendidikan Makassar tahun 1969 Univeristas Hasanuddin. Selanjutnya Sarjana Pendidikan di Universitas Halu Oleo (Unhalu) saat itu tahun 1983 dan terkahir melanjutkan pendidikan di Sekolah Pimpinan Administrasi (SESPA) tahun 1982 di Jakarta.

Piagam dan Tanda Penghargaan

Sebagai pejuang kemerdekaan tak sedikit penghargaan yang telah diperoleh pria yang dikenal fasih berbahasa Inggris ini. Tak tanggung-tanggung 16 penghargaan telah diraihnya seperti tanda penghargaan dari Presiden RI sebagai sukarelawan Trikora, penghargaan menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sukarelawan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI masa UNTEA/PP tahun 1963

Penghargaan juga diberikan dari Kepala Kantor Perwakilan Pemerintahan RI masa UTEA/PBB atas bakti Trikora Mei 1963, tanda penghargaan dari Dephankam/ Kepala Adm. Veteran RI atas masa bakti dua kali veteran dan tanda pengahargaan dari Kodim 1711- Korem 171 Manokwari atas bantuan penyelamatan keamanan tahun 1969.

Satya Lancana Karya Satya 25 tahun di Irian Jaya tahun 1977, Satya Lencana LVRI, Satya Lencana Perjuangan angkatan 45, Satya Lencana Satya Dharma, Satya Lencana Penegak, Satya Lencana GOM IX (TRIKORA), Satya Lencana PEPERA, Satya Lencana Klas I.

Piagam penghargaan dari Kwarnas Gerakan Pramuka Pusat, Piagam penghargaan Presiden, kenaikan pangkat I tingkat, bakti TRIKORA serta piagam pembina penataran P-4 tingkat nasional sebagai penatar P-4 di tingkat I Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). (b)

 


Kontributor: Sri Rahayu
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib