Tampilan Desktop


Anak di Lampu Merah
131 Dibaca

Andi Syahrir Alumni Pascasarjana UHO & Pemerhati Sosial

Andi Syahrir

 

ZONASULTRA.COM- BARANGKALI usianya belum lepas delapan tahun. Tampilannya tak beda dengan anak lampu merah lainnya. Kumal. Satu yang membedakan. Dia tak lagi sanggup berdiri menjajakan bungkusan kerupuk yang saban hari dijajakannya. Ketika yang lain sibuk mengetuk pintu mobil, dia hanya terduduk lesu.

Matanya sayu. Sesekali nyaris menutup. Pantatnya sepertinya enggan berpisah dengan lantai trotoar. Lengannya bertumpu pada pahanya dan hanya melirik malas ketika dengan perlahan kendaraanku berhenti di dekatnya. Dia sangat mengantuk. Lelah dan mengantuk.

lampu_merah

Ilustrasi

Beberapa puluh detik kendaraan berhenti di persimpangan lampu merah itu. Dia tak juga beranjak. Hatiku iba. Kuraih lembaran dua ribu rupiah. Kuserahkan ke anakku yang duduk di sampingku untuk memberikannya. Anak perempuanku di sebelah kanan lebih dekat ke arahnya. Lagi pula Aku tak lagi melihatnya karena kendaraan berhenti tepat di sampingnya. Lagipula, dia enggan berdiri.

Saat lembaran uang dua ribuan itu diangsurkan anakku, dia berdiri menerimanya. Wajahnya mengangguk sopan. Tapi matanya tetap saja mengantuk. Dia kemudian kembali duduk. Berpindah tempat. Dan lampu hijau pun menyala. Arus kendaraan bergerak lagi.

Tiba-tiba perasaanku dihinggapi rasa sesal. Dari sekian pecahan uang yang ada di dashboard, mengapa lembaran dua ribuan itu yang kupilih. Mengapa bukan lembaran sepuluh ribuan atau yang dua puluh ribuan. Sudahkah anak itu makan? Jangan-jangan dia seharian di jalanan dan hingga pukul 20.30 ini, barangkali dia belum makan malam.

Aku sama dengan anak itu. Belum makan malam juga. Tapi Aku di jalanan dalam rangka mencari makanan. Sedangkan dia sedang berkutat mencari makan. Sangat jauh bedanya. Rasa sesalku berubah menjadi malu yang luar biasa.

Di kendaraan ini, terangkut dua porsi sate untukku dan istriku. Sekantong rambutan pesanan anak perempuanku. Dan sebuah durian montong kesukaan anak laki-lakiku. Dan Aku hanya memberikan selembar dua ribuan ke anak kelelahan yang dilanda kantuk itu. Rasanya, aku ingin berbalik. Menemui anak itu lagi dan memberinya uang dengan pecahan yang lebih besar.

Tapi hatiku berperang dengan pikiranku. Pikiranku menang. Kuabaikan kata hatiku. Kakiku lalu menginjak pedal gas lebih dalam agar segera tiba di rumah. Segera menikmati sate itu demi memenuhi desakan lambungku yang sedari tadi keroncongan.

Tapi kata hatiku tidak menyerah. Ketika bungkusan makanan itu terbuka dan mencium aromanya yang harum, Aku kembali teringat anak itu. Tepatnya, mengingat dengan jelas matanya yang sangat mengantuk. Terbayang dengan jelas sorot matanya yang memaksa dia tetap bertahan.

Kenapa bukan makanan itu saja yang kamu berikan ke anak itu, lalu kamu membeli lagi, demikian batinku. Atau setidaknya berilah lembaran uang yang lebih besar. Argumentasi itu terus menggodam batinku.

Aku makan tak lagi seberapi-api ketika membayangkan menu itu saat masih di jalanan. Kucoba menghibur hatiku dengan mengingat larangan pemerintah, jangan memberi uang kepada pengemis dan anak jalanan agar mereka tidak semakin marak. Itu sedikit argumentatif. Menghibur rasa bersalahku.

Tapi hatiku kembali membantah. Anak itu lelah. Ngantuk. Dan pastinya lapar. Aku dilanda rasa malu yang berat. Malu ketika membayangkan diriku berbicara tentang humanisme ke banyak orang. Malu ketika mengingat diriku kerap berbicara kemanusiaan ke banyak orang. Dan malu pada idealismeku sendiri tentang cita-cita mengentaskan kemiskinan jelata yang terpinggirkan. Dengan apa? Dengan duit dua ribuan? Batinku mengejek semakin beringas dan kejam.

Kuhibur diriku dengan membuka buah-buah rambutan yang kubeli untuk putriku. Baru kusadari ternyata buah itu masih belum matang benar dan kecil-kecil. Padahal, penjualnya menunjukkan buah yang besar-besar dan ranum di bagian atas.

Tadi memang tak lagi kuperhatikan bagaimana si penjual itu mengisi kantongannya. Biasanya kupilih sendiri. Kali ini tidak. Kuyakini dia mengambil di tumpukan bawah yang tersembunyi. Ini juga satu penyakit pedagang kecil.

Lalu kubuka durian montongnya. Kucoba sedikit rasanya. Rasa kecewa dan dongkol langsung menyatu di batinku. Durian itu hambar sekali. Rasanya seperti sedang memakan gumpalan salju. Tawar. Ingin kucari penjualnya, dan kusuruh mencicipi durian jualannya itu.

Mendadak Aku dihinggapi sebuah kesadaran. Begitulah rejeki. Tidak semua untuk kita. Bahkan yang di depan mata pun seringkali bukan untuk kita. Harapannya, rambutan yang ranum dan besar-besar. Realitanya, cukup yang kecil-kecil. Maunya, durian montong yang manis, berkulit tebal, berbiji kecil. Tuhan menakdirkan lain. Cukup yang hambar seperti salju.

Sama dengan rejeki anak lampu merah itu. Dia berharap, ada dermawan yang memberi dia lembaran sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau seratus ribuan. Tapi Allah hanya memberinya dua ribuan. Tuhan memberikan takaran-takaran rejeki yang dengan itu setiap hamba menyerap hikmah darinya.

Rambutan kecil dan durian hambar itu kuterima sebagai hukuman atas kepelitanku berbagi. Aku mencoba menghadirkan kebahagiaan atas sanksi itu. Maafkan Aku, Tuhan. Maafkan Aku, anak kecil di lampu merah. (***)

 

Penulis :  Andi Syahrir

Alumni Pascasarjana UHO & Pemerhati Sosial

Redaksi ZonaSultra

View all contributions by Redaksi ZonaSultra

Website: http://zonasultra.com

1 Comment

  1. abdul 24 Januari 2016 at 9:10 pm

    Semoga niat baik seirama dgn upaya pengentasan kemiskinan

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anak di Lampu Merah
0 Dibaca

ZONASULTRA.COM- BARANGKALI usianya belum lepas delapan tahun. Tampilannya tak beda dengan anak lampu merah lainnya. Kumal. Satu yang membedakan. Dia tak lagi sanggup berdiri menjajakan bungkusan kerupuk yang saban hari dijajakannya. Ketika yang lain sibuk mengetuk pintu mobil, dia hanya terduduk lesu.

Matanya sayu. Sesekali nyaris menutup. Pantatnya sepertinya enggan berpisah dengan lantai trotoar. Lengannya bertumpu pada pahanya dan hanya melirik malas ketika dengan perlahan kendaraanku berhenti di dekatnya. Dia sangat mengantuk. Lelah dan mengantuk.

Beberapa puluh detik kendaraan berhenti di persimpangan lampu merah itu. Dia tak juga beranjak. Hatiku iba. Kuraih lembaran dua ribu rupiah. Kuserahkan ke anakku yang duduk di sampingku untuk memberikannya. Anak perempuanku di sebelah kanan lebih dekat ke arahnya. Lagi pula Aku tak lagi melihatnya karena kendaraan berhenti tepat di sampingnya. Lagipula, dia enggan berdiri.

Saat lembaran uang dua ribuan itu diangsurkan anakku, dia berdiri menerimanya. Wajahnya mengangguk sopan. Tapi matanya tetap saja mengantuk. Dia kemudian kembali duduk. Berpindah tempat. Dan lampu hijau pun menyala. Arus kendaraan bergerak lagi.

Tiba-tiba perasaanku dihinggapi rasa sesal. Dari sekian pecahan uang yang ada di dashboard, mengapa lembaran dua ribuan itu yang kupilih. Mengapa bukan lembaran sepuluh ribuan atau yang dua puluh ribuan. Sudahkah anak itu makan? Jangan-jangan dia seharian di jalanan dan hingga pukul 20.30 ini, barangkali dia belum makan malam.

Aku sama dengan anak itu. Belum makan malam juga. Tapi Aku di jalanan dalam rangka mencari makanan. Sedangkan dia sedang berkutat mencari makan. Sangat jauh bedanya. Rasa sesalku berubah menjadi malu yang luar biasa.

Di kendaraan ini, terangkut dua porsi sate untukku dan istriku. Sekantong rambutan pesanan anak perempuanku. Dan sebuah durian montong kesukaan anak laki-lakiku. Dan Aku hanya memberikan selembar dua ribuan ke anak kelelahan yang dilanda kantuk itu. Rasanya, aku ingin berbalik. Menemui anak itu lagi dan memberinya uang dengan pecahan yang lebih besar.

Tapi hatiku berperang dengan pikiranku. Pikiranku menang. Kuabaikan kata hatiku. Kakiku lalu menginjak pedal gas lebih dalam agar segera tiba di rumah. Segera menikmati sate itu demi memenuhi desakan lambungku yang sedari tadi keroncongan.

Tapi kata hatiku tidak menyerah. Ketika bungkusan makanan itu terbuka dan mencium aromanya yang harum, Aku kembali teringat anak itu. Tepatnya, mengingat dengan jelas matanya yang sangat mengantuk. Terbayang dengan jelas sorot matanya yang memaksa dia tetap bertahan.

Kenapa bukan makanan itu saja yang kamu berikan ke anak itu, lalu kamu membeli lagi, demikian batinku. Atau setidaknya berilah lembaran uang yang lebih besar. Argumentasi itu terus menggodam batinku.

Aku makan tak lagi seberapi-api ketika membayangkan menu itu saat masih di jalanan. Kucoba menghibur hatiku dengan mengingat larangan pemerintah, jangan memberi uang kepada pengemis dan anak jalanan agar mereka tidak semakin marak. Itu sedikit argumentatif. Menghibur rasa bersalahku.

Tapi hatiku kembali membantah. Anak itu lelah. Ngantuk. Dan pastinya lapar. Aku dilanda rasa malu yang berat. Malu ketika membayangkan diriku berbicara tentang humanisme ke banyak orang. Malu ketika mengingat diriku kerap berbicara kemanusiaan ke banyak orang. Dan malu pada idealismeku sendiri tentang cita-cita mengentaskan kemiskinan jelata yang terpinggirkan. Dengan apa? Dengan duit dua ribuan? Batinku mengejek semakin beringas dan kejam.

Kuhibur diriku dengan membuka buah-buah rambutan yang kubeli untuk putriku. Baru kusadari ternyata buah itu masih belum matang benar dan kecil-kecil. Padahal, penjualnya menunjukkan buah yang besar-besar dan ranum di bagian atas.

Tadi memang tak lagi kuperhatikan bagaimana si penjual itu mengisi kantongannya. Biasanya kupilih sendiri. Kali ini tidak. Kuyakini dia mengambil di tumpukan bawah yang tersembunyi. Ini juga satu penyakit pedagang kecil.

Lalu kubuka durian montongnya. Kucoba sedikit rasanya. Rasa kecewa dan dongkol langsung menyatu di batinku. Durian itu hambar sekali. Rasanya seperti sedang memakan gumpalan salju. Tawar. Ingin kucari penjualnya, dan kusuruh mencicipi durian jualannya itu.

Mendadak Aku dihinggapi sebuah kesadaran. Begitulah rejeki. Tidak semua untuk kita. Bahkan yang di depan mata pun seringkali bukan untuk kita. Harapannya, rambutan yang ranum dan besar-besar. Realitanya, cukup yang kecil-kecil. Maunya, durian montong yang manis, berkulit tebal, berbiji kecil. Tuhan menakdirkan lain. Cukup yang hambar seperti salju.

Sama dengan rejeki anak lampu merah itu. Dia berharap, ada dermawan yang memberi dia lembaran sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau seratus ribuan. Tapi Allah hanya memberinya dua ribuan. Tuhan memberikan takaran-takaran rejeki yang dengan itu setiap hamba menyerap hikmah darinya.

Rambutan kecil dan durian hambar itu kuterima sebagai hukuman atas kepelitanku berbagi. Aku mencoba menghadirkan kebahagiaan atas sanksi itu. Maafkan Aku, Tuhan. Maafkan Aku, anak kecil di lampu merah. (***)

 

Penulis :  Andi Syahrir

Alumni Pascasarjana UHO & Pemerhati Sosial

HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra