Ini Penyebab Munculnya Awan yang Menyerupai Gelombang Tsunami di Kendari

529
Awan Menyerupai Gelombang Tsunami Terlihat di Langit Kendari
AWAN KUMULONIMBUS - Foto awan comulunimbus yang diabadikan salah seorang warga Desa Nii Tanasa Komar, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Jumat (11/1/2019). (DOKUMENTASI PRIBADI)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari memperkirakan musim penghujan di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) masih akan berlangsung hingga akhir Januari 2019.

Fenomena munculnya awan kumulonimbus yang menyerupai gelombang tsunami pun menjadi perbincangan masyarakat baik secara langsung ataupun melalui media sosial. Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan awan tersebut mucul ?

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kendari, Adi Istiyono menjelaskan bahwa munculnya fenomena alam tersebut di Indonesia tekhusus di Bumi Anoa hari ini, Jumat (11/1/2019) sekitar pukul 15.30 WITA merupakan efek dari ketidakstabilan atmosfer sekitar Sultra.

“Banyak faktor pak, kondisi geografis wilayah Sultra yang berbukit, banyak pantai juga mempengaruhi bentuk awan seperti itu, juga faktor angin yang berhembus mempengaruhi juga,” kata Adi kepada awak ZONASULTRA.COM.

“Ketinggian awan juga antara 9.000 meter hingga 16.000 meter menjulang keatas secara vertikal,” ujarnya.

Lebih lanjut Adi mengungkapkan, saat ini angin barat lebih dominan menuju ke timur dengan membawa masa uap air basah. Uap air tersebut bergerak dari Laut Cina Selatan dan Samudera Pasifik Barat. Kemudian, saat ini juga wilayah utara memasuki musim dingin.

Sehingga dampaknya menjalar ke wilayah Indonesia dan bercampur dengan karakter udara tropis, hangat dan lembab menyebabkan masa udara tersebut termodifikas.

“Hingga akhirnya terkondensasi menjadi awan awan hujan karena lingkungan suatu tempat atmosfernya sangat labil,” jelasnya.

Awan ini mampu bertahan paling lama 1 jam, tapi berpotensi tumbuh kembali awan baru jika kondisi atmosfer di lingkungannya masih labil.

Yang perlu diwaspadai terhadap efenomena ini adalah lalu lintas penerbangan pesawat. Sebab potensi awan tersebut menimbulkan hujan lebat, petir, guntur dan angin kencang.

“Iya kita ada radar cuaca, jadi potensi awan hujan bisa terdeteksi. Kita informasikan lewat group bila ada potensi hujan lebat dan cuaca ekstrim lain seperti ini kepada pihak pengawas penerbangan setempat,” pungkasnya.

Dikutip dari ilmugeografi.com, awan cumulus dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu: Cumulus Congestus, awan ini merupakan jenis awan cumulus yang didasarkan pada rentang ketinggian rendah atau menengah. Awan ini terbentuk dari tahap peralihan antara awan cumulus mediocris dan cumula nimbus.

Proses terjadinya awan jenis ini juga dikarenakan ketidakstabilan di lapisan atmosfer dan adanya konveksi. Karena berasal dari gerakan udara vertikal yang kuat, awan ini biasanya lebih tinggi dan puncaknya bisa mencapai 6 km atau bahkan bisa lebih tinggi lagi apabila di daerah tropis.

Cumulus congetus ini akan berakhir dalam calvus cumola nimbus dalam keadaan ketidakstabilan yang cukup.

Meski pada umumnya terbentuk dari tahap peralihan antara mediocris cumulus, namun awan ini juga dapat terbentuk dari altocumulus castellanus atau stratocumulus castellanus. Awan cumulus congetus ini bisanya menghasilkan hujan dengan instensitas sedang hingga berat.

Cumulus Humilis, yakni awan yang memiliki luas vertikal yang kecil. Awan ini nantinya juga akan berkembang menjadi awan cumulus mediocris atau bisa juga menjadi awan cumulus congetus yang biasanya akan menandakan cuaca buruk dikemudian hari.

Awan ini biasanya terlihat dibawah awan cirrostratus dan terbentuk dari panas matahari yang digunakan untuk pendinginan proses konveksi yang nantinya menyebabkan awan cumulifrom untuk meratakan dan berubah menjadi cumulus humilis.

Dalam hal ini, jika front hangat mulai mendekati maka akan terjadi hujan di sekitar 12 sampai 24 jam kedepan. Awan cumulus humilis ini adalah awan yang dapat mengindikatorkan cuaca.

Cumulus Mediocris, yakni awan yang memiliki karakteristik bentuk seperti bunga kol pada awan cumulus. Pada umumnya awan ini tidak menghasilkan curah hujan dengan intensitas rendah, namun lebih mirip dengan intensitas curah hujan yang dihasilkan oleh awan cumulus congetus dan cumola nimbus.

Awan ini terbentuk ketika terdapat kenaikan awan dari cumulus humilis. Seperti awan cumulus, awan ini juga membutuhkan konveksi sebelum berkembang. Seperti udara yang naik kemudian membentuk awan cumulus yang terus meningkat menjadi terbentuklah awan ini.

Dalam hal peramalan cuaca awan ini biasanya berada dalam front dingin atau dalam kondisi atmosfer yang tidak stabil seperti daerah yang memiliki tekanan rendah. Awan ini bisa berkembang menjadi cumulus congetus sebagai awan membawa hujan, angin atau bahkan petir. Apabila awan ini ada di pagi atau sore hari maka akan terjadi badai di kemudian hari. (A)

 


Reporter: Ilham Surahmin
Editor: Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib