Tampilan Desktop


Nasib Om Jhon Pelatih Tinju Sultra Yang Terabaikan
261 Dibaca

Nasib Om Jhon Pelatih Tinju Sultra Yang Terabaikan TUTUP USIA – Mantan atlet tinju amatir Indonesia, Jhon Ford Waney atau lebih akrab disapa Om Jhon menghembuskan nafas terakhir, Senin, 2 Oktober 2017, sekitar pukul 09.07 Wita di rumah kontrakannya di bilangan By Pass, Kota Kendari. (Foto : Istimewa)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Mantan atlet tinju amatir Indonesia, Jhon Ford Waney atau lebih akrab disapa Om Jhon menghembuskan nafas terakhir, Senin, 2 Oktober 2017, sekitar pukul 09.07 Wita di rumah kontrakannya di bilangan By Pass, Kota Kendari.

Rasa duka tidak hanya menyelimuti keluarga Om Jhon, tapi juga dirasakan keluarga besar tinju amatir, keluarga besar tenis dan Pengurus KONI Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Demikian pula keluarga besar dari Manado, Provinsi Sulawesi Utara tak putus-putusnya berdatangan di rumah saudaranya di Kemaraya, Kota Kendari, tempat mendiang Om Jhon disemayamkan.

Semasa hidup, Om Jhon pernah tercatat sebagai atlet tinju amatir Indonesia sekitar tahun 1978 sampai 1983. Dalam masa itu, Om Jhon beberapa kali mewakili Indonesia ke kejuaraan amatir tinju dunia, kejuaraan tinju Asia Tenggara. Dia sudah pernah ke Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman Barat sebelum Jerman Timur bersatu.

Om Jhon menceritakan pernah bertemu dengan Evander Hollifield, mantan petinju kelas berat Amerika Serikat. Pertemuan itu dalam sebuah kejuaraan dunia di Jerman, saat itu Evander masih dalam kelas tinju amatir.

Setelah tidak menjadi atlet tinju, Om Jhon kelahiran Manado, 22 Juni 1952 ini kemudian menjadi pelatih tinju amatir nasional Indonesia. Salah seorang mantan atlet binaannya adalah Pino Bahari, petinju amatir Indonesia yang pernah mengharumkan nama Indonesia di ring tinju di level Sea Games dan Olimpiade.

Masa menjalani tugas dari KONI pusat sebagai pelatih tinju nasional, Om Jhon semasa hidup pernah bercerita kepada Ny Noni, anak kandungnya bahwa pernah studi banding di Negara Kuba.

Kuba sangat terkenal di dunia, mampu melahirkan petinju amatir terbanyak dan berkualitas. Dikisahkan oleh Om Jhon ketika itu, di Kuba sangat banyak orang muda yang tertarik masuk latihan tinju kelas amatir. Dalam satu tahun, bisa mencapai 1.000 orang atlet tinju yang berlatih di beberapa sasana latihan tinju.

Latihan tersebut terorganisir dengan baik, meskipun tempat latihannya berbeda lokasi. Dari hasil studi banding itulah kemudian dijadikan modal ilmu untuk menambah daya gedor latihan tinju di Indonesia.

Singkat cerita, dalam masa-masa kejayaan di Jakarta sebagai pelatih tinju nasional, Om Jhon bertemu dengan Ali Mazi, Gubernur Sultra pada tahun 2003. Dalam pertemuan itu, Om Jhon diminta ke Kendari untuk menjadi pelatih tinju dalam rangka persiapan mengikuti PON ke XVI tahun 2004 di Sumatera Selatan.

Jhon Ford Waney

Jhon Ford Waney

Informasi yang diperoleh dari Oken, anak mantu mendiang Om Jhon bahwa Gubernur Ali Mazi berjanji akan memberikan rumah secara gratis dan fasilitas lainnya jika Om Jhon bersedia ke Kendari melatih atlet tinju Sultra. Di Kendari kemudian bertemu dengan sahabat lama Duma, mantan atlet tinju amatir Sultra dan Sainal juga mantan atlet tinju yang kemudian dikabarkan menjadi asisten pelatih Om Jhon.

Hingga kemudian Gubernur Ali Mazi non aktif, karena tersangkut kasus hukum Hotel Hilton yang sekarang berubah nama Hotel Sultan di Jakarta, janji tersebut belum terkabulkan. Mantan Ketua Pertina Sultra, ketika itu dijabat oleh Bimo S juga tidak bisa berkutik memperjuangkan janji Ali Mazi.

Pasca Ali Mazi, Gubernur Sultra Nur Alam juga tidak memberikan perhatian terhadap kehidupan Om Jhon. Setelah Om Jhon tidak aktif lagi sebagai pelatih tinju, karena honor yang dijanjikan tak kunjung dibayar, Om Jhon beralih menjadi pelatih tenis lapangan.

Om Jhon bisa menyambung hidup keluarganya, karena keikhlasan orang-orang yang dilatih bermain tenis lapangan, baik di tenis lapangan DPRD Provinsi Sultra maupun di KONI Sultra. Mereka memberikan bantuan uang.

Hingga kemudian kondisi kesehatan Om Jhon menurun karena diserang diabetes dan tumor. Bertahun-tahun penyakit diabetes dibawa, namun tak pernah sedikitpun terlontar rasa sakit apalagi resah. Hingga kemudian Om Jhon hanya bisa terbaring lemas. Hanya mengkonsumsi herbal yang membuat Om Jhon bertahan.

Beberapa atlet tinju dan pelatih, bahkan pengurus tinju Sultra hendak membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Namun Om Jhon selalu menolak, dengan alasan tidak mau membebani pihak lain, termasuk keluarganya sendiri.

Berkat desakan keluarga dan kepedulian para atlet tinju, akhirnya Om Jhon mau dibawa ke Rumah Sakit (RS) Kota Kendari. Namun medis di RS Kota Kendari kemudian merujuk ke RS. Bahteramas milik Pemerintah Provinsi Sultra. Ternyata di RS Bahteramas, Om Jhon hanya mendapat perawatan medis sekitar seminggu lamanya.

Medis RS Bahteramas kemudian meminta keluarga Om Jhon agar Om Jhon dirujuk ke salah satu rumah sakit di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun pertimbangan biaya, akhirnya Om Jhon keluar dari RS Bahteramas dan kembali beristirahat di rumah kontrakannya.

Tuhan berkehendak lain. Om Jhon tidak sempat dirujuk ke Makassar, tapi keburu dipanggil menghadap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga amal ibadah Om Jhon mendapat imbalan yang setimpal. Selamat jalan Om Jhon. Kami anak-anak binaanmu akan mengenang sepanjang hayat. Kami anak-anak binaanmu berharap agar nasib kehidupan para atlet, siapapun dia, mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat serta KONI. (*)

 

Penulis: Rustam Djamaluddin

Tagged with:
HT ZonaSultra

View all contributions by HT ZonaSultra

Similar articles

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promosi & Iklan

0822 9264 2997

0853 4040 4947

redaksizonasultra@gmail.com marketingzonasultra@gmail.com

ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free