iklan zonasultra

Antasaring, dari Desa Menuju Parlemen Butur

Antasaring
Antasaring

ZONASULTRA.COM, BURANGA – Setahun belakangan nama Antasaring kerap mengisi ruang diskusi masyarakat Kabupaten Buton Utara (Butur) karena keputusannya maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPRD Butur. Antasaring bahkan mengundurkan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah dijalaninya selama 17 tahun.

Keputusan pengunduran dirinya ini tentu tidak lahir begitu saja. Prosesnya cukup panjang.

Berangkat dari lahirnya kesadaran politik masyarakat di kampung kelahirannya untuk mengutus perwakilan di legislatif, sosok Antasaring, yang saat itu menjabat Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tomoahi (Epe), Kecamatan Kulisusu, menjadi sorotan.

iklan zonasultra

Dan pada Minggu, 31 Desember 2017, sekitar seratusan warga Desa Tomoahi mengadakan pertemuan di kediaman Antasaring. Para tokoh masyarakat, pemuda, hingga tokoh perempuan hadir melakukan musyawarah dan menyatukan pandangan menjelang kontestasi pilcaleg Butur 2019.

Hasilnya, kesepakatan forum kembali mengerucut ke Antasaring. Lantas, mengapa harus Antasaring? Sedangkan laki-laki kelahiran Epe, 31 Desember 1973 ini masih berstatus ASN juga ketua BPD saat itu.

Salah satu alasannya, kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Kendari angkatan 1994 ini dianggap layak dan memiliki kemampuan mumpuni dalam berparlemen.

AntasaringPengalamannya tidak sedikit. Selain menempati posisi ketua BPD, karir Antasaring semasa menyandang status abdi negara saat itu terbilang mujur. Lulusan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari ini beberapa kali mendapat kesempatan mengasah jiwa kepemimpinannya.

Setelah lulus ASN tahun 2000, beberapa tahun mengajar, Antasaring ‘naik kelas’. Ia diberi kepercayaan menjabat Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Bonegunu tahun 2008-2010. Kemudian, pada 2011-2012 Antasaring kembali diberi amanah mengepalai SMP Satap Pebaoa.

Selanjutnya, tahun 2012-2016, kepemimpinan Antasaring terus diasah dengan menahkodai SMPN 1 Kulisusu Utara, sekolah tempat dirinya menimba ilmu yang saat itu masih bernama SMP Negeri Mataoleo.

Kembali di hasil musyawarah, Antasaring tentu menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepadanya. Namun, mundur dari ASN dan ketua BPD tentu menjadi pilihan sangat dilematis kala itu.

Tantangan ini pun ia sahuti. Antasaring bersedia mengundurkan diri. Dengan harapan, masyarakat yang sudah memberikan kepercayaan itu bersedia mendukung dan mengantarnya merebut satu kursi di DPRD Butur.

“Saya jadi ASN 17 tahun. Tetapi kalau pilihan itu jatuh sama saya, dan kita bersatu, kenapa tidak?,” kata Antasaring ditemui Sabtu (6/4/2019).

Pasca kabar pengunduran dirinya bergulir, teka-teki pencalonannya saat itu mulai mencuri perhatian publik. Ada yang meragukan keseriusannya mencalonkan diri, namun tidak sedikit pula yang mendukung.

Namun berbagai keraguan itu akhirnya terjawab dengan resmi ditandatanganinya surat pengunduran diri sebagai ASN pada Minggu, 13 Mei 2018. Tekadnya sudah bulat. Tampil berkompetisi di pileg 2019 daerah pemilihan (dapil) Kecamatan Kulisusu.

Dukungan Keluarga

Perjuangan Antasaring menuju parlemen Butur tidak sendiri. Restu orang tua yang menjadi pertimbangan terpenting telah ia dapatkan. Begitu pula dukungan sang istri tercinta. Perempuan asal Kabupaten Bombana yang dinikahinya sejak 26 Desember 1999 itu juga dengan tulus memberikan dukungan di setiap langkah perjuangannya.

Selain itu, dukungan lingkaran keluarga pun telah ia kantongi, termasuk para simpatisan dan tim solid, yang tersebar di berbagai desa dan kelurahan di Kecamatan Kulisusu.

Mengenai kendaraan politik, Antasaring melabuhkan pilihan bersama Partai Demokrat. Setelah melalui proses yang cukup panjang, dia ditetapkan sebagai kandidat nomor urut 6.

Pria lulusan SMA Negeri Ereke tahun 1993 itu pun optimis dengan segala usaha yang telah dilakukan selama ini, target merebut satu kursi di parlemen Butur akan tercapai.

“Karena komitmen membangun daerah, maka sangat menarik untuk merealisasikan itu melalui jalur politik,” kata magister jebolan UHO yang baru menyelesaikan studinya tahun 2018 ini. (adv)

 

Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib