iklan zonasultra

Cuaca Buruk, Pedagang Sembako di Kendari Ogah Beli Barang di Sulsel

Cuaca Buruk, Pedagang Sembako di Kendari Ogah Beli Barang di Sulsel
PASAR BARUGA - Suasana para penjual Sembako sedang menjajakkan jualannya di pasar Baruga, Rabu (22/1/2020). (Amal Buchari/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Menjelang perayaan Imlek pada 25 Januari 2020, beberapa bahan pokok (Bapok) di pasar tradisional di Kota Kendari masih mahal pasca gelombang tinggi di wilayah kabupaten Kolaka beberapa pekan lalu. Hal ini dikarenakan sebagian besar bahan pokok disuplai dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dari hasil pantauan awak zonasultra di Pasar Baruga, Rabu (22/1/2020) beberapa harga Bapok masih terbilang mahal. Misalnya bawang merah dan bawang putih naik dari harga Rp38 ribu menjadi Rp40 per kilogramnya.

(Baca Juga : Angpao Laris Manis di Kendari Jelang Imlek)

iklan zonasultra

Nia, salah satu penjual di pasar Baruga mengatakan harga cabe rawit dan tomat naik. Untuk cabe rawit perkilo Rp70 ribu dan jika dijual per liter Rp30 ribu. Sementara tomat Rp12 ribu perkilo sebelumnnya hanya Rp8 ribu.

Faisal salah satu pedagang di pasar baruga menjelaskan bahwa sudah hampir seminggu beberapa penjual di pasar baruga belum berani mendatangkan barang dari Sulsel. Ia menjelaskan alasannya yakni akibat cuaca hujan hingga banjir yang terjadi di beberapa tempat di Sulawesi Selatan (Sulsel)

Sementara harga telur ayam ras diantara Rp40 ribu sampai Rp45 ribu, sebelumnya mencapai Rp55 ribu.

“Bahkan di Sidrap (kandang) saja harga telur naik hingga Rp48 ribu, apalagi kita di sini,” jelas Faisal saat ditemui di pasar Baruga, Rabu (22/1/2020).

(Baca Juga : Gelombang Tinggi, Penyeberangan Feri di Kolaka Ditutup Sementara)

Sambung Faisal, sudah sepekan dirinya belum berani mengambil barang di Sulsel, untuk mensiasati hal itu, ia dan beberapa pedagang lainya mengambil barang hanya di wilayah Kendari saja.

Untuk beberapa Sembako yang dibeli dari pemasok lingkup Kendari, seperti bawang dan telur yang dijual Faisal harganya mengalami penurunan jika dibandingkan saat gelombang tinggi di wilayah Kolaka.

“Ini mau lewat (pengiriman) laut bahaya juga. Ini sudah satu minggu pedagang di sini tidak berani mengambil dari Sulsel,” ungkapnya. (b)

 


Penulis : M3
Editor : Kiki
Loading...

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib