iklan zonasultra

Harga Gula Pasir di Kolaka Melonjak

Harga Beras dan Gula Pasir di Muna Mulai Naik
Ilustrasi

ZONASULTRA.COM, KOLAKA – Harga gula pasir di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami lonjakan. Pantauan di sejumlah swalayan di daerah itu, harga gula curah yang biasanya Rp13.500 per kilogram menjadi Rp15.000 hingga Rp17.500 per kilogram.

Manager Top Swalayan, Anto mengatakan harga gula pasir merek Gulaku dibanderol dengan harga Rp19.000 per kilogram, di mana biasanya hanya Rp15.000 per kilogram. Gula merek PSM dihargai Rp18.000 per kilogram, sedang biasanya Rp14.000 per kilogram.

Sedangkan, untuk gula curah Rp17.500, sebelum langka harganya hanya Rp12.500 – Rp13.500 per kilogram. Kata dia, pihaknya menaikkan harga gula pasir ini sejak akhir Februari 2020. Lonjakan harga ini terjadi karena kurangnya stok gula pasir.

Menurutnya, sangat sulit mempertahankan penjualan dengan harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan pemerintah, karena pengambilan dari distributor yang notabenenya adalah pihak kedua harganya sudah sangat tinggi.

“Penjualan juga kita batasi, kalau ada masyarakat (konsumen) yang membeli kita batasi maksimal dua kilogram,” jelasnya ditemui di Top Swalayan, Selasa (17/3/2020).

(Baca Juga : Stok Gula Pasir di Bulog Kolaka Kosong, Minta Suplai dari Provinsi)

Manager Alaska Swalayan, Ernita mengatakan kenaikan harga gula ini sudah terjadi sejak akhir Januari 2020. Saat ini di tempat tersebut tak memiliki ketersediaan stok gula pasir merek Gulaku. Sementara untuk gula curah, stoknya masih ada hanya sangat terbatas sekali.

“Kita ambil stok dari distributor di Makassar. Tapi mahal memang harganya,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kolaka, Zulkarnain mengatakan belum ada gejolak di pasaran walaupun terjadi kenaikan harga gula pasir.

Pihaknya pun telah melakukan rapat koordinasi terbatas dengan beberapa instansi terkait menyikapi kelangkaan gula ini dan bahan pokok lainnya.

“Teman-teman sudah meninjau ke pasar, tapi belum ada gejolak. Bukan hanya gula, bahan pokoknya lainnya juga menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Masyarakat seharusnya sudah bisa melakukan substitusi atau penggantian terhadap gula menggunakan pemanis lainnya seperti madu. Upaya melakukan operasi pasar, kata dia, belum terlalu mendesak untuk dilaksanakan sekarang ini. (a)

 


Kontributor: Sitti Nurmalasari
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib