iklan zonasultra

Jalan Poros Ereke-Baubau: Panas Berdebu, Hujan Berlumpur

Jalan Poros Ereke-Baubau: Panas Berdebu, Hujan Berlumpur
JALAN BERDEBU - Kondisi jalan berdebu di wilayah Kecamatan Bonegunu, Kabupaten Buton Utara, Kamis (18/10/2018). Jalan tersebut merupakan salah satu ruas jalan poros Ereke-Baubau. (Foto: Muhamad Piko For ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, BURANGA – Kondisi jalan provinsi yang menghubungkan Ereke, Kabupaten Buton Utara (Butur) dan Kota Baubau, Sulawesi Tanggara masih memprihatinkan. Pasalnya, beberapa titik di jalur tersebut tak kunjung dibenahi.

Berdasarkan pantauan media dalam beberapa bulan terakhir, ketika musim hujan, sejumlah ruas jalan menjadi licin dan berlumpur. Pengendara yang melintas harus berhati-hati karena medannya cukup berbahaya.

Begitu pun sebaliknya. Saat musim kemarau datang, jalan rusak yang semula licin dan berlumpur menyisakan gelombang disertai debu dan berlubang. Jalan aspal yang sudah terkupas, juga ikut berdebu.

iklan zonasultra

Pengguna jalan kerap dibuat tidak nyaman karena banyaknya debu di jalanan. Tidak terkecuali warga Butur yang bermukim di pinggir jalan, seperti di wilayah Kecamatan Kulisusu Barat, Bonegunu dan Kambowa juga ikut terdampak jalan berdebu.

Salah seorang warga Kecamatan Bonegunu, sekaligus pengguna jalan, Muhamad Piko mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, kerusakan jalan ini merupakan persoalan yang berlangsung sudah cukup lama, sehingga harus disikapi secara serius.

“Agar masyarakat tidak terganggu dengan jalan, yang kalau siang, kadang cuaca panas, jadi debu juga banyak. Jadi, kalau bisa proses untuk pembuatan jalan, pengerasan, dan masuk di pengaspalan, untuk bisa diupayakan secepatnya,” katanya ditemui Kamis (18/10/2018).

Jalan Poros Ereke-Baubau: Panas Berdebu, Hujan Berlumpur
Kondisi jalan di wilayah Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara yang licin dan berlumpur saat musim hujan, bulan Juni 2018. Pendakian tersebut, merupakan salah satu ruas jalan di poros Ereke-Baubau.(Foto : Hardian Saban For ZONASULTRA.COM).

Sekjen Himpunan Mahasiswa Butur (HIPMA Butur) di Baubau itu juga menjelaskan, perbaikan jalan ini harus menjadi prioritas. Pasalnya, pergerakan arus barang dan jasa yang menjadi salah satu pendorong ekonomi masyarakat, tentu membutuhkan akses transportasi yang lebih baik.

Kerusakan jalan provinsi ini, tidak hanya dijumpai di poros Ereke-Baubau saja. Kondisi serupa juga terjadi di poros Ronta (Butur)-Maligano, Kabupaten Muna. Di mana, sejumlah ruas jalan menjadi licin dan berlumpur, saat musim hujan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Butur Wawan Wardaya tak menampik usulan peningkatan jalan (aspal) sudah diamini Pemprov Sultra. Tahun ini, Rp14 miliar lebih dikucurkan untuk peningkatan jalan (aspal) Lambale-Ereke (DAK), yang melintasi wilayah seputar Mata Rombia Kecamatan Kulisusu, sepanjang 6,67 km dengan lebar 4,5 meter.

Namun hal itu tentu belum sepenuhnya mengurai benang kusut kerusakan jalan di wilayah utara Pulau Buton itu.

Berdasarkan data Dinas PUPR Butur, total ruas jalan pada poros Ereke-Baubau dan Ronta-Maligano yang masih harus diaspal kurang lebih 113 kilometer. Pihaknya juga sudah berulang kali mengusulkan, namun yang direalisasi baru sebagian kecil.

“Sudah lama semua diusulkan, baru Mata Rumbia yang terealisasi,” ungkap Wawan melalui layanan WhatsApp. (B)

 


Reporter: Irsan Rano
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib