iklan zonasultra

iklan zonasultra

Kaleidoskop 2017: Warna-Warni UHO

Kaleidoskop 2017: Warna-Warni UHO

Kaleidoskop 2017: Warna-Warni UHOKaleidoskop 2017

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari terus berdinamika. Sepanjang tahun 2017, berbagai prestasi ditorehkan oleh kampus terbesar di Sulawesi Tenggara (Sultra) ini. Namun, tak sedikit pula polemik yang menyertai setahun perjalanan kampus hijau ini.

Awal tahun 2017 dibuka dengan kesuksesan Drum Corp (DC) UHO meraih juara II umum dalam ajang Grand Prix Marching Band (GPMB) Nasional ke-32.

Dalam GPMB ke-32, ada enam mata lomba yang diperlombakan yakni display, drum battle, solo horn, solo percussion dan brass esemble. DC UHO mengikuti dua mata lomba yaitu display dan drum battle.

Dari mata lomba tersebut, DC UHO berhasil memperoleh juara di empat kategori, yakni juara 2 front ensemble terbaik, juara 2 general effect terbaik, juara 2 visual terbaik, dan juara 2 colorguard.

Prestasi yang ditorehkan DC UHO di ajang nasional ini sekaligus membuat mereka berhasil membawa pulang piala bergilir dari Kemeterian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

DC UHO menduduki posisi ke-2 untuk juara umum GPMB ke-32 dengan jumlah nilai akhir 80,05. Sedangkan juara umum pertama diraih MB Locomotive PT KAI Bandung dengan nilai 83,15.

Kampus Terhijau

UHO Raih Peringkat 21 Sebagai Kampus Terhijau di Indonesia

Melalui acara “The Announcement UI Greenmetric World University Rangkings 2016”, UHO diumumkan berhasil menempati peringkat 21 sebagai Universitas Terhijau (Green Campus) di Indonesia tahun 2016. Arena ini diikuti oleh 360 universitas sedunia. Termasuk juga 29 universitas dari Indonesia.

UI GreenMetric sendiri merupakan inovasi dari Universitas Indonesia (UI) yang telah dikenal luas di dunia internasional, sebagai pemeringkatan perguruan tinggi pertama di dunia berbasis komitmen tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup kampus.

“Rektor UHO berharap melalui UI Green Metric ini, UHO akan semakin berbenah diri dalam menghijaukan kampus, serta ikut berperan penting dalam upaya untuk menanggulangi perubahan iklim,” kata Humas UHO Maulid, Rabu 1 Maret 2017.

PKM Terbaik

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UHO berhasil lolos 25 besar terbaik se-Indonesia dan berhasil menduduki urutan ke-20.

Ini merupakan prestasi membanggakan bagi universitas unggulan di Sulawesi Tenggara tersebut. Pasalnya, untuk lolos ke-25 besar harus bersaing dengan sekitar 400 perguruan tinggi di Indonesia.

PKM UHO Masuk 25 Besar Terbaik se-Indonesia

PKM : Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UHO yang berhasil lolos masuk 25 besar terbaik se-Indonesia dan berhasil menduduki urutan ke-20 (Istimewa)

“Saya kira ini adalah prestasi yang baik dari mahasiswa kita di mana mereka mampu menunjukkan diri bahwa bisa bersaing dengan teman-teman dari perguruan tinggi yang lain,” kata Wakil Rektor III UHO La Ode Ngkoimani, Kamis 16 Maret 2017.

Jumlah PKM mahasiswa UHO sendiri ada 52 judul, dengan penyumbang proposal sebagian besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Fakultas Farmasi, dan Fakultas Kedokteran.

“Memang dari segi jumlah kita menurun, tapi sekarang ini jumlah PTN yang dapat juga makin banyak, bahkan UGM pun juga turun. Tapi saya yakin kualitasnya justru meningkat karena kemarin kita melakukan screening yang lolos dan insyaallah pasti kualitasnya bagus,” ujar Ngkoimani.

Universitas Terbaik
UHO Usul 25 Program Studi Baru Gedung rektorat UHO

Pada Agustus 2017 Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi merilis 100 universitas terbaik di Indonesia. Dan UHO menduduki posisi ke-37.

Prestasi nan membanggakan bagi kampus hijau tersebut pun disambut bahagia oleh seluruh civitas akademika UHO.

Menteri Riset dan Dikti Mohamad Nasir melalui siaran pers, Selasa (22/8/2017) menyatakan, untuk memetakan mutu dan potensi perguruan tinggi di Indonesia, pihaknya melakukan pengelompokkan (klasterisasi) perguruan tinggi.

Setelah diumumkan klaster 1 perguruan tinggi di Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2017 di Puspitek Serpong, pada Senin, 21 Agustus 2017 Kemenristekdikti mengumumkan 100 Besar Perguruan Tinggi non Politeknik dan 25 Besar Perguruan Tinggi Politeknik di Indonesia.

“Daftar klasterisasi perguruan tinggi ini merupakan data resmi dari Kemenristekdikti yang dapat digunakan sebagai informasi valid bagi masyarakat, jangan percaya data hoax yang tidak sesuai dengan daftar yang dikeluarkan kementerian,” ujar Menristekdikti.

Tak Terdaftar di Dikti

Pada Kamis, 26 Januari 2017, puluhan mahasiswa UHO menggelar aksi demonstrasi di depan gedung rektorat dengan membakar ban bekas. Aksi ini sebagai bentuk protes karena nama mereka belum terdaftar di laman forlapdikti.go.id Kemenristekdikti.

Aksi Unjukrasa Mahasiswa UHO Berujung Ricuh DEMO – Plt Rektor UHO Supriadi Rustad, ketika menemui para mahasiswa yang melakukan unjukrasa. Didepan para pengunjukrasa Supriadi berjanji akan menyelesaikan persoalan mahasiswa yang tidak terdaftar di pangkalan data Kemenristek Dikti dalam waktu dua bulan. (RAMADHAN HAFID/ZONASULTRA.COM)

“Dari 54.000 mahasiswa yang terdaftar di UHO, hanya 17.864 mahasiswa yang terdaftar di Kemenristekdikti. Bahkan di Jurusan Antropologi terdapat 500 mahasiswa, tapi hanya 99 mahasiswa yang terdaftar di Kemenristekdikti,” ungkap koordinator aksi saat itu, Ansar.

Dalam upaya menuntaskan data mahasiswa UHO yang tidak terdaftar di Forlapdikti, Pelaksana tugas (Plt) Rektor UHO Supriadi Rustad mendatangkan lima tim dari Kemenristekdikti untuk menyelesaikan data mahasiswa.

Tim dari Kemenristekdikti itu adalah Inspektorat Jenderal Dikti, Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Ditjen Belmawa, Evaluasi Kinerja Akademik (EKA), dan Pusat Data dan Infornasi Pangkalan Data Dikti.

Tim yang diketuai oleh Henry Tambunan, Kepala Subdirektorat Kelembagaan Iptek dan Dikti ini, khusus datang untuk menyelesaikan data mahasiswa pada 21-23 Februari dengan memprioritaskan mahasiswa yang akan mengikuti wisuda terlebih dahulu, yang akan belangsung pada 2-3 Maret 2017.

Supriadi menjelaskan, sistem Forlapdikti adalah sebuah kebijakan di Kemenristekdikti yang merupakan hasil karyanya sendiri saat masih bertugas di Kementerian, dan kini dijadikannya sebagai program kerja selama di UHO.

“Jadi ini bukan masalah, ini hanya program kerja saya, dan menjadikan data-data mahasiswa menjadi teratur dan memudahkan informasi data mahasiswa,” kata Supriadi.

Polemik Uang Pangkal

Penerapan uang pangkal pada penerimaan mahasiswa baru UHO melalui jalur Seleksi Mandiri Masuk Peguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) sempat menjadi perbincangan hangat lantaran nominalnya yang tinggi, serta dasar penerapannya yang dinilai tidak jelas.

Keputusan yang diambil oleh Plt Rektor UHO Supriadi Rustad ini tentu menimbulkan gelombang demo menuntut penghapusan kebijakan tersebut.

Mahasiswa UHO Berdemo, Menuntut Penghapusan Uang Pangkal DEMO MAHASISWA – Puluhan mahasiswa dari berbagai lembaga internal kampus Universitas Halu Oleo (UHO) berunjuk rasa di depan Rektorat, Rabu (12/7/2017). Mahasiswa menuntut penghapusan kebijakan uang pangkal pada penerimaan mahasiswa baru UHO melalui jalur Seleksi Mandiri Masuk Peguruan Tinggi Negeri (SMMPTN). (Muhamad Taslim Dalma/ZONASULTRA.COM)

Fakultas Kedokteran misalnya, uang pangkal dipatok antara Rp150 juta hingga Rp450 juta. Farmasi Rp10 juta hingga Rp120 juta, Kesehatan Masyarakat Rp7,5 juta hingga Rp15,5 juta, dan yang paling sedikit Pendidikan Vokasi dan Ilmu Budaya yang masing-masing dipatok Rp1 juta hingga Rp10 juta.

Supriadi Rustad tentu punya alasan kuat memberlakukan uang pangkal pada mahasiswa baru jalur SMMPTN 2017.

Pertama, UHO berkomitmen memperbaiki kualitas calon mahasiswa dalam seleksi mahasiswa melalui seleksi ketat terhadap prestasi akademik. Kebijakan ini sudah diimplementasikan.

Pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2017 yang 100 persen diterima berdasarkan prestasi. Kebijakan ini tetap akan dipertahankan pada Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) di UHO tahun 2017.

Kedua, untuk menyediakan layanan pendidikan berkualitas, UHO perlu memperbaiki struktur penerimaan baik melalui subsidi APBN, dana hasil kerjasama dan sumbangan pendidikan dari masyarakat.

Postur anggaran UHO tahun 2017 atau tahun sebelumnya terlalu kecil dibandingkan dengan ukuran kampus, jumlah dosen dan mahasiswa. Saat ini nilai pembiayaan kuliah di UHO hanya 1/3 dari standar ideal BAN-PT.

“Uang pangkal bagi mahasiswa yang diterima melalui jalur mandiri (SMMPTN) tahun 2017 merupakan kebijakan yang sah sesuai dengan pasal 8 Permenristekdikti Nomor 39 Tahun 2017, tanggal 22 Mei 2017 tentang BKT dan UKT pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kemristekdikti, yang merupakan salah satu kebijakan untuk memperbaiki postur anggaran,” ungkap Supriadi.

Naiknya postur anggaran akan dialokasi untuk perawatan kampus, layanan akademik, kemahasiswaan, memperbaiki gaji dosen non-PNS dan satuan pengamanan yang nilainya masih di bawah UMR.

Setelah rektor terpilih UHO Muhammad Zamrun resmi dilantik pada Selasa, 18 Juli 2017, ia tetap memberlakukan kebijakan tersebut.

“Uang pangkal tetap diberlakukan, hanya mungkin nanti teknis pelaksaannya kita persoft lagi,” ungkapnya.

Plagiat Rektor

Belum juga resmi dilantik sebagai Rektor UHO periode 2017-2021, Muhammad Zamrun langsung diterpa isu plagiat jurnal ilmiah.

Salah satu karya Zamrun yang diduga plagiat berjudul Microwaves Enhanced Sintering Mechanisms in Alumina Ceramic Sintering Experiments (2016), dimuat di Jurnal Contemporary Engineering Sciences Vol. 9, 2016, No.5, 237-247 Hikari Ltd.

Karya itu diduga menjiplak milik Joel D. Ketz dan Roger D. Biake yang dimuat di jurnal Proceeding of the Microwave Symposium, ACS Spring 1991 Meeting American Ceramic Society dengan judul Microwave Annanced Diffusion (1991).

Isu ini sontak menimbulkan gelombang demo dari mahasiswa dan juga sejumlah guru besar di kampus tersebut.

Diduga Plagiat Karya Ilmiah, Rektor Terpilih UHO Didemo DEMO – Dua aliansi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kendari dan Forum Mahasiswa Anti Plagiat (Format) melakukan aksi demo di Gedung Rektorat UHO atas dugaan plagiat karya ilmiah oleh Rektor UHO Terpilih Muhammad Zamrun, Selasa (4/7/2017). (Ilham Surahmin/ZONASULTRA.COM)

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pun turun tangan dengan membentuk tim independen di bawah Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti untuk menelusuri kebenaran plagiat tersebut.

Hasilnya, Menristekdikti Muhammad Nasir menegaskan tidak ada plagiarisme dalam jurnal milik Muhammad Zamrun.

“Yang sangat penting ialah esensi apa yang ada dalam jurnal itu, dan yang review adalah yang punya reputasi dan independen. Ternyata publikasi yang disampaikan adalah publikasi di skala internasional yaitu fisik review yang ada di Amerika, dan yang menguji plagiarisme itu adalah Dirjen Sumber Daya Iptek,” terang Nasir saat ditemui di Gedung D Kemenristekdikti, Senayan Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2017).

Ali Ghufron Mukti sendiri menyatakan hasil tidak ditemukannya plagiarisme tersebut berdasarkan data pengujian tim independen yang anggotanya memiliki reputasi akademik tinggi terkait dengan bidang yang dipersoalkan.

“Jadi Kemenristek menyimpulkan meskipun ada kesamaan secara theorycal framework atau pendahuluan juga ada kesamaan, tetapi kesimpulannya adalah bahwa bukan termasuk plagiarisme,” terang Ali Ghufron Mukti.

Sekjen Kemenristekdikti Ainun Na’im menambahkan bahwa jurnal milik Muhammad Zamrun menghasilkan temuan baru bagi dunia ilmu pengetahuan.

“Tim revierwer independen tadi juga menemukan bahwa secara substansi penelitian yang diduga ada plagiasi itu menghasilkan temuan baru. Temuan baru yang belum pernah ditemukan peneliti sebelumnya,” terangnya.

Moratorium Fakultas

Melalui surat edaran tentang moratorium serta evaluasi fakultas tertanggal 31 Oktober 2017, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memutuskan menghapus dua fakultas di UHO dan mengembalikannya ke fakultas induk.

Ini Tanggapan Mahasiswa Terkait Moratorium Dua Fakultas di UHOSPANDUK – Spanduk mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) yang menyayangkan dihapusnya dua fakultas di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Selasa (21/11/2017). (Sri Rahayu/ZONASULTRA.COM)

Kedua fakultas tersebut adalah Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) pecahan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian (FTIP) yang merupakan pecahan dari Fakultas Pertanian.

Rektor UHO Muhammad Zamrun mengungkapkan, pada tahun 2015 universitas mengusulkan empat fakultas baru, yakni Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITK), FTIP, dan Fakultas Ilmu Keolahragaan (saat ini belum berdiri).

“Setelah masuk surat hasil evaluasi dari kementerian sekitar tahun 2016, semua fakultas itu disuruh memperbaiki. Namun setelah masuk lagi hasil evaluasi di tahun 2017 yang disuruh memperbaiki hanya FITK saja,” kata Zamrun di Gedung Rektorat, Senin (20/11/2017).

Sedangkan FIA dan FTIP dinyatakan tidak memenuhi syarat berdiri sebagai fakultas. Sehingga kedua fakultas itu akan dikelola kembali oleh fakultas yang telah memiliki izin resmi dari kementerian. FIA akan dikelola oleh FISIP dan FTIP akan dikelola Fakultas Pertanian.

Meskipun kedua fakultas tersebut dilebur dan dikelola kembali oleh fakultas yang telah memiliki izin secara resmi dari Kemenristekdikti, gelar para mahasiswa di dua fakultas tersebut tidak akan berubah.

“Jadi nanti yang jurusan teknologi pangan gelarnya tetaplah sarjana teknologi pangan, dan yang jurusan administrasi tetaplah sarjana administarsi,” kata Zamrun.

Zamrun juga menegaskan jika kedua fakultas yang dimoratorium tersebut bukan fakultas ilegal. Perbedaanya dengan 15 fakultas lainnya yang ada di UHO adalah kedua fakultas tersebut ditanggung oleh universitas, sedang fakultas lainnya ditanggung oleh pemerintah. (A)

 

Penulis : Sri Rahayu
Editor : Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib