iklan zonasultra

Kisah Sumiati, 26 Tahun Jadi Guru Honorer di Baubau

Kisah Sumiati, 26 Tahun Jadi Guru Honorer di Baubau
Sumiati

ZONASULTRA.COM,BAUBAU – Rabu (25/11/2020) pagi, senyum ramah Sumiati (59) menyambut kami. Matanya sempat berkaca-kaca ketika bercerita suka duka menjadi seorang guru honorer. Ia mengaku sangat cinta menjadi seorang guru meski upah tidak seberapa.

Sumiati merupakan pengajar anak usia dini sejak tahun 1986. Total dia telah menjadi guru honorer selama 26 tahun. Dengan gaji awal yang diterima warga Kelurahan Batulo, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara itu, sebesar Rp50 ribu per bulan, dan terakhir gajinya Rp100 ribu per bulan.

Sumiati memutuskan pensiun pada 2017 lalu, dengan alasan dilarang suami karena telah lanjut usia. Selama pengabdian ia telah mengajar pada tiga sekolah berbeda yakni Taman Kanak-Kanak (TK) Tomba, Kelurahan Tomba, Kota Baubau selama 10 tahun; TK Pertiwi di Kelurahan Batulo, Kota Baubau sekira 10 tahun; dan terakhir di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mulia Zan, Kota Baubau.

“Saya senang mengajar karena saya senang dengan anak-anak. Anak-anak suka dengan saya. Mungkin karena saya tiak pernah marah ke anak-anak, jadi anak-anak senang dengan kita,” ujarnya saat di tempat Pos Pelayanan Keluarga Berencana – Kesehatan Terpadu (Posyandu) Kelurahan Batulo.

Menurutnya, mendidik anak-anak harus lemah lembut. Dia menyayangkan ketika ada saja guru yang merasa kesal terhadap anak-anak. Bahkan jika boleh menilai, katanya, itu tidandakan yang keliru.

“Selama mengajar tidak ada anak-anak yang bandel. Biar dia nakal anak-anak selama dididik dengan baik maka dia akan turuti kita. Memang biasanya ada guru yang kejam dengan murid. Biar guru-guru TK begitu juga. Kalau dia nakal anak-anak pokoknya dia kejam, bahkan buang kata-kata yang kasar,” akunya.

Kisah Sumiati, 26 Tahun Jadi Guru Honorer di Baubau
PELAYANAN TERPADU – Sumiati saat memeriksa daftar pengunjung pada Pos Pelayanan Keluarga Berencana – Kesehatan Terpadu (Posyandu) di Kelurahan Batulo, Kota Baubau, Rabu (25/11/2020).

Selama mengobrol, Sumiati tak pernah sekali saja menceritakan keluhannya selama menjadi guru honorer. Sebaliknya, tindakan macam membersihkan kotoran dari anak muridnya di sekolah dianggap sudah menjadi tanggungjawabnya sebagai guru anak usia dini. Jika masih diizinkan, ia ingin terus menjadi guru.

Kesabaran Suamiati dalam mendidik juga disampaikan salah satu muridnya, Kadir, yang kini berprofesi sebagai jurnalis di salah satu televisi nasional. Katanya, Sumiati merupakan sosok yang paling berjasa bagi kehidupannya.

“Tidak terlupakan ketika kami pergi kesekolah besama-sama dengan beliau, dan juga kami pergi sekolah juga sama-sama beliau. Beliau juga selalu menunggu dan memastikan semua siswa pulang ke rumah,” ujarnya lewat pesan WhatsApp.

Sementara itu, Kiki Rezki, yang juga muridnya, mengatakan kalau Sumiati adalah guru yang suaranya paling besar tapi tidak pernah marah. Bahkan ketika sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Rezki masih sering mendengar suara Sumiati jika sedang mengajar.

“Kan SMP Negeri 1 Baubau bersampingan dengan dengan TK tempat mengajar ibu, jadi biar sudah SMP kalau lagi belajar kadang suka terdengar suara bu guru di kelas di SMP,” candanya lewat pesan WhatsApp.

Tidak Lulus CPNS Jalur K2

Sumiati adalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa kali sempat mendaftar sebagai tenaga honorer kategori 2 atau K2, hanya saja tidak pernah lulus.

Menurutnya salah satu penyebab dia tidak pernah lulus K2 karena tidak cukup uang untuk membayar.

Dia menegaskan, hal itu mungkin saja jadi salah satu penyebab kegagalannya atau mungkin juga hanya prasangkanya saja. Katanya, mungkin dia memang tidak kompeten sehingga tidak diluluskan sebagai PNS K2.

“Tidak tercover, karena dulukan harus kita membayar ke sini, ke situ. Tidak pernah diminta uang, hanya saya berpikirnya begitu. Pikiran saja, siapa tahu ada yang bimbing kita ke sini, ke situ, baiknya. Tapi memang pernah dengar kalau mau lulus harus membayar,” ujar Sumiati.

Usaha Sumiati untuk menjadi PNS kategori K2 sirna setelah api menghanguskan rumahnya. Kebakaran saat itu bahkan menghanguskan ijazah SMA juga berkas-berkas keperluan mendaftar K2.

Setelah kebakaran itu, Sumiati, suaminya, dan seorang anaknya, harus menginap di sekolah selama bertahun-tahun. Katanya, pihak sekolah memberi izin tinggal di sana untuk menjaga sekolah.

“Penah tinggal di sekolah, sekalian jaga sekolah. Karena kebaikannya pihak sekolah kita jadi penjaga sekolah,” imbuhnya.

Jual Gorengan Sambil Mengajar

Meski gaji tertinggi hanya Rp100 ribu saja, ada banyak cara untuk mentaktisi agar kebutuhan dapur tercukupi. Salah satu yang dilakukan Sumiati adalah menjual kue dan gorengan.

Dia menjual kue dan gorengan pada pagi hari sebelum berangkat mengajar dan juga di sekolah kepada siswa. Dari sana dia bisa mendapat tambahan penghasilan hingga Rp500 ribu setiap pekan.

“Gaji Rp100 ribu per bulan tidak cukup biayai hidup. Hanya karena keinginan besar saya mau terus jadi guru. Untungnya saya juga bisa mengajar sambil jualan kue di sekolah, itu saja bantuannya jadi mencukupi untuk makan sehari-hari,” ujarnya.

Kata Sumiati, pihak sekolah mengizinkan menjual kue dengan pertimbangan agar anak-anak tidak berkeliaran di luar sekolah untuk jajan. Dengan berjualan kue di sekolah Sumiati juga bisa dekat dengan murid dari kelas yang bukan perwaliannya.

Menurut Sumiati menjadi guru merupakan cita-citanya yang telah terpenuhi. Hingga saat ini dia mengaku masih sangat mencintai profesinya sebagai seorang pendidik.

Sumiati yang sudah pensiun sebagai guru honorer kini menghabiskan waktu sebagai kader Keluarga Berencana. Selain itu ia kerja penjual kue dan gorengan. (*)

 


Kontributor: Risno Mawandili
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib