iklan zonasultra

Momen Natal Dua Kakak Beradik Lansia di Tengah Keterbatasan Fisik

Momen Natal Dua Kakak Beradik Lansia di Tengah Keterbatasan Fisik
Hadiah Natal - Wa Jima, lansia umur 80 tahunan di Desa Lolibu, Kabupaten Buton Tenga, Sulawesi Tenggara, saat menerima hadiah natal dari Suherman yang merupakan Wakil Ketua DPRD setempat, Selasa (22/12/2020). (Risno/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, LABUNGKARI – Keriput di wajahnya bertambah mana kala menjawab pertanyaan. Matanya berkaca saat kembali mengingat kenangan melewatkan momen natal tanpa beribadah di gereja. Tak punya baju baru, menjadi salah satu alasan melewatkan misa natal.

Selasa sore (22/12/2020) itu, senyum kakak beradik lansia berusia 80 tahunan itu menyambut kami. Meski Wa Jima tak dapat lagi melihat, senyumnya tampak ramah. Sementara Wa Saine, sambil tersenyum khas menampakkan gusi tanpa gigi, mempersilakan dengan bahasa lokal di Desa Lolibu, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara.

Lansia yang bermukim di Dusun Walimpano ini mengaku, selama masa tuanya tak pernah merayakan natal dengan beribadah di gereja. Kakak beradik itu minder ke gereja karena tidak punya baju bagus untuk dikenakan, seperti warga lainnya. Selain itu juga, mereka sudah tak mampu untuk bejalan jauh untuk menuju gereja, terlebih Wa Jima yang punya gangguan pengelihatan. Padahal, mereka ingin melewati malam misa di gereja.

“Bagaimana mau pergi di gereja, tidak ada baju baru. Lagi pula saya sudah tidak bisa jalan jauh sudah sakit-sakit,” ujar Wa Saine seperti diterjemahkan Suherman dari bahasa lokal Desa Lakudo ke Bahasa Indonesia.

Kakak beradik itu tinggal berdua saja di rumah panggung semi permanen berkuran 14 meter persegi. Tak ada anak maupun kerabat. Wa Saine pernah menikah tapi suaminya sudah pergi tanpa dikaruniai keturunan. Sementara Wa Jima tak pernah menikah sama sekali.

Kata Suherman yang juga merupakan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buton Tengah, kakak beradik itu sudah bertahun-tahun tinggal berdua. Suherman belum lama ini mendapatkan informasi tentang mereka dari warga setempat. Oleh karena itu dia menyempatkan diri untuk silaturahmi dan memberikan hadiah natal.

“Seadanya saja diberikan untuk hadiah natal. Ada baju baru untuk ke gereja, sembako, dan sedikit uang untuk belanja di hari natal,” ujarnya.

Sehari-Hari Makan Jagung Tumbuk

Momen Natal Dua Kakak Beradik Lansia di Tengah Keterbatasan Fisik
Wa Saine (kiri) bersama Wa Jima (kanan) saat menceritakan kisah masa tua dan keinginan mereka mau beribadah di gereja saat natal.

Kehidupan Wa Saine dan Wa Jima terbilang jauh dari kata layak. Bahkan sehari-hari mereka makan jagung tumbuk yang bahan pokoknya didapatkan dari warga setempat.

Kedua lansia ini juga mendapatkan bantuan dari pemerintah yang diberikan secara periodik untuk menyambung hidup.

Karena Wa Jima mengalami kebutaan pada matanya, maka Wa Sainelah yang mengurusi kebutuhan sehari-hari. Namun demikian dia mengaku sudah tak kuat lagi berjalan, apalagi bekerja mencari nafkah.

“Saya sudah tidak kuat lagi turun dari rumah. Jadi jarang bekerja,” kata Wa Saine.

Menurut dia, kebutuhan sehari-hari yang paling sulit didapatkan adalah air bersih. Kebutuhan lain-lain, untuk mandi dan mencuci pakaian pun demikian. Untungnya mereka sering mendapatkan pertolongan dari warga yang peduli.

“Sering dibantu-bantu kasian. Kadang dibawakan air, jagung juga,” ujar Wa Saine.

Merayakan Natal dengan Damai

Momen Natal Dua Kakak Beradik Lansia di Tengah Keterbatasan Fisik
Rumah panggung Wa Saine dan Wa Jima. Semi permanen yang berukuran kisaran 14 meter persegi.

 

Tiap tahun, Wa Saine dan Wa Jima tak pernah beribadah di gereja karena tak memiliki baju bagus seperti warga lainnya. Tahun ini mereka dapat hadiah baju baru dari Suherman. Namun masalahnya mereka sudah tak sanggup lagi berjalan menuju gereja.

Demikian kedua lansia itu sangat mesyukuri karena natal tahun ini bisa diberi hadiah. Setidaknya mereka punya pakaian baru, persediaan makanan, dan uang tunai untuk berbelanja. Mereka hanya bisa berterima kasih.

Di Desa Lolibu, warga pemeluk agama kristen hanya sekira 90 kepala keluarga saja. Rata-rata tinggal di Dusun Walimpano. Mereka selalu bisa merayakan natal dengan damai tanpa terusik. Begitu juga Wa Saine dan Wa Jima, mereka tak pernah diusik soal toleransi saat menjalankan ibadah di rumah.

“Tidak ada, tidak pernah kita mau diganggu,” jawabnya singkat.

Hal ini juga diakui oleh warga lainya yang kami temui saat mengikuti Suherman membagikan hadiah natal di Dusun Walimpano. Suherman sendiri merupakan muslim, namun sebagai sesama umat manusia dia merasa terpanggil untuk melihat kehidupan minoritas di Desa Lolibu.

“Saya memberikan hadiah agar warga di sini dapat merayakan natal dengan damai, dan berpikir bahwa mereka bisa hidup berdampingan dengan umat mayoritas,” imbuhnya. (SF)

 


Kontributor : Risno Mawandili
Editor: Muhamad Taslim Dalma

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib