iklan zonasultra

iklan zonasultra

Petani Sultra Masih Temui Kendala Kembangkan Kedelai

Petani Sultra Masih Temui Kendala Kembangkan Kedelai
PETANI KEDELAI- Sejumlah peserta pelatihan budidaya kedelai saat melakukan praktek penanaman kedelai di Kantor BP3K Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe dibawah bimbingan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Jumat (28/10/2017). (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

Petani Sultra Masih Temui Kendala Kembangkan Kedelai PETANI KEDELAI – Sejumlah peserta pelatihan budidaya kedelai saat melakukan praktek penanaman kedelai di Kantor BP3K Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe dibawah bimbingan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Jumat (28/10/2017). (ILHAM SURAHMIN/ZONASULTRA.COM)

 

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Petani kedelai di Sulawesi Tenggara (Sultra) masih banyak menemui kendala untuk mengembangkan produktivitas tanaman yang saat ini menjadi perhatian dari Kementerian Pertanian (Kementan).

Ketua Kelompok Tani Dawi-dawi Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Mustamin mengungkapkan bahwa penanaman kedelai saat ini dilakukan di lahan petani secara spot-spot, tidak seperti jenis tanaman lain yang umumnya di hamparan luas.

Artinya kedelai belum sepenuhnya menjadi komoditi utama atau pun primadona petani. Kendala yang sering ditemui petani di lapangan adalah animo petani menanam kedelai masih rendah.

“Masih rendah (animo) mending mereka tanam yang lain dan lebih menghasilkan,” ungkap Mustamin saat mengikuti pelatihan budidaya kedelai oleh Balai Besar Pelatihan Pertanin (BBPP) Batangkaluku, Jumat (27/10/2017).

Hampir seluruh petani yang hadir dalam acara tersebut mengeluhkan terbatasnya sumber benih berkualitas saat akan menanam, tidak adanya jaminan harga saat panen, proses penanganan panen dinilai ribet karena masih dilakukan secara manual dan tanaman sering diserang hama dan penyakit.

Namun, para petani ini juga mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian untuk membantu mengatasi kendala petani dengan adanya bantuan benih, teknologi budidaya berdasarkan GAP (Good Agricultural Practice)/GMP (Good Manufacturing Practice) serta dorongan dan motivasi petani melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh BBPP Batangkaluku di Pondidaha, Kabupaten Konawe.

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi negara berkembang telah mengubah pola konsumsi penduduknya dari pangan penghasil energi menjadi produk penghasil protein. Salah satu jenis produk penghasil protein nabati adalah tanaman kedelai.

Sejalan dengan perkembangan tersebut maka industri pangan berbahan baku kedelai terus meningkat yang disebabkan pertambahan jumlah penduduk yang mengkonsumsi dan kebutuhan bungkil untuk pakan ternak yang juga meningkat.

Berdasarkan data BPS tahun 2017, Indonesia masih harus mengimpor 1,2 juta ton kedelai komoditas kedelai ini untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

Oleh sebab itu jajaran Kementerin Pertanian bertekad untuk mempercepat strategi peningkatan produksi kedelai di seluruh wilayah nusantara dan berupaya mencapai swasembada kedelai sebelum tahun 2020.

Dalam upaya mencapai target swasembada tersebut, Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai langkah-langkah seperti mendorong petani untuk mengoptimalkan penanaman kedelai pada lahan kosong/marginal, menyiapkan kebutuhan benih serta kebutuhan sarana lainnya serta melakukan kegiatan pendampingan/pengawalan usaha budidaya tanaman di lahan usaha tani berdasarkan GAP. (B)

 

Reporter: Ilham Surahmin
Editor: Jumriati

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib