iklan zonasultra

Polemik Penghapusan Bagasi 20 Kg, Hingga Naik Turunnya Harga Tiket Pesawat

Polemik Penghapusan Bagasi 20 Kg, Hingga Naik Turunya Harga Tiket Pesawat
Ilustrasi

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Awal tahun 2019, sejumlah maskapai penerbangan mengeluarkan kebijakan yang membuat penumpang pesawat berfikir dua kali untuk berpergian.

Bermula saat Lion Air Group mengeluarkan surat edaran yang ditujukkan ke seluruh travel agent nomor 001/MKT-JT/1/2019 tanggal 3 Januari 2019 tentang penghapusan bagasi gratis 20 kilogram yang berlaku mulai tanggal 8 Januari 2019. Akan tetapi, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta pihak Lion Air dan Wings Air untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut dan akan berlaku 22 Januari 2019 mendatang.

iklan zonasultra

Belakangan maskapai penerbangan Citilink juga mengeluarkan kebijakan penghapusan bagasi cuma-cuma, melalui surat edaran bernomor Citilink/JKTCGQG-020/I/2019 yang dibuat pada 4 Januari 2019 dan disebutkan pembelian tiket mulai tanggal 12 Januari 2019 tidak berlaku lagi pemberian bebas biaya bagasi (FBA).

Sementara itu, bagi penumpang penerbangan internasional tetap berlaku ketentuan yang ada. Adapun tiket yang sudah dibeli sebelum 12 Januari 2019 masih mendapatkan FBA sebesar 20 kilogram.

Kemudian, pelanggan Citilink yang memiliki keanggotaan Supergreen dan telah mendaftar pada sistem Citilink, tetap mendapat jatah bagasi cuma-cuma 10 kilogram.

General Manager (GM) Lion Kendari, Hendra DJ mengatakan pihaknya baru mendapat informasi mengenai perubahan tersebut, dan semua kebijakan berasal dari managemen perusahaan.

“Ia semua rute domestik lion,” singkat Hendra saat dihubungi redaksi ZONASULTRA.COM melalui sambungan WhatsApp Mesengger, Jumat (4/1/2019)

Sementara pihak Citilink Kendari, Dewa yang dikonfirmasi pada Kamis (10/1/2019) lalu mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu informasi resmi dari pusat.

“Tunggu Agent News ya, karena sampai hari ini Agent News belum dikeluarkan, dan Dan tunggu pers rilis juga,” ungkapnya dengan singkat.

Harga Bagasi Lion Air dan Wings Air Pasca Penghapusan

Polemik Penghapusan Bagasi 20 Kg, Hingga Naik Turunya Harga Tiket Pesawat
Ilustrasi

Dikutip dari Aviatren.com, disebutkan harga atau biaya bagasi Lion Air dan Wings Air terbagi menjadi enam kelompok, yakni mulai bobot 5 kg hingga lebih dari 30 kg. Rinciannya, bagasi 5 Kg harganya Rp180.000, 10 kg senilai Rp360.000;15 Kg Rp540.000;20 kg Rp 720.000;25 kg Rp 900.000; dan 30 kg Rp1.080.000

Sementara dikutip dari Kompas.com, berdasarkan laman resmi Lion Air, untuk tambahan bagasi sebesar 5 kilogram dikenakan biaya Rp155.000, 10 kilogram sebesar Rp310.000, untuk 15 kilogram Rp465.000, untuk 20 kilogram Rp620.000, untuk 25 kilogram Rp755.000 dan untuk 30 kilogram Rp930.000.

Dengan adanya aturan ini, para penumpang hanya digratiskan untuk membawa satu bagasi kabin seberat 7 kilogram dan satu barang pribadi. Ketentuan maksimum ukuran dimensi bagasi kabin adalah 40 cm x 30 cm x 20 cm.

Jika melebihi ketentuan, para penumpang akan dikenai biaya tambahan yang berbeda-beda, sesuai daerah tujuan penumpan yang bersangkuntan. Dari daftar tersebut, maka biaya bagasi per kilonya berkisar Rp30 hingga Rp36 ribu.

Sementara itu, untuk harga bagasi Citilink belum ada pengumuman resmi dari pihak maskapai penerbangan.

Harga Tiket Pesawat Naik

Polemik Penghapusan Bagasi 20 Kg, Hingga Naik Turunya Harga Tiket Pesawat
Ilustrasi

Belum lama kebijakan penghapusan bagasi oleh Lion Air dan Citilink menguak dan menjadi perbincangan media dan masyarakat, diawal tahun 2019 ini harga tiket pesawat pun melambung tinggi dari harga biasanya.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) Samsul Anam mengatakan, penetapan harga tiket pesawat disebabkan oleh empat faktor yakni tarif dasar, pajak, asuransi dan fuel surcharge.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) Samsul Anam
Samsul Anam

Dari empat komponen diatas, yang berpotensi mendorong kenaikan harganya hanya Fuel Surcharge atau biaya bahan bakar berdasarkan jarak tempuh.

“Tapi jika kita cermati harga Avtur relatif masih stabil,” kata Samsul Anam kepada zonasultra, Minggu (14/11/2019) melalui WhatsApp Mesengger.

Menurutnya, untuk bahan bakar avtur yang dibeli oleh maskapai dilakukan berdasarkan kontrak pembelian dan biasanya per semester atau triwulan. Sehingga, kenaikan harga ini menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan.

“Dugaan saya, semua maskapai menerapkan Tarif Batas Atas (TBA), mengikuti peak season pada akhir tahun dan belum menyesuaikan hingga hari ini,” jelas Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ini.

Kenyatannya, saat ini tarif dasar tidak ada kenaikan, baik batas bawah maupun atas. Kemudian pajak juga tidak mengalami kenaikan 10 persen dari tarif dasar serta asuransi juga tidak serta harga avtur stabil.

“Kalau masih mahal, maka tarif peswat yang mahal ini bisa mendorong inflasi kita di Januari ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Halu Oleo (UHO) Syamsir Nur menilai, kondisi penerbangan Indonesia saat ini sudah tidak sehat dan sangat merugikan konsumen. Dimana harga tiket cenderung lebih mahal, jika dibandingkan penerbangan luar negeri dengan jarak tempuh yang sama.

pengamat ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) Syamsir Nur
Syamsir Nur

“Belum lagi aspek keselamatan pengguna masih kurang diperhatikan. Dalam konteks penghapusan bagasi gratis bagi penumpang, “memaksa” konsumen memberikan subsidi kepada korporasi penerbangan asing yang beroperasi di Indonesia,” jelas Syamsir.

Menurut Dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) ini, ada cerminan ketidakadilan bagi konsumen. Ini salah satu dampak dari kebijakan pemerintah yang hanya melihat kelas penerbangan tanpa memperhatikan besaran tarif bisnis penerbangan ke konsumen, dimana Lion dan Citilink sebagai pesawat kelas kategori Low Cost Carrier (LCC) melalui Permenhub Nomor 14 tahun 2016.

“Ikutnya Citilink dalam kebijakan Lion menunjukkan bahwa ada kolusi diam-diam menuju pada kondisi kartel di bisnis penerbangan Indonesia. Artinya, pasar penerbangan yang tidak kompetitif menyebabkan konsumen yang merasakan dampak yang tidak sedikit,” pungkasnya.

Harga Tiket untuk Kendari menuju Kota Besar

Polemik Penghapusan Bagasi 20 Kg, Hingga Naik Turunya Harga Tiket Pesawat
Harga tiket pesawat kendari menuju beberapa kota besar (Sumber: Traveloka)

Hasil penelusuran harga tiket pesawat oleh awak ZONASULTRA.COM untuk rute Kota Kendari menuju sejumah kota besar pada tanggal 16 Januari 2019 mendapatkan rincian berikut.

Harga tiket dari Kendari- Makassar via Lion Air sebear Rp508.000, Sriwijaya Rp541 ribu, Citilink Rp640.000, Batik Air Rp794 ribu. Sementara pesawat Wings Air untuk rute Kendari-Baubau- Makassar dijual Rp1,4 juta.

Tujuan Kendari-Jakarta Lion Air Rp1,6 juta, Citilink Rp1,9 juta transit Makassar, Sriwijaya Rp2 juta transit Makassar, Batik Air Rp2,2 juta serta penebangan Lion Air ganti pesawat Garuda Indonesia Rp3,9 juta.

Kendari- Surabaya Lion Air Rp1,1 juta, Batik Air Rp1,5 juta, Citilink Rp1,7 juta dan Citilink +Garuda Indonesia Rp4,3 juta transit Makassar dan Jakarta.

Syamsir Nur menilai, dampak jangka pendek terhadap kebijakan penghapusan bagasi dan naiknya harag tiket seperti permintaan akan turun, sementara supply yang meningkat (excess supply). Dampak jangka panjang tentu akan mengganggu atau menurunkan gairah perekonomian baik di tingkat nasional maupun di daerah.

“Misalnya kita sedang semangatnya mempromosikan sektor pariwisata di beberapa daerah termasuk Sultra, sementara biaya perjalanan berupa harga tiket peswat domestik untuk menuju destinasi wisata menjadi mahal,” jelasnya.

INACA Turunkan Tarif Tiket Penerbangan Hingga 60 Persen

Polemik Penghapusan Bagasi 20 Kg, Hingga Naik Turunya Harga Tiket Pesawat
Maskapai Nasional Sepakat Turunkan Tarif Tiket Pesawat (Foto: INACA)

Setelah banyak keluhan masyarakat, Seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) telah menurunkan tarif tiket penerbangan sejak Jumat 11 Januari 2019, pada beberapa rute penerbangan seperti Jakarta-Denpasar, Jakarta-Jogja, Jakarta Surabaya, Bandung-Denpasar.

Kemudian akan dilanjutkan dengan rute penerbangan domestik lainnya menyusul keprihatinan masyarakat atas tingginya harga tiket dan adanya komitmen positif atas penurunan biaya kebandaraan dan navigasi dari para stakeholder seperti AP1, AP 2, AirNav dan Pertamina.

Hal tersebut diungkapkan Ari Askhara, Ketua Umum INACA dalam press conference INACA, pasca melapor ke Kementerian Perhubungan RI di Jakarta, (13/1/2018).

“Di tengah kesulitan para maskapai, kami tetap paham dan mengerti akan kebutuhan masyarakat dan kami memastikan komitmen memperkuat akses masyarakat terhadap layanan penerbangan nasional serta keberlangsungan industri penerbangan nasional tetap terjaga,” jelas Ari Askhara.

Ari Askhara menambahkan seluruh anggota INACA, serta seluruh jajaran terkait pemangku kepentingan layanan penerbangan nasional seperti pengelola bandara, badan navigasi, hingga pemangku kepentingan lainnya telah melaksanakan pembahasan intensif terkait penurunan struktur biaya pendukung layanan kebandara udara dan navigasi agar dapat selaras dengan mekanisme pasar industri penerbangan dan daya beli masyarakat.

Melalui penyesuaian struktur biaya layanan penerbangan tersebut khususnya pada aspek biaya pendukung layanan kebandarudaraan dan biaya navigasi, maskapai dapat melakukan penyesuaian cost structure operasional layanan penerbangan sehingga dapat menurunkan tarif tiket penerbangan.

Lebih lanjut melalui penurunan tarif tiket penerbangan tersebut, INACA berharap akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara dapat semakin terbuka luas.

Selain itu, kami harapkan komitmen bersama ini dapat meningkatkan sektor perekonomian nasional mengingat layanan transportasi udara memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan infrastruktur perekonomian.

INACA pun memastikan penurunan tarif tiket penerbangan tersebut sesuai dengan koridor regulasi dan aturan tata kelola industri penerbangan nasional dan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan dengan tetap meningkatkan pengawasan atas safety dan maintenance seluruh pesawat. (*)

 


Reporter : Ilham Surahmin
Editor : Abdul Saban

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib