iklan zonasultra

Strategi Jitu Pemda Konawe Jaga Stabilitas Ekonomi dan Pangan di Masa Pandemi

ZONASULTRA.COM, UNAAHA – Wabah virus corona atau covid-19 yang terjadi di seluruh Indonesia menyebabkan turunnya pendapatan masyarakat akibat kebijakan pembatasan aktivitas guna mencegah penularan wabah virus.

Pandemi covid-19 juga dapat mengancam krisis pangan di beberapa daerah, sebab produksi pangan petani sangat terbatas karena berkurangnya aktivitas para petani akibat ketakutan akan tertular virus. Bahkan organisasi panagn dunia seperti Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut setidaknya ada 27 Negara di Dunia yang mengalami krisis pangan akibat wabah virus corona.

Menyadari hal itu, beberapa daerah di Indonesia bahkan harus mengimpor bahan pangan dari negara lain, hal ini pula merupakan kebijakan pemerintah pusat. Namun tidak untuk Kabupaten Konawe, Sulawesi Tengara (Sultra). Daerah ini justru menjadi tumpuan pangan di Sultra dengan produksi beras terbesar dan juga penyuplai sayuran serta buah di beberapa daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Konawe memiliki luas sawah produktif sebesar 44.665 hektar yang tersebar di hampir semua wilayah Kecamatan. Dengan jumlah luasan tersebut, petani Konawe diperkirakan dapat menghasilkan beras sebanyak 200 ribu ton dalam sekali panen.

Sementara untuk daerah penyuplai sayuran dan buah, setidaknya ada empat Kecamatan dengan produksi sayuran dan buah yang cukup besar, yakni Kecamatan Pondidaha, Wonggeduku, Wonggeduku Barat, dan Kecamatan Padangguni.

Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara mengatakan, untuk meningkatkan produksi pangan, pemerintah menjadikan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai program utama, seperti program sejuta ton beras, sejuta sapi, dan seribu kolam (empang ikan air tawar).

“Selain itu kita juga punya program daerah percontohan mandiri pangan, disana kita mengajak ibu-ibu untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya menjadi kebun sayur yang akan dikonsumsi setiap hari, selain higenis, ini juga bisa membantu menekan pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya.

Strategi Jitu Pemda Konawe Jaga Stabilitas Ekonomi dan Pangan di Masa Pandemi

Gusli menyebut, tiga program unggulan Pemda Konawe yang terus digalakkan terbilang sukses menjauhkan daerahnya dari ancaman krisis pangan di masa pandemi virus corona atau covid-19. Bahkan dengan adanya program daerah mandiri pangan ini, masyarakat tidak lagi rutin beraktivitas di luar hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Daya Beli Masyarakat Menurun Selama Pandemi

Meski sukses menjaga pangan Konawe, Pemda Konawe menyadari dampak pandemi virus corona telah menurunkan daya beli masyarakat yang mengakibatkan statistik ekonomi Konawe menurun. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya angka pengangguran, dan beberapa indikator lain. Di fase ini, sektor Usaha Kecil Menegah (UKM) adalah penerima dampak terbesar.

“Namun kita masih bisa bernafas legah, sebab dari data yang ada Konawe hanya turun beberapa digit saja dibandingkan dengan daerah lain. Bahkan posisi kita masih diatas angka nasional,” imbuhnya.

Fenomena ini, kata Gusli, menjadi suplemen pemerintah untuk terus berupaya kembali meningkatkan daya beli masyarakat dengan memberikan sumber pendapatan baru, seperti pembukaan lapangan kerja dan pengalokasian bantuan sosial bagi masyarakat kurang mampu.

Di tengah upaya pemerintah daerah dalam mengatasi menurunnya pendapatan masyarakat, dua perusahaan fero nikel yakni PT Virtue Dragon Nikel Industri (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS) yang beroperasi di Kecamatan Morosi, mengumumkan akan membuka lowongan kerja secara besar-besaran, hal ini berhasil dimanfaatkan Pemda Konawe untuk mengambil alih proses perekrutan.

Alasan dari pengambilalihan proses perekrutan ini adalah untuk memberikan peluang yang sama kepada seluruh masyarakat Konawe untuk bisa bekerja di dua perusahaan itu. Selain itu, masyarakat Konawe dapat menjadi tenaga kerja prioritas dengan melakukan zonasi wilayah dengan kuota masing-masing.

Strategi Jitu Pemda Konawe Jaga Stabilitas Ekonomi dan Pangan di Masa Pandemi
Wakil Bupati Konawe saat memantau proses perekrutan Tenaga Kerja beberapa waktu lalu.

Pengambilalihan proses perekrutan ini dikuatkan dengan adanya Memorandum Of Understanding (MoU), antara pihak perusahaan dengan Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara.

“Kenapa kita berusaha untuk mengambil alih, tujuannya adalah untuk memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat Konawe, dengan begitu kita telah mengurangi angka pengangguran dan juga kita telah mengurangi jumlah masyarakat yang rentan miskin. Kita harapkan dengan banyaknya masyarakat Konawe yang bekerja di kedua perusahaan ini, daya beli masyarakat bisa kembali normal,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Konawe, Muhammad Akbar menyebutkan, selama masa pandemi virus corona produksi pangan petani konawe memang menurun, namun penurunan itu tidak mempengaruhi jumlah kebutuhan masyarakat. Bahkan dari penurunan ini, Pemda Konawe masih bisa menjadi penyuplai bahan pangan untuk daerah lain.

Dukung Diversifikasi Pangan, DKP Konawe Galakan Sehari Tanpa Beras
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Konawe, Muhammad Akbar

Menurutnya, Konawe tidak hanya unggul dalam hal produksi beras saja, tetapi daerah ini juga diketahui memiliki komoditas pangan lokal yang cukup besar, seperti Sagu, Umbi-umbian, Jagung, dan bahan pangan lokal lainnya, sehinga pandemi virus corona tidak berdampak signifikan pada sektor pangan masyarakat.

“Kalau soal dampak pandemi, alhamndulillah Konawe masih aman untuk sektor pangan kita, bahkan Konawe sampai saat ini masih menjadi penyumplai pangan untuk darah lain,” terang Akbar.

Salah satu warga BTN Wawonggole, Kelurahan Wawonggole, Kecamatan Unaaha, Konawe yang menjadi daerah percontohan mandiri pangan, Tati menyebut sejak adanya program mandiri pangan yang di kompleks tempat tinggalnya itu, pengeluaran untuk pangan sudah berkuurang.

“Bagus program ini. Sebab kami warga di Wawonggole sini khususnya di komplek BTN tidak banyak biaya tambahan lagi kalau hanya soal pangan sehari-hari, karena sayur dengan ikan itu ada di pekarangan kami,” tutur ibu dua anak itu.

Kata dia, sebelum adanya program mandiri pangan, ia harus menyisikan sebagai uang untuk kebutuhan lauk pauk keluarga, namun saat ini biaya tersebut telah dihapus. Alhasil uang yang dulunya ia sisihkan untuk kebutuhan sayuran kini bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

Tati mengaku tidak begitu merasakan dampak pandemi virus corona untuk kebutuhan pangan, selain telah tersedia di pekarangan rumahnya, ketersediaan beras dan sagu di beberapa tempat pun sangat banyak. Sehingga memudahakan setiap masyarakat yang membutuhkannya.

“Ya paling aktifitas kita saja yang dibatasi oleh pemerintah, tetapi untuk kebutuhan pangan kita alhamndulillah tidak ada kesulitan. kalau soal dampak, memang pendapatan kita juga berkurang, tetapi ini kan juga dirasakan oleh semua, bukan hanya disini saja tetapi di daerah lain juga begitu,” tutupnya. (a)

 


Kontributor : Restu Tebara
Editor : Kiki

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib