iklan zonasultra

Survei Internal Arus Muda Koltim : SBM Unggul 60,2%, TH-BH hanya 35%

Survei Internal Arus Muda Koltim : SBM Unggul 60,2%, TH-BH hanya 35%
Survei Internal Relawan Arus Muda Kolaka Timur

ZONASULTRA.COM, JAKARTA – Salah satu tim relawan pasangan Samsul Bahri – Andi Merya, Arus Muda Kolaka Timur (Koltim) melakukan survei internal untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 9 Desember nanti. Ketua Arus Muda Koltim, Subiran Paridamos (aktivis Koltim di Jakarta) didampingi Jusamin (koordinator Pemenangan Arus Muda) mengungkapkan bahwa metodologi penentuan sampel surveinya menggunakan Multistage Random Sampling atau teknik penarikan sampel acak bertingkat.

Jumlah sampel ditentukan sebesar 1330 responden, dengan margin of error 3,5-5 %, pada tingkat kepercayaan 95%. Responden terpilih diwawancarai secara tatap muka dan via WhatsApp oleh pewawancara yang telah terlatih.

Iklan Zonasultra

Satu pewawancara bertugas untuk satu desa/kelurahan yang terdiri dari 10 responden. Bahkan ada Quality control secara random sebanyak 20% dari total sampel dilakukan oleh supervisor dengan kembali mendatangi atau melakukan cek and ricek responden terpilih (spot check), yang mana dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.

Hasil survai Arus Muda Kolaka Timur menemukan bahwa pasangan nomor 2 yakni Samsul Bahri – Andi Merya (SBM) unggul jauh dalam ekseptabilitas dan elektabilitas. Subiran menerangkan bahwa untuk popularitas kandidat, baik pasangan Nomor Urut 1 maupun nomor urut 2 sama-sama dikenal dan ditahu responden, yakni 97,3% responden mengenal dan mengetahui sosok pasangan nomor urut 1 Toni Herbiasyah – Baharuddin (TH-BH), sementara ada 96,5% responden yang mengetahui dan mengenali pasangan nomor urut 2, yakni SBM.

“Namun tingkat ketersukaan, kubuh penantang SBM meraup suara yang lebih tinggi yakni 60,2 % selisih 25.5% dengan pasangan petahana yang hanya meraup suara 35%” ungkap Subiran didampingi Jusamin dalam keterangan persnya, di Jakarta, Jumat (20/11/2020).

Survei yang dilakukan tim Arus Muda di 133 desa dan 12 Kecamatan yang pengumpulan data lapangan dengan wawancara langsung dan via WhatsApp dilakukan pada 1-10 November serta QC tanggal 12-15 November 2020 ini juga menemukan dari segi elektabilitas pasangan calon, kubu penantang SBM pasangan nomor urut 2 mendapatkan 60,2 % suara responden, unggul jauh dari pasangan nomor urut 1 yang hanya mendapatkan 35% suara. Sedangkan ada 4.8 % masih merahasiakan pilihannya dan tidak menjawab.

“Selisihnya 25.5%, SBM masih unggul karena memanfaatkan isu 00, jalanan, etika, program, gaya ksederhanaan dan masih banyak lagi. Selebihnya memang alasan 60,2% responden itu adalah ingin perubahan”, jelasnya.

Faktor lain yang membuat responden menyukai, mempercayai dan mau memilih SBM itu selain masalah isu, juga karena mesin politik partai juga sangat maksimal dalam bekerja. PDIP, Gerindra, Demokrat dan PAN sangat total dalam mengawal kampanye SBM, bahkan terlibat aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan taktis dilapangan. Itupun belum tambahan 6 partai lain.

“Selain itu SBM didukung oleh puluhan relawan yang sangat militan. Belum lagi memang gaya kampanye dan karakter serta kepribadian SBM dinilai lebih sederhana dan merakyat dibanding Pak TH-BH yang dinilai elitis” papar Magister Ilmu Komunikasi Politik ini.

Survei ini juga menunjukkan SBM unggul telak di 9 Kecamatan, yakni Aere, Dangia, Lambandia, Poli-Polia, Lalolae, Mowewe, Tinondo, Uluuiwoi, Ueesi. Menang tipis di 2 Kecamatan yakni Ladongi dan Loea. dan kalah tipis di Kec Tirawuta.

Subiran juga memaparkan bahwa preferensi pemilih terbagi dalam 5 klaster karakter yakni Pemilih Patron Klain (Atasan-Bawahan, Orang Tua-Anak, Tokoh – Pengikut) = 10 %, Pemilih Emosional (Ikatan Keluarga, Ikatan Daerah, Ikatan Suku, Ikatan Agama, Ikatan dll) = 20%. Pemilih Transaksional (Ikatan Bisnis, Ikatan Materi, Ikatan Profit, Ikatan Barganing Posisi, dll) = 50 %, Pemilih Rasional = Kelas Akademisi = 5%, Pemilih hati nurani = Kelompok masyarakat termarginalkan, kelompok minoritas, kelompok = 15%.

Menurutnya sebagian besar pemilih TH-BH adalah aparat pemerintahan, honorer, kelompok masyarakat tertentu penerima bantuan di 7 sektor, kontraktor, dan konstituen partai pendukungnya, jumlahnya hanya mencapai 35%. Sedangkan SBM selain didukung konstituen partai, relawan yang loyal, juga pemilih hati nurani yang 15%, serta masyarakat kelas menengah ke bawah yang menginginkan perubahan, sehingga bisa mencapai 60,2%.

Kendati hasil surveinya unggul namun Subiran mengingatkan kubu SBM agar tetap waspada karena jika penyelesaian akhir tidak bagus, justru akan terbalik.

“Meskipun perbedaannya jauh, tapi kan margin errornya 5 persen, itu belum silent community yg 30%, dan yg paling berbahaya jika pendukung SBM tidak datang ke TPS (partisipasi politik 84%). Artinya Semakin rendah tingkat partisipasi Politik warga ke TPS, semakin merugikan SBM,” terangnya.

Ditanya tentang hasil survei lain yang memenangkan Paslon TH-BH, Subiran menuturkan jika dirinya sangat paham pola kerja survei. Ia menegaskan bukti hasil survei akan terlihat di akhir.

 


Editor: Rizki Arifiani

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib