iklan zonasultra

Tingkatkan Kapasitas, IDI Bekali Jurnalis Terkait Isu Kesehatan

Tingkatkan Kapasitas, IDI Bekali Jurnalis Terkait Isu Kesehatan
DISKUSI - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Sulawesi Tenggara bersama sejumlah jurnalis berdiskusi terkait isu-isu kesehatan dan penyakit berbahaya. Diskusi digelar di Sekret AJI Kendari Kamis (12/12/2019). (Rosnia/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM, KENDARI – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulawesi Tenggara menggelar diskusi dengan para jurnalis dalam memahami isu- isu kesehatan. Diskusi ini dianggap penting guna meningkatkan pemahaman para pewarta dalam melakukan peliputan mengenai kesehatan.

Diskusi yang diselenggarakan di Sekretariat AJI Kendari, Kamis (12/12) malam itu dihadiri Dokter Spesialis Ahli Bedah Rumah Sakit Umum Bahteramas, dr La Ode Rabiul Awal Sp.B KBD yang juga Ketua IDI Wilayah Sultra dan Ketua IDI Kota Kendari dr Algazali Amirullah.

Iklan Zonasultra

Ketua AJI Kendari, Zainal A Ishaq menjelaskan, latar belakang diadakannya kegiatan itu bermula dari pemberitaan sejumlah media di Kendari mengenai Evan (42) pasien penderita kanker usus besar. Akibat penyakitnya itu usus warga Desa Pewutaan Kecamatan Angata Kabupaten Konsel itu dikeluarkan ke dinding perut agar kotoran di dalam perut bisa keluar.

Zainal menyebut liputan para jurnalis mengenai masalah tersebut terlalu bombastis. Bahkan dia menganggap beberapa jurnalis tidak disiplin melakukan verifikasi mengenai pasien tersebut.

Kondisi ini, kata dia, tentu akan merugikan dokter yang menangani pasien tersebut dan bisa pula berdampak buruk terhadap pasien sendiri.

(Baca Juga : Usus Masih Menggantung, RS Bahteramas Pulangkan Pasien Usai Operasi)

“Olehnya itu, kami menggelar diskusi ini guna meningkatkan kapasitas para jurnalis dalam menurunkan laporan tentang isu-isu kesehatan. Kami menyadari pemahaman jurnalis tentang isu kesehatan masih kurang,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, dr Rabiul Awal yang menangani pasien bernama Evan mengatakan polemik mengenai penanganan warga asal Kecamatan Angata itu karena minimnya pengetahuan perihal penyakit ini dan penangananya secara medis. Sehingga membekali para jurnalis dengan pengetahuan yang memadai perihal penyakit bagian dari diseminasi informasi pada masyarakat terkait apa itu kanker usus besar, penyebab hingga bagaimana penangananya dari sisi medis.

“Kami tidak akan baper dengan pemberitaan itu . Sebab banyaknya sorotan tersebut karena kurangnya pemahaman kita terhadap masalah kanker usus besar,” bebernya.

(Baca Juga : RS Bahteramas: Usus Menggantung untuk Keselamatan Jiwa Pasien)

Menurutnya, pasien penderita penyakit kanker usus besar. Pasien ini pun sebelumnya sempat menjalani perawatan di Makassar hingga terakhir berobat di Rumah Sakit Umum Bahteramas.

Rabiul menyebut tindakan mengeluarkan usus ke dinding perut atau biasa disebut kolostomi perlu diambil untuk menyelamatkan nyawa pasien. Sebab, usus yang bersangkutan tidak mampu lagi mengeluarkan kotoran ke anus.

“Makanya kami mengambil tindakan yang disebut kolostomi sebagai upaya menyelamatkan pasien itu. Jadi kami keluarkan ususnya ke dinding perut agar kotoran di dalam perut pasien bisa keluar. Dan ini satu-satunya jalan agar bisa menyelamatkan pasien tersebut,” ungkapnya.

Selain menjelaskan mengenai penanganan pasien Evan, dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum Bahteramas ini juga memaparkan materi mengenai kanker usus besar atau kanker kolorektal kepada peserta diskusi. Hingga kini, katanya, penyebab pasti manusia terkena kanker usus besar belum diketahui. Namun ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya penyakit ini di tubuh manusia. Salah satunya karena faktor keturunan.

(Baca Juga : Plt Dirut Bahteramas Sebut Pemulangan Pasien Tumor Usus Sesuai Aturan BPJS)

Menurutnya, untuk mencegah hal itu terjadi maka pola hidup sehat harus diutamakan dengan banyak mengonsumsi buah dan sayuran yang mengandung serat. Di Indonesia kanker kolorektal merupakan berada di urutan ke lima penyebab kematian di Indonesia.

Adapun dari sisi gender berada di urutan ketiga yang menyebabkan kematian pada wanita di dunia setelah kanker paru dan kanker payudara.

Selain itu, kanker ini juga berada di urutan ketiga yang menyebabkan kematian pada pria di dunia setelah kanker paru dan prostat. Penyakit ini sendiri bisa dideteksi secara dini melalui beberapa tindakan di antaranya pemeriksaan darah samar dalam feses dan colok dubur.

Sementara itu, Ketua IDI Kota Kendari, dr Algazali Amirullah meminta para jurnalis agar hati-hati dalam memberitakan isu-isu kesehatan. Bahkan ia berharap supaya para jurnalis di Kota Kendari disiplin dalam melakukan verifikasi sebelum menurunkan laporan tentang kesehatan. Dia pun menyinggung pemberitaan mengenai Evan.

Menurutnya kurang pahamnya jurnalis dalam memberitakan penyakit yang menimpa Evan mengakibatkan munculnya polemik di tengah-tengah masyarakat. Padahal, tindakan medis yang dilakukan sudah tepat demk menyelamatkan nyawa pasien.

Olehnya itu, dia meminta para jurnalis agar selalu meningkatkan kapasitasnya mengenai isu-isu kesehatan. Sebab pemberitaan yang terlalu bombastis mengenai Evan sangat merugikan dokter yang menanganinya. “ Untungnya, dokter yang menangani pasien itu tidak tertekan secara psikologis. Kalau dokter tertekan secara psikologis, sudah tentu akan mempengaruhi tindakan dokter dalam menangani pasien-pasien yang lain. Ini yang harus dipahami oleh teman-teman jurnalis,” pungkasnya.

 


Penulis : Rosnia

Komentar

Please enter your comment!
Masukkan Nama *Wajib